Manfaat dan Keamanan Diet Ketogenik

Oleh dr. Paulina Livia

Walau sudah dikenal sejak empat dekade lalu, diet ketogenik masih tetap menuai kontroversi terkait manfaat dan keamanannya hingga kini. Diet ketogenik pertama kali dikenal pada tahun 1920an sebagai diet untuk penanganan epilepsi. Saat ini, penelitian mengenai diet ketogenik menemukan berbagai manfaat lain, baik yang sudah terbukti maupun yang masih memerlukan penelitian lebih lanjut, di antaranya untuk diabetes mellitus dan penyakit kardiovaskular.[1]

800px-Polish_meat_platter_compressed

Secara garis besar, diet ketogenik adalah pola makan rendah karbohidrat dan tinggi lemak. Berdasarkan perbedaan proporsi makronutrien, diet ketogenik dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu:

  1. Diet ketogenik klasik (oleh American Diabetes Association)

    • Karbohidrat: <130 g/hari atau <26% dari asupan kalori

  2. Diet Atkins modifikasi

    • Karbohidrat: 6% dari asupan kalori
    • Lemak: 65% dari asupan kalori
    • Protein: 30% dari asupan kalori

  3. Very low carbohydrate ketogenic diet (VLCKD)

    • Karbohidrat <30 g/hari[2]

Ada beberapa penelitian yang menggunakan batasan karbohidrat <50 g/hari. Berbagai organisasi non-formal juga memiliki rasio makronutrien yang berbeda-beda.[1]

Rendahnya konsumsi karbohidrat dalam diet ketogenik membuat tubuh berada dalam kondisi kekurangan glukosa. Akibatnya, tubuh akan menggunakan sumber energi alternatif lainnya, yaitu asam lemak dan keton. Perubahan metabolisme inilah yang mendasari efek diet ketogenik terhadap penyakit-penyakit neurologis, metabolik, jantung, serta obesitas.[1,3]

Penyakit Neurologis

Tak seperti sel-sel tubuh lainnya, sel-sel di otak tidak dapat menggunakan asam lemak sebagai sumber energi. Otak akