Patofisiologi Kanker Lidah
Patofisiologi kanker lidah melibatkan interaksi kompleks berbagai faktor, yaitu genetik, epigenetik, respons inflamasi kronis, hingga paparan lingkungan. Kanker lidah biasanya diawali oleh paparan karsinogen, terutama tembakau dan alkohol, yang menyebabkan stres oksidatif dan pembentukan radikal bebas, sehingga menyebabkan rusaknya DNA dan mutasi sel normal menjadi ganas.[4-7]
Kerusakan DNA dan Mutasi Genetik Akibat Karsinogen
Paparan kronis terhadap zat karsinogen seperti benzopiren dalam asap rokok dan asetaldehida menyebabkan terbentuknya DNA adducts. Perubahan awal ini sering melibatkan mutasi gen supresor tumor TP53, yang berperan penting dalam regulasi siklus sel, perbaikan DNA, dan apoptosis.
Mutasi pada TP53 menyebabkan terjadinya inaktivasi gen. Efeknya, gen supresor tumor tersebut kehilangan kemampuannya untuk menghentikan siklus sel pada fase G1/S. Hal ini menyebabkan sel dengan kerusakan DNA tetap bereplikasi dan mampu menghindari apoptosis.
Di lain sisi, gangguan pada gen CDKN2 serta overekspresi Epidermal Growth Factor Receptor (EGFR) merangsang kaskade pensinyalan hilir seperti PI3K/Akt/mTOR dan MAPK/ERK yang meningkatkan proliferasi sel, menghindari apoptosis, dan meningkatkan angiogenesis. Akibatnya, sel kanker semakin menumpuk dan kuat.[4-7]
Mekanisme Karsinogenesis Terkait HPV
Human papillomavirus atau HPV risiko tinggi (tipe 16 dan 18) selama ini diketahui sebagai salah satu faktor penyebab terjadinya kanker lidah di area sepertiga posterior (pangkal lidah). HPV akan mengintegrasikan DNA viral mereka secara permanen ke dalam genom sel inang, dan mengubah sel normal menjadi produsen onkoprotein.
Mekanisme ini digerakkan oleh dua aktor utama, yaitu onkoprotein E6 dan E7, di mana keduanya bekerja secara sinergis untuk melumpuhkan sistem pertahanan seluler. Onkoprotein E6 akan mengikat p53 dan memicu degradasi melalui jalur proteasom. Hal ini menyebabkan sel kehilangan kontrol pos pemeriksaan siklus sel. Akibatnya, sel yang sudah rusak tetap akan bertahan hidup dan bereplikasi.
Di saat yang bersamaan, onkoprotein E7 berikatan dan menginaktivasi protein retinoblastoma (pRb). Padahal, pRb berperan dalam mengikat faktor transkripsi E2F untuk menghambat siklus sel. Karena pRb inaktif dan E2F terlepas secara bebas, maka sel dipaksa untuk masuk secara terus menerus ke fase sintesis DNA, yang memicu replikasi yang liar dan tanpa henti.[4-7]
Progresi Lokal dan Metastasis
Transformasi menjadi karsinoma invasif ditandai oleh produksi enzim proteolitik (matrix metalloproteinase). Enzim ini akan memfasilitasi sel kanker untuk menembus membran basal.
Selain itu, akumulasi kerusakan genetik yang terjadi akibat paparan karsinogen akan menyebabkan menurunnya ekspresi E-cadherin, yang dapat berdampak pada hilangnya kohesi antar sel. Adanya enzim proteolitik dan hilangnya kohesi antar sel akan menyebabkan sel kanker dapat menginvasi stroma jaringan ikat, otot intrinsik lidah, dan ruang vaskuler dengan mudah.
Selain itu, sel kanker lidah memiliki kecenderungan untuk infiltrasi ke perineural dan limfovaskular. Hal ini menjelaskan tingginya angka metastasis ke kelenjar limfa servikal, terutama untuk stadium II, III, dan IV.
Kanker lidah juga akan tetap hidup dan semakin bertumbuh karena adanya peningkatan produksi faktor pertumbuhan (seperti Vascular Endothelial Growth Factor/VEGF). Pertumbuhan ini mendukung suplai nutrisi bagi massa tumor yang berkembang dan menyediakan jalur untuk penyebaran hematogen.[4-7]