Demam pada Anak (>5 Tahun) – Panduan E-Prescription Alomedika

Oleh :
dr. Felicia

Panduan e-Prescription untuk demam pada anak untuk usia >5 tahun ini dapat digunakan oleh Dokter saat hendak memberikan terapi medikamentosa secara online.

Demam pada anak berusia >5 tahun umumnya lebih mudah dievaluasi karena pada periode ini anak umumnya sudah lancar berbicara. Selain itu, pada kelompok usia ini anak sudah memiliki sistem imun yang lebih matur, sehingga risiko infeksi bakteri serius (IBS) umumnya lebih rendah.[1,2]

epresdemamanak

Demam perlu dibedakan dari hipertermia. Pada demam, peningkatan suhu tubuh terjadi karena peningkatan set point hipotalamus oleh paparan pirogen endogen. Sedangkan pada hipertermia, peningkatan suhu tubuh terjadi karena kegagalan termoregulasi, yang diketahui juga sebagai heat stroke atau sengatan panas yang disebabkan oleh anak yang terkunci di dalam mobil yang panas atau berolahraga dalam waktu lama di cuaca panas.[3]

Pada kebanyakan kasus, demam disebabkan oleh infeksi, terutama infeksi virus dan selanjutnya infeksi bakteri. Contoh penyakit infeksi yang menyebabkan demam adalah infeksi saluran napas atas (ISPA), bronkitis, pneumonia, infeksi saluran kemih (ISK), dan infeksi gastrointestinal.

Selain infeksi, demam juga dapat terjadi pada kondisi pascavaksinasi, keganasan, maupun autoimun. Identifikasi etiologi sangat diperlukan sebelum memulai terapi untuk demam karena pada beberapa kondisi, misalnya infeksi saluran pernapasan atas atau ISPA viral, antipiretik mungkin tidak diperlukan.[4–6]

Tanda dan Gejala

Demam adalah kondisi di mana suhu tubuh ≥38,0°C. Pengukuran suhu pada anak usia >5 tahun dengan demam dapat menggunakan termometer elektronik lewat axilla atau infrared lewat membran timpani. Pengukuran suhu lewat perabaan tangan orang tua memiliki sensitivitas yang tinggi, tetapi spesifisitas yang rendah. Metode perabaan tangan orang tua bisa menjadi perhatian klinis, tetapi bukan sebagai panduan terapi.[2,4]

Perbedaan antara penyakit ringan atau berat maupun infeksi bakteri atau virus tidak ditunjukkan oleh durasi demam, tingginya suhu saat demam, dan respons terhadap pemberian antipiretik. Akan tetapi, durasi demam yang >5 hari dapat menjadi perhatian karena dapat dicurigai penyakit Kawasaki.[2]

Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan laboratorium secara empiris untuk anak usia >5 tahun dengan demam tidak direkomendasikan. Pemeriksaan darah lengkap pada kelompok ini dapat dipertimbangkan apabila riwayat imunisasi tidak lengkap dan fokus infeksi tidak diketahui.

Anak dengan tanda bahaya juga dapat direkomendasikan untuk melakukan pemeriksaan penunjang. Akan tetapi, perlu diperhatikan bahwa pemeriksaan ini tidak boleh menunda penanganan kegawatdaruratan.[2,7,8]

Pemeriksaan urinalisis pada kelompok usia >5 tahun dengan demam ≥38,0°C dapat direkomendasikan bila ada kecurigaan klinis ISK. Risiko ISK pada anak meliputi mereka yang tidak disirkumsisi, durasi demam >24 jam, demam ≥39°C, sumber infeksi tidak jelas, dan hasil pemeriksaan tidak menunjukkan adanya patogen penyebab infeksi saluran napas.[7,9]

Kultur urine direkomendasikan apabila pada pemeriksaan urine dipstick tidak menunjukkan ISK dan kecurigaan klinis ke arah ISK masih ada. Disarankan pula untuk melakukan pemeriksaan kultur urine sebelum antibiotik dimulai.[7]

Peringatan

Peringatan terkait demam pada anak kelompok usia >5 tahun terutama meliputi tanda bahaya demam. Apabila ditemukan tanda bahaya demam, sangat direkomendasikan untuk merujuk anak ke fasilitas kesehatan terdekat. Tanda bahaya demam pada anak usia >5 tahun meliputi:

  • Toxic appearing
  • Perubahan status mental, yang dapat ditunjukkan dengan kesulitan melakukan interaksi sosial, cenderung mengantuk, serta penurunan gerakan aktif anak
  • Letargi
  • Iritabilitas yang sifatnya inconsolable atau sulit untuk ditenangkan
  • Tanda distress napas, seperti takipnea, dan peningkatan usaha napas
  • Takikardia persisten atau takikardia menetap walaupun suhu tubuh sudah turun
  • Dehidrasi sedang sampai berat
  • Perfusi buruk, yang dilihat dari perabaan kulit perifer yang dingin, mottled skin, CRT melambat (>3 detik)
  • Kejang yang tidak konsisten dengan kejang demam sederhana, seperti usia >6 tahun, kejang kompleks, kejang berulang, dan kejang berkepanjangan (>5 menit)
  • Demam terus menerus sampai >5 hari[1,2]

