Etiologi Kanker Lidah
Etiologi kanker lidah bersifat multifaktorial dengan melibatkan paparan karsinogen eksternal, faktor mekanis, hingga kerentanan genetik individu. Faktor risiko utama mencakup konsumsi tembakau dan alkohol yang berlebihan, infeksi human papillomavirus (HPV), dan paparan radiasi.[8,9]
Etiologi
Etiologi kanker lidah bersifat multifaktorial dan melibatkan interaksi antara paparan karsinogen lingkungan, infeksi virus, serta perubahan genetik dan molekuler pada sel epitel. Paparan kronis terhadap tembakau dan alkohol memicu stres oksidatif serta pembentukan DNA adducts yang menyebabkan mutasi gen supresor tumor seperti TP53, disertai gangguan pada gen pengatur siklus sel (misalnya CDKN2A) dan aktivasi jalur proliferatif.
Sementara itu, infeksi HPV risiko tinggi dapat menginduksi karsinogenesis melalui onkoprotein E6 dan E7 yang menonaktifkan protein p53 dan pRb, sehingga mengakibatkan proliferasi sel yang tidak terkontrol, akumulasi kerusakan genetik, dan progresi menuju karsinoma invasif dengan potensi metastasis limfatik servikal.[4-7]
Faktor Risiko
Faktor risiko utama karsinoma sel skuamosa (KSS) pada kanker lidah adalah konsumsi tembakau dan alkohol yang berlebihan. Faktor lain mencakup infeksi HPV.[8,9]
Konsumsi Tembakau dan Alkohol
Konsumsi tembakau dalam berbagai bentuk (rokok, cerutu, tembakau kunyah, hingga produk tembakau tanpa asap) berbahaya karena tembakau mengandung berbagai zat karsinogen, seperti nitrosamin, benzopiren, hidrokarbon aromatik polisiklik yang dapat merusak DNA secara langsung.
Efek ini akan meningkat secara sinergis dan signifikan jika konsumsi tembakau dibarengi oleh konsumsi alkohol. Hal ini dikarenakan alkohol dapat meningkatkan permeabilitas mukosa lidah terhadap karsinogen tembakau. Selain itu, alkohol juga menghasilkan asetaldehida—metabolit toksik yang menghambat DNA repair.[8,9]
Infeksi Human Papillomavirus (HPV)
Infeksi HPV juga merupakan faktor risiko kanker lidah. Utamanya adalah infeksi HPV tipe risiko tinggi, yakni tipe 16 dan 18. Tipe HPV ini akan memproduksi onkoprotein E6 dan E7 yang menginaktivasi p53 dan pRb. Akibatnya, sel akan terus bereplikasi tanpa terkendali, termasuk sel rusak yang seharusnya melakukan apoptosis. Fenomena ini sering ditemukan pada pasien muda tanpa riwayat konsumsi tembakau atau alkohol.[8,9]
Iritasi Mekanis Kronis dan Higienitas Oral
Trauma mekanis seperti gigi yang tajam, protesa yang tidak pas, dan alat ortodontik yang tajam dapat menyebabkan terjadinya iritasi kronis. Iritasi ini kemudian memicu inflamasi kronis dan proliferasi sel yang abnormal. Akibatnya, sel rusak akan menumpuk, sehingga dapat memicu terjadinya keganasan. Namun demikian, peran iritasi kronis dalam kasus KSS adalah sebagai ko-faktor.
Sementara, pada kasus oral hygiene yang buruk, penumpukan plak dan kalkulus dalam waktu lama akan meningkatkan populasi bakteri yang dapat mengubah sisa metabolisme menjadi senyawa pro-karsinogenik.[8,9]
Faktor Nutrisi dan Diet
Kekurangan asupan mikronutrien tertentu dapat meningkatkan kerentanan mukosa terhadap keganasan. Diet rendah sayur dan buah, defisiensi vitamin A, C, dan E, serta kekurangan zat besi kronis dapat mengganggu integritas epitel dan mekanisme antioksidan tubuh. Efeknya, hal ini meningkatkan kemungkinan terjadinya atrofi mukosa. Sementara, atrofi mukosa merupakan prekursor terjadinya perubahan displastik pada lidah.[8,9]
Keberadaan Lesi Prakanker
Lesi prakanker seperti leukoplakia dan eritroplakia memiliki potensi besar untuk bertransformasi menjadi maligna. Lesi tersebut secara khusus memiliki tingkat displasia berat atau karsinoma in situ yang tinggi pada pemeriksaan histopatologi.[8,9]
Faktor Genetik dan Imunodefisiensi
Faktor genetik dan kondisi imunodefisiensi berperan dalam kerentanan individu. Variasi genetik individual yang memengaruhi proses DNA repair, regulasi siklus sel, atau metabolisme karsinogen dapat meningkatkan risiko terjadinya keganasan.
Sementara itu, pasien dengan imunodefisiensi seperti pada kasus autoimun, penderita HIV, hingga pasien terapi imunosupresif jangka panjang, memiliki risiko tinggi terhadap malignansi. Hal ini disebabkan karena sistem imun tubuh gagal mengeliminasi sel-sel yang mengalami transformasi keganasan sejak dini.[8,9]