Diagnosis Kanker Lidah
Diagnosis kanker lidah perlu dicurigai pada pasien dengan lesi ulseratif, massa, atau plak pada lidah yang tidak kunjung sembuh, terutama bila pasien juga mengeluhkan nyeri, perdarahan, disfagia, disartria, atau pembesaran kelenjar getah bening servikal. Diagnosis dikonfirmasi melalui biopsi, pemeriksaan histopatologi, serta pencitraan seperti CT scan atau MRI untuk menilai ekstensi lokal dan keterlibatan nodus limfa.[7,13-15]
Anamnesis
Pasien kanker lidah seringkali mengeluhkan keluhan persisten seperti lesi atau sariawan pada lidah, disertai disfagia, disartria, nyeri saat menelan, atau nyeri spontan di rongga mulut yang menjalar ke telinga. Massa atau ulserasi lidah umumnya tidak sembuh dalam waktu lebih dari dua minggu (ulserasi persisten).Pada anamnesis juga akan ditemukan riwayat paparan faktor risiko utama seperti penggunaan tembakau, konsumsi alkohol kronis, serta infeksi oleh human papillomavirus risiko tinggi.
Selain itu, penting pula untuk menilai durasi, progresi lesi, serta adanya gejala sistemik seperti penurunan berat badan, kehilangan nafsu makan, atau pembesaran limfonodi regional seperti submandibula atau jugulodigastrik, yang dapat mengindikasikan metastasis nodal. Riwayat keluarga dengan kanker kepala dan leher serta status nutrisi pasien juga perlu digali karena berkontribusi pada prognosis.[7,13-15]
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik pertama yang perlu dilakukan adalah dengan melakukan inspeksi dan palpasi pada seluruh area intraoral. Lesi yang perlu mendapatkan perhatian khusus adalah plak eritroplakia atau leukoplakia, ulkus dengan tepi meninggi dan dasar induratif, serta permukaan granular dan mudah berdarah.
Saat melakukan palpasi, lakukan dengan teknik bimanual untuk melihat kedalaman infiltrasi dan keterlibatan dasar lidah. Selain itu, penilaian mobilitas lidah juga harus dilakukan untuk menilai tingkat invasif ke jaringan otot dalam. Semakin pergerakan lidah terbatas, maka metastasis sudah mencapai otot dalam.
Selanjutnya, lakukan pemeriksaan ekstraoral. Pemeriksaan yang paling penting adalah palpasi pada kelenjar getah bening servikal. Pembesaran kelenjar limfa yang teraba keras, tidak nyeri, dan terfiksasi (immobile) meningkatkan kecurigaan adanya metastasis regional. Kemudian, evaluasi kepala dan leher secara keseluruhan diperlukan untuk mendeteksi adanya lesi sinkron.[7,13-15]
Diagnosis Banding
Diagnosis banding kanker lidah mencakup ulkus traumatik, leukoplakia oral, dan liken planus oral.[7,13-15]
Ulkus Traumatik
Ulkus traumatik biasanya disebabkan oleh iritasi mekanis kronis, seperti gigi tajam, prostesis yang tidak pas, atau trauma gigitan. Secara klinis, ulkus traumatik tampak sebagai ulkus dangkal dengan tepi relatif teratur dan dasar fibrin kekuningan, sering disertai nyeri.
Berbeda dengan kanker lidah, ulkus traumatik umumnya sembuh dalam 1–2 minggu setelah faktor iritatif dihilangkan, tidak menunjukkan indurasi keras pada palpasi, dan tidak disertai pembesaran kelenjar getah bening servikal yang persisten.[23]
Leukoplakia Oral
Leukoplakia oral tampak sebagai plak putih yang tidak dapat dikerok dan tidak dapat dijelaskan oleh penyakit lain. Berbeda dengan kanker lidah invasif yang sering tampak sebagai massa atau ulkus dengan indurasi dan tepi tidak teratur, leukoplakia biasanya tidak menimbulkan nyeri dan tidak menunjukkan tanda invasi jaringan.
Namun, karena sebagian leukoplakia dapat mengalami transformasi ganas, biopsi tetap diperlukan untuk menilai adanya displasia epitel atau karsinoma in situ.[24]
Liken Planus Oral
Liken planus oral, khususnya tipe erosif, juga dapat menyerupai kanker lidah karena dapat menimbulkan area eritematosa atau ulseratif pada mukosa lidah. Secara klinis, liken planus biasanya memperlihatkan pola khas berupa garis putih retikular (Wickham striae) di sekitar lesi dan sering bersifat bilateral atau simetris pada mukosa rongga mulut.[25]
Pemeriksaan Penunjang
Biopsi merupakan pemeriksaan utama untuk menegakkan diagnosis kanker lidah. Selain itu, pemeriksaan pencitraan juga diperlukan untuk mengevaluasi persebaran penyakit.
Pemeriksaan Histopatologi
Biopsi merupakan gold standard diagnosis kanker lidah. Pada lesi besar atau lesi yang mencurigakan, dapat dilakukan biopsi insisional. Jaringan yang diambil dapat dipilih dari area yang paling representatif, yaitu bagian tepi lesi atau bagian induratif. Sebaliknya, pada lesi kecil, biopsi eksisional dapat dipertimbangkan.
Pemeriksaan karsinoma sel skuamosa biasanya akan berbentuk derajat diferensiasi tertentu yang terdiri dari well, moderately, dan poorly differentiated. Selain itu, juga terdapat hasil parameter tambahan seperti keterlibatan perineural, invasi limfovaskular, dan kedalaman invasi. Parameter tambahan ini memiliki nilai prognostik yang penting.
Pada kasus kanker lidah yang terjadi di sepertiga posterior lidah, maka dicurigai keterlibatan virus HPV. Maka, pemeriksaan imunohistokimia p16 menjadi penting sebagai surrogate marker untuk infeksi HPV risiko tinggi.[7,13-15]
Pemeriksaan Radiologis
Setelah kanker lidah dikonfirmasi dengan pemeriksaan histopatologi, pemeriksaan radiologi diperlukan untuk menentukan luas invasi, penyebaran sel kanker, hingga perencanaan tindakan bedah dan terapi adjuvan. Terdapat beberapa jenis pencitraan radiologi yang dapat menjadi pilihan, seperti CT-scan, MRI, dan PET-CT.
CT-scan sangat berguna untuk melihat keterlibatan tulang, ukuran tumor, dan metastasis kelenjar limfa. MRI dapat dimanfaatkan untuk menilai tingkat invasi jaringan lunak dan kedalaman infiltrasi tumor ke otot lidah atau dasar mulut. Sementara PET-CT, dapat digunakan untuk mendeteksi adanya metastasis jauh atau pada kasus dengan probabilitas rekurensi yang tinggi.[7,13-15]