Masuk atau Daftar

Alo! Masuk dan jelajahi informasi kesehatan terkini dan terlengkap sesuai kebutuhanmu di sini!
atau dengan
Facebook
Masuk dengan Email
Masukkan Kode Verifikasi
Masukkan kode verifikasi yang telah dikirimkan melalui SMS ke nomor
Kami telah mengirim kode verifikasi. Masukkan kode tersebut untuk verifikasi
Kami telah mengirim ulang kode verifikasi. Masukkan kode tersebut untuk verifikasi
Terjadi kendala saat memproses permintaan Anda. Silakan coba kembali beberapa saat lagi.
Selanjutnya

Tidak mendapatkan kode? Kirim ulang atau Ubah Nomor Ponsel

Mohon Tunggu dalam Detik untuk kirim ulang

Nomor Ponsel Sudah Terdaftar

Nomor yang Anda masukkan sudah terdaftar. Silakan masuk menggunakan nomor [[phoneNumber]]

Masuk dengan Email

Silakan masukkan email Anda untuk akses Alomedika.
Lupa kata sandi ?

Masuk dengan Email

Silakan masukkan nomor ponsel Anda untuk akses Alomedika.

Masuk dengan Facebook

Silakan masukkan nomor ponsel Anda untuk verifikasi akun Alomedika.

KHUSUS UNTUK DOKTER

Logout
Masuk
Download Aplikasi
  • CME
  • Webinar
  • E-Course
  • SKP
  • Diskusi Dokter
  • Penyakit & Obat
    Penyakit A-Z Obat A-Z Tindakan Medis A-Z
Farmakologi Phenytoin general_alomedika 2020-11-04T13:43:29+07:00 2020-11-04T13:43:29+07:00
Phenytoin
  • Pendahuluan
  • Farmakologi
  • Formulasi
  • Indikasi dan Dosis
  • Efek Samping dan Interaksi Obat
  • Penggunaan pada Kehamilan dan Ibu Menyusui
  • Kontraindikasi dan Peringatan
  • Pengawasan Klinis

Farmakologi Phenytoin

Oleh :
dr. Paulina Livia Tandijono
Share To Social Media:

Secara farmakologi, phenytoin (fenitoin) bekerja sebagai antikonvulsan dengan cara meningkatkan efluks atau menurunkan influks ion natrium di membran neuron pada korteks motorik. Hal ini dapat menstabilisasi neuron dan mencegah hipereksitabilitas. Obat ini akan dimetabolisme di hati kemudian dieliminasi melalui urine.

Struktur kimia phenytoin terdiri dari cincin heterosiklik yang salah satu cabangnya berikatan dengan derivat hidantoin. Dalam sediaan obat, phenytoin biasanya berbentuk garam, yaitu phenytoin sodium.[1,2,7]

Farmakodinamik

Pada dosis terapeutik, phenytoin dapat menginaktivasi voltage channel natrium di neuron korteks motorik. Obat ini meningkatkan pengeluaran (efluks) dan menurunkan pemasukan (influks) natrium. Akibatnya, membran sel neuron menjadi lebih stabil. Efek phenytoin ini lebih efektif pada keadaan high-frequency repetition stimulation (keadaan neuron saat kejang) dibandingkan keadaan neuron yang normal.[2,4,5,8]

Phenytoin juga bekerja pada voltage channel natrium di jantung dengan mekanisme serupa. Obat ini dapat memperpanjang periode refrakter, memperpendek potensial aksi otot jantung, dan mensupresi otomatisasi pacemaker ventrikel. Obat ini awalnya juga digunakan sebagai antiaritmia tetapi saat ini sudah dihentikan karena telah banyak ditemukan antiaritmia lain dengan efek samping lebih minimal.[4]

Farmakokinetik

Phenytoin memiliki bioavailabilitas yang tinggi setelah pemberian peroral. Metabolisme utamanya terjadi di hati dan eliminasi utamanya terjadi melalui urinasi.

