Pendahuluan Kanker Lidah
Kanker lidah adalah jenis kanker yang berasal dari sel epitel jaringan lidah. Pada kebanyakan kasus, kanker lidah merupakan karsinoma sel skuamosa (KSS). Secara klinis, kanker ini dapat diklasifikasikan ke dalam dua lokasi utama, yaitu dua pertiga anterior lidah (oral tongue) dan sepertiga posterior (pangkal lidah/orofaring).
Kanker lidah biasanya diawali oleh lesi prekanker seperti eritroplakia atau leukoplakia. Jika tidak ditangani dengan baik, lesi ganas ini akan berkembang menjadi massa infiltratif atau ulkus kronis yang menimbulkan nyeri hebat, disfagia, hingga gangguan bicara.[1-3]
Patofisiologi kanker lidah diawali oleh paparan karsinogen secara kronis. Paparan ini menyebabkan akumulasi mutasi genetik pada keratinosit sehingga menyebabkan disregulasi siklus sel. Paparan karsinogen kronis juga memicu mutasi gen supresor tumor, kerusakan jalur pensinyalan Epidermal Growth Factor Receptor (EGFR), aktivasi onkogen, gangguan proliferasi, dan apoptosis yang menginisiasi transformasi sel normal menjadi ganas.[4-7]
Faktor risiko utama kanker lidah meliputi kebiasaan mengonsumsi tembakau atau merokok dan konsumsi alkohol berlebihan. Faktor risiko lain meliputi infeksi virus HPV, kebersihan mulut yang buruk, iritasi kronis akibat protesa, defisiensi nutrisi, hingga paparan radiasi. Faktor genetik dan imunodefisiensi juga ditemukan pada penderita muda dan tidak merokok.[8,9]
Epidemiologi kanker lidah menunjukkan bahwa jenis kanker ini merupakan salah satu jenis karsinoma kepala dan leher yang paling umum dijumpai di dunia. Secara global, kanker ini masuk dalam sepuluh besar kanker tersering, dengan insidensi lebih tinggi dilaporkan terjadi di Asia Tenggara dan Asia Selatan.[6,10-12]
Pendekatan diagnosis dimulai dengan kecurigaan klinis pada lesi ulseratif, massa, atau plak pada lidah yang tidak sembuh-sembuh, terutama bila disertai nyeri, perdarahan, disfagia, disartria, atau pembesaran kelenjar getah bening servikal. Konfirmasi diagnosis dilakukan melalui biopsi lesi, diikuti pemeriksaan histopatologi serta pencitraan untuk menilai ekstensi lokal dan keterlibatan nodus limfa.[7,13-15]
Pada stadium awal, terapi utama meliputi reseksi bedah (glosektomi parsial) yang biasanya disertai dengan diseksi leher profilaksis pada kelenjar limfa yang berisiko. Pada stadium III dan IV, kombinasi bedah, radioterapi, dan kemoterapi diperlukan.[12,16-18]
