Epidemiologi Kanker Lidah
Data epidemiologi kanker lidah menunjukkan bahwa kanker ini merupakan jenis yang paling banyak ditemui di rongga mulut. Mayoritas kasus kanker lidah adalah karsinoma sel skuamosa. Angka kejadian paling tinggi adalah di India, Sri Lanka, dan Bangladesh.[6,10-12]
Global
Secara global, kanker lidah merupakan jenis kanker yang paling ditemui di rongga mulut, dan menempati sepuluh besar kanker dengan insidensi tertinggi secara umum. Insidensi pada pria diketahui lebih tinggi, dengan proporsi 2-3:1.
Ditinjau secara histopatologis, lebih dari 90% kanker lidah merupakan karsinoma sel skuamosa (KSS), dengan lokasi yang paling sering ditemukan adalah pada bagian lateral anterior dua pertiga lidah. Hal ini disebabkan karena pada lokasi ini memiliki risiko terpapar karsinogen lokal lebih tinggi. Sementara, kanker ada sepertiga posterior lidah lebih jarang ditemui, dan biasanya dikaitkan dengan infeksi human papillomavirus atau HPV.
Menurut data Globocan 2022, ditemui 389.000 kasus kanker bibir dan rongga mulut baru di seluruh dunia, dimana KSS dilaporkan menjadi kontributor terbesar. Wilayah dengan insidensi paling tinggi ada di India, Sri Lanka, dan Bangladesh, yang sering dikaitkan dengan tradisi mengunyah tembakau dan sirih. India melaporkan angka insidensi pada pria mencapai 6,5 per 100.000 penduduk per tahun.
Selain itu, banyak ahli menduga KSS juga banyak terjadi di Asia Tenggara. Diduga akibat statusnya underdiagnosed, faktor sosioekonomi, keterbatasan akses, dan kesadaran masyarakat yang rendah, membuat banyak kasus tidak terdeteksi.
Lebih lanjut, peningkatan insidensi kanker lidah, terutama pada kanker orofaring atau basis lidah, juga dilaporkan pada berbagai populasi Eropa, khususnya yang berkaitan dengan infeksi HPV. Di Prancis, angka insidensi pada pria justru dilaporkan lebih tinggi dari India, yaitu 8,0 per 100.000 penduduk per tahun.[6,10-12]
Indonesia
Di Indonesia dan negara berkembang lainnya, pencatatan prevalensi dan insidensi kanker lidah masih belum adekuat. Oleh sebab itu, masih belum ada data pasti mengenai angka kejadian kanker lidah di Indonesia.
Mortalitas
Terdapat data yang melaporkan bahwa angka kesintasan 2 tahun pada kanker lidah adalah 77% pada pasien yang terdiagnosis di stadium awal, tetapi menurun menjadi 52% pada pasien stadium lanjut.
Faktor risiko utama yang meningkatkan kejadian dan berkontribusi terhadap mortalitas antara lain merokok, konsumsi alkohol, serta pola diet tidak sehat, sedangkan konsumsi buah dan sayuran bersifat protektif.
Lebih lanjut, status infeksi HPV berperan penting karena kasus HPV-positif telah dikaitkan dengan kesintasan 5 tahun yang lebih baik dibandingkan HPV-negatif (sekitar 80% vs 40%).[22]