Absorbsi

Bioavailabilitas phenytoin adalah sekitar 95% (PO) tergantung pada ukuran partikel dan zat tambahan yang terkandung dalam sediaan. Jika diberikan secara peroral, onset phenytoin lambat dan bervariasi sesuai formulasinya. Onset pada neonatus dilaporkan lebih lambat. Plasma peak time phenytoin adalah 1,5–3 jam untuk sediaan lepas cepat dan 4–12 jam untuk sediaan lepas lambat.[5,7]

Distribusi

Pada orang dewasa, phenytoin berikatan dengan protein hingga 90–95%. Sementara itu, ikatan dengan protein pada bayi adalah >85% dan ikatan dengan protein pada neonatus adalah >80%.

Volume distribusi (Vd) pada orang dewasa adalah 0,6–0,7 L/kgBB, pada anak-anak adalah 0,7 L/kgBB, dan pada bayi adalah 0,7–0,8 L/kgBB. Sementara itu, volume distribusi pada neonatus cukup bulan adalah 0,8–0,9 L/kgBB dan pada neonatus prematur adalah 1–1,2 L/kgBB.[5,7]

Metabolisme

Phenytoin dimetabolisme di hati oleh enzim mayor CYP2C9 dan CYP2C19, serta enzim minor CYP3A4. Phenytoin akan menghasilkan metabolit berupa hidroksiphenytoin yang tidak aktif.[7]

Eliminasi

Waktu paruh phenytoin adalah 22 jam (peroral) dan 10–15 jam (intravena). Phenytoin akan diekskresikan melalui urine (>95% diekskresikan dalam bentuk metabolit).[5,7]

Resistensi

Resistensi obat antiepilepsi didefinisikan sebagai kegagalan mencapai kontrol kejang dengan pengobatan satu atau dua obat antiepilepsi dengan dosis harian yang sesuai, baik sebagai monoterapi maupun terapi kombinasi. Keadaan ini meningkatkan mortalitas hingga lima kali lipat daripada populasi normal. Sekitar 70% resistensi terjadi pada epilepsi lobus temporal (TLE) dengan gejala kejang tipe kompleks parsial.[9,10]

Terdapat dua mekanisme yang diperkirakan dapat menyebabkan resistensi phenytoin, yaitu hipotesis transporter dan hipotesis target.

Hipotesis Transporter

Hipotesis ini merupakan mekanisme yang paling banyak digunakan untuk menjelaskan resistensi obat antiepilepsi. P-glycoprotein (Pgp) merupakan transporter efluks yang berfungsi untuk mengeluarkan zat-zat lipofilik (termasuk obat lipofilik) kembali ke aliran darah. Pgp dapat ditemukan di otak, usus, hati, ginjal, plasenta, dan testis.

Ekspresi berlebihan Pgp di sawar darah otak menyebabkan phenytoin yang sudah berada di ruang ekstraseluler jaringan otak kembali lagi ke aliran darah. Akibatnya, penetrasi phenytoin ke otak menurun. Mutasi gen MDR1 dan MDR-1A yang mengkode Pgp juga dapat meningkatkan pengeluaran phenytoin.

Selain itu, Pgp yang terletak di usus dapat menurunkan bioavailabilitas phenytoin. Rendahnya penetrasi dan bioavailabilitas ini menyebabkan dosis terapeutik tidak tercapai dan terjadi kegagalan kontrol kejang. Peningkatan dosis phenytoin terbukti tidak efektif untuk mengatasi resistensi phenytoin.[9,10]

Hipotesis Target

Pada epilepsi, dapat ditemukan perubahan voltage channel natrium. Perubahan molekuler ini menyebabkan efek phenytoin terhadap inaktivasi voltage channel natrium tidak terjadi.[9,10]

