Penggunaan Aplikasi Kesehatan dalam Penatalaksanaan Nyeri Kronis

Oleh :
dr. Gisheila Ruth Anggitha

Dengan berkembangnya teknologi, aplikasi kesehatan berpotensi untuk mengambil andil dalam tata laksana nyeri kronis. Nyeri kronis merupakan nyeri yang dirasakan selama lebih dari 3 bulan. Sekitar 20% penduduk dunia dan 15-20% pasien datang dengan nyeri kronis ke fasilitas kesehatan. Nyeri kronis dapat menyebabkan penurunan kualitas hidup seseorang. Nyeri kronis dapat diklasifikasikan menjadi enam, yaitu :

  • Nyeri kronis primer : nyeri punggung atau nyeri muskuloskeletal
  • Nyeri kanker akibat tumor atau metastasis dan nyeri akibat tata laksana kanker
  • Nyeri pascaoperasi atau trauma

  • Nyeri neuropati
  • Nyeri kepala dan orofasial
  • Nyeri visceral [1-3]

chronic pain comp

Sekilas Mengenai Tata Laksana Nyeri Kronis

Tujuan penatalaksanaan nyeri kronis adalah untuk menghilangkan nyeri dan meningkatkan kualitas hidup pasien. Saat ini, tata laksana nyeri kronis berdasarkan pedoman klinis, melibatkan modalitas farmakologi dan nonfarmakologi. Golongan obat yang dapat digunakan dalam tata laksana nyeri kronis termasuk obat antiinflamasi nonsteroid (seperti ibuprofen), opioid (seperti morfin), antidepresan (seperti amitriptyline), dan agen topikal (seperti capsaicin). Modalitas nonfarmakologi yang bisa digunakan antara lain program olahraga, masase, cognitive behavioral therapy, dan self-management. [4,5]

Efikasi Aplikasi Kesehatan dalam Penatalaksanaan Nyeri Kronis

Berbagai bukti ilmiah dan pedoman klinis telah melaporkan bahwa self-management pada kondisi medis kronis dapat mengurangi kebutuhan rawat inap, kunjungan ke instalasi gawat darurat, dan kebutuhan tehadap layanan kesehatan secara umum. Namun, terdapat banyak hambatan dalam self-management ini, misalnya kurangnya edukasi pada pasien, overmedication terkait nyeri, kurangnya integrasi self-management ke dalam program pengobatan, serta kurangnya waktu maupun informasi yang disampaikan petugas kesehatan pada pasien. Di sinilah aplikasi kesehatan pada ponsel berpotensi mengambil andil. [5,6]

Pada tahun 2017, sebuah tinjauan kritis mencoba menganalisis kelebihan dan kekurangan dari teknologi kesehatan pada ponsel (mobile health technology) terkait tata laksana nyeri kronis. Studi ini memprediksi bahwa penggunaan aplikasi kesehatan pada ponsel akan menjadi hal yang normal di masa depan. Hal ini karena kita sedang berada pada populasi yang menua dengan cepat, dan oleh karenanya akan timbul berbagai komorbiditas yang menyebabkan nyeri kronis (misalnya arthritis, neuropati, atau nyeri terkait kanker). Di sisi lain, tidak semua orang memiliki waktu atau kesempatan untuk dapat menerima pengobatan face-to-face sesuai dengan keinginan dan kebutuhannya. Walaupun begitu, studi ini juga menyatakan bahwa masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut terkait hubungan antara aplikasi kesehatan dengan peningkatan kualitas hidup pasien, autonomi fungsional, dan penurunan kebutuhan terhadap pelayanan kesehatan atau hospital-use. [6]

Sebuah meta analisis dan tinjauan sistematik terbaru, dilakukan oleh Moman, et al. Studi ini menganalisis 17 uji klinis acak. Tujuan studi ini adalah menilai efikasi aplikasi kesehatan (eHealth dan mHealth) yang tidak memerlukan kontak atau feedback tenaga kesehatan, terhadap luaran pasien dengan nyeri kronis berdasarkan guideline Initiative on Methods, Measurement, and Pain Assessment in Clinical Trials (IMMPACT).

Dari uji klinis acak yang diikutkan dalam analisis, peneliti menyatakan bahwa aplikasi kesehatan  (eHealth dan mHealth) memiliki efek signifikan terkait intensitas nyeri jangka pendek dan menengah. Aplikasi kesehatan juga dilaporkan memiliki sedikit efek jangka pendek dan menengah terhadap depresi, efek signifikan terhadap nyeri katastrofi jangka pendek, dan sedikit efek jangka pendek terhadap self-efficacy.

Moman et al menyimpulkan bahwa aplikasi kesehatan mampu memperbaiki berbagai luaran jangka pendek dan menengah terkait nyeri kronis. Namun, luaran terkait pemantauan jangka panjang hanya terbatas pada intensitas nyeri karena data yang ada tidak adekuat. Selain itu, studi yang ada juga dibatasi oleh penyamaran yang tidak adekuat, sehingga pengaruh dari efek placebo sulit diukur.  [7]

Kesimpulan

Tata laksana nyeri kronis berdasarkan pedoman yang ada saat ini melibatkan modalitas farmakologi dan nonfarmakologi. Modalitas farmakologi dapat menggunakan berbagai golongan analgesik. Sementara itu, modalitas nonfarmakologi mencakup program olahraga, masase, cognitive behavioral therapy, dan self-management. Aplikasi kesehatan diduga mampu berperan dalam tata laksana nyeri kronis dengan meningkatkan peran self-management.

Studi yang ada saat ini, walaupun memiliki berbagai keterbatasan, menunjukkan potensi aplikasi kesehatan dalam meningkatkan berbagai luaran jangka pendek dan menengah terkait nyeri kronis. Namun, masih dibutuhkan studi lanjutan dengan penyamaran (blinding) yang adekuat, serta memasukkan analisis terkait efek aplikasi kesehatan terhadap kualitas hidup pasien, autonomi fungsional, dan penurunan kebutuhan terhadap pelayanan kesehatan atau hospital-use.

Referensi