Dehidrasi pada anak dapat dilihat dari keadaan umum yang lemas, mata cekung, penurunan produksi air mata, mukosa oral dan lidah yang kering, serta frekuensi urinasi yang menurun dan warna urine.[4]

Peringatan Medikamentosa

Penggunaan aspirin, tidak direkomendasikan pada kelompok usia 2–12 bulan, karena berisiko menyebabkan sindrom Reye. Antipiretik tidak diberikan untuk mencegah kejang demam maupun hanya untuk menurunkan suhu saja. Apabila anak demam, tetapi klinis anak baik, aktif, dan tidak memiliki keluhan, pemberian antipiretik dapat ditunda terlebih dahulu.

Efek toksik dari pemberian paracetamol pada dosis toksik adalah gagal hati, sedangkan ibuprofen adalah gagal ginjal akut dan perdarahan gastrointestinal. Keduanya biasanya terjadi karena dosis dan frekuensi pemberian obat tidak tepat. Antibiotik tidak direkomendasikan pada demam tanpa fokus yang jelas.[1–4]

Edukasi Orang Tua

Edukasi orang tua meliputi:

  • Edukasi tanda bahaya demam kepada orang tua. Bila ditemukan tanda bahaya, anak harus segera dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat
  • Edukasi cara mengidentifikasi ruam yang tidak memudar dengan penekanan
  • Edukasi bahwa demam bukanlah sesuatu yang berbahaya, tetapi merupakan tanda bahwa sistem imun tubuh berfungsi akibat infeksi. Obat diberikan untuk membuat anak lebih nyaman, bukan untuk mengurangi angka yang terukur pada termometer. Oleh karena itu, cukup untuk mengulang pengukuran demam hanya jika anak terlihat semakin tidak sehat atau sebanyak dua kali sehari
  • Edukasi tanda dehidrasi pada anak[1,2,4,6,10,11]

Terapi Suportif

Terapi suportif untuk anak usia >5 tahun yang mengalami demam meliputi:

1. Diet dan Cairan

Berikan cairan yang cukup untuk mencegah dehidrasi pada anak yang demam. Anak dapat diberikan air putih, susu formula maupun makanan cair seperti sup untuk membantu pemenuhan cairan. Jika dehidrasi sedang, maka dapat diberikan oralit.

Asupan nutrisi untuk anak harus tetap dijaga, dengan pemberian makanan sedikit demi sedikit tetapi sering. Tidak direkomendasikan untuk memaksa anak makan banyak.

2. Kompres, sponging dan pendinginan

Saat ini, tepid sponging (menyeka tubuh dengan handuk yang sudah diberikan air hangat) maupun kompres sudah tidak direkomendasikan karena tidak terbukti klinis bermanfaat untuk penurunan demam. Kedua metode tersebut hanya menurunkan suhu permukaan kulit secara sementara, dan menyebabkan anak menggigil dan merasa tidak nyaman. Tidak direkomendasikan untuk membuat suhu ruangan anak dengan demam menjadi dingin

Gunakan pakaian yang cukup nyaman untuk membuat anak merasa hangat sampai ujung kaki. Tidak direkomendasikan memakai pakaian terlalu tebal/berlapis-lapis maupun terlalu tipis. Ketika berkeringat, pakaian dapat dibuka sesuai keperluan.[1,2,4,8,10,11]

Medikamentosa

Tata laksana medikamentosa pada anak yang demam adalah antipiretik. Terapi kausal, seperti antibiotik, hanya diberikan bila fokus infeksi sudah diketahui.

Antipiretik

Antipiretik tidak diberikan sebagai bentuk pencegahan kejang demam. Pada kondisi di mana anak demam, tapi klinis baik, tanpa keluhan, dan anak masih aktif, antipiretik tidak disarankan langsung diberikan.

Demam adalah reaksi imun yang dapat membantu anak bertahan melawan infeksi. Antipiretik dapat diberikan bila anak demam dengan gejala distress, seperti inconsolable crying maupun letargi. Antipiretik yang direkomendasikan adalah:

  • Paracetamol 15 mg/kgBB per kali pemberian dengan maksimal pemberian 1 gram/dosis, dapat diberikan maksimal per 4 jam

  • Ibuprofen 10 mg/kgBB per kali pemberian dengan maksimal pemberian 400 mg/dosis, dapat diberikan maksimal per 6 jam, tidak disarankan untuk usia <3 bulan atau dehidrasi[2,6]

Referensi