Hingga saat ini, belum ada terapi definitif untuk mengatasi resistensi obat antiepilepsi. Beberapa pilihan terapi yang tersedia masih dipertanyakan efektivitasnya dan masih perlu dipelajari lebih lanjut. Contoh opsi terapi tersebut antara lain:

  • Menambahkan terapi antiepilepsi dengan adenosin atau verapamil
  • Mengubah pola makan menjadi diet ketogenik, medium chain triglyceride (MCT), modified Atkins diet (MAD), atau low glycemic index treatment (LGIT)
  • Melakukan neurostimulasi yang meliputi stimulasi saraf vagus dan deep brain stimulation

  • Melakukan pembedahan [10]

Referensi

4. MIMS. Phenytoin. http://www.mims.com/indonesia/drug/info/phenytoin/?type=brief&mtype=generic
5. Uptodate. Phenytoin: Drug Information. https://www.uptodate.com/contents/phenytoin-drug-information?source=search_result&search=Phenytoin&selectedTitle=1~150#F209574
7. Medscape. Phenytoin. https://reference.medscape.com/drug/dilantin-phenytek-phenytoin-343019#11
9. Lai ML, Tien YE, Huang YS, Huang JD. Studies on pharmacokinetic mechanism of phenytoin resistance in refractory epilepsy. J Pharm Sci. 2013 Sep;102(9):3189-95. doi:10.1002/jps.23593
10. Sharma AK, Rani E, Waheed A, Rajput SK. Pharmacoresistant Epilepsy: A Current Update on Non-Conventional Pharmacological and Non-Pharmacological Interventions. J Epilepsy Res. 2015 Jun 30;5(1):1-8. doi: 10.14581/jer.15001

Pendahuluan Phenytoin
Formulasi Phenytoin

Artikel Terkait

  • Manfaat dan Keamanan Diet Ketogenik
    Manfaat dan Keamanan Diet Ketogenik
  • Konsekuensi Jangka Panjang Akibat Kejang Demam Berulang
    Konsekuensi Jangka Panjang Akibat Kejang Demam Berulang
  • Tata Laksana Epilepsi pada Kehamilan
    Tata Laksana Epilepsi pada Kehamilan
  • Faktor Risiko Terjadinya Epilepsi Pasca Stroke
    Faktor Risiko Terjadinya Epilepsi Pasca Stroke
  • Langkah Diagnostik pada Kejang Pertama Usia Dewasa
    Langkah Diagnostik pada Kejang Pertama Usia Dewasa

Lebih Lanjut

Diskusi Terkait
Anonymous
23 hari yang lalu
Waktu yang tepat untuk berhenti minum obat antiepilepsi setelah pasien 2 tahun bebas kejang
Oleh: Anonymous
4 Balasan
Alo dok...Mau menanyakan terkait kapan waktu yg tepat untuk menghentikan minum obat anti epilepsi setelah pasien sudah 2 tahun bebas kejang.Dan bgmana...
Anonymous
28 hari yang lalu
Imunisasi campak pada bayi dengan epilepsi
Oleh: Anonymous
1 Balasan
Alo dokter. Izin bertanya apakah kontraindikasi imunisasi campak pada bayi dengan epilepsi? Bayi ini riwayat kdk setelah imunisasi dan berlanjut menjadi...
Anonymous
16 Desember 2022
Penggunaan antikejang di daerah terpencil
Oleh: Anonymous
6 Balasan
Alodokter. Salam sejawat, TS saya ingin bertanya untuk saat ini saya bekerja di daerah yang cukup terpencil yang tidak memiliki anti kejang dalam sediaan...

Lebih Lanjut

Download Aplikasi Alomedika & Ikuti CME Online-nya!
Kumpulkan poin SKP sebanyak-banyaknya, Gratis!

  • Tentang Kami
  • Advertise with us
  • Syarat dan Ketentuan
  • Privasi
  • Kontak Kami

© 2021 Alomedika.com All Rights Reserved.