Penggunaan pada Kehamilan dan Ibu Menyusui Sulfisoxazole
Penggunaan sulfisoxazole pada kehamilan tidak direkomendasikan karena obat ini dikategorikan sebagai kategori C oleh FDA. Pada ibu menyusui, sulfisoxazole diketahui diekskresikan ke dalam ASI.[1,7,8]
Penggunaan pada Kehamilan
Berdasarkan kategori FDA, penggunaan sulfisoxazole dalam kehamilan masuk dalam kategori C, artinya studi pada hewan mengonfirmasi adanya efek teratogenik, meskipun belum terdapat bukti serupa pada penelitian di manusia. Beberapa studi pada hewan telah mengungkapkan bukti teratogenisitas, namun tidak ada data terkontrol pada kehamilan manusia.[1,7]
Seperti obat golongan sulfonamida lainnya, sulfisoxazole menembus plasenta, mencapai keseimbangan dengan serum ibu dalam waktu 2-3 jam setelah pemberian. Sulfonamida bersaing dengan bilirubin untuk mengikat serum albumin, kadar bilirubin bebas akan meningkat dengan adanya sulfonamida, sehingga bayi baru lahir berisiko mengalami hiperbilirubinemia, ikterus, dan kernikterus ketika sulfonamida diberikan kepada ibu menjelang persalinan.[1,7]
Meskipun tidak terdapat data yang menunjukkan hubungan antara sulfonamida dengan cacat bawaan, berikut beberapa studi penelitian yang mendukung hubungan tersebut:
- Studi retrospektif terhadap 1.369 pasien, mengungkapkan bahwa secara signifikan lebih banyak ibu dari 458 anak dengan kelainan bawaan telah mengonsumsi sulfonamida dibandingkan dengan ibu dari anak-anak normal.
- Studi retrospektif terhadap 599 anak dengan sumbing bibir dan langit-langit mulut mengungkapkan adanya paparan sulfonamida yang secara signifikan lebih besar selama trimester pertama dan kedua dibandingkan dengan kelompok kontrol yang sesuai.[7]
Beberapa ahli mengungkapkan bahwa secara umum sulfonamida sebagai agen tunggal tidak menimbulkan risiko teratogenik yang signifikan, tetapi karena adanya potensi toksisitasnya terhadap neonatus, maka penggunaannya harus dihindari menjelang akhir kehamilan.[1,7]
Penggunaan pada Ibu Menyusui
Sulfisoxazole bersifat relatif larut dalam air, sehingga konsentrasinya dalam ASI rendah. Dalam satu penelitian, jumlah total sulfisoxazole yang ditemukan dalam ASI 48 jam setelah dosis terbagi 4 gram hanya setara dengan 0,45%. Data ini menunjukkan bahwa sulfisoxazole menimbulkan risiko yang sangat kecil bagi bayi yang menyusui.[7,8]
Namun, keamanan bagi bayi tergantung pada kondisi bayi tersebut. Berikut beberapa kontraindikasi untuk tidak memberikan ASI, antara lain:
- Bayi usia <2 bulan, karena organ hepar bayi belum mampu memproses bilirubin dengan baik.
Bayi prematur, karena memiliki risiko lebih tinggi terhadap gangguan fungsi hepar.
- Bayi dengan ikterus, karena obat sulfisoxazole dapat memperparah kondisi tersebut.
Defisiensi G6PD, karena paparan obat sulfisoxazole melalui ASI dapat menyebabkan terjadinya anemia hemolitik.[1,7,8]
Manfaat perkembangan dan kesehatan dari menyusui harus dipertimbangkan bersama dengan kebutuhan klinis ibu dan potensi efek samping pada bayi yang disusui dari sulfisoxazole atau dari kondisi ibu yang mendasarinya.[7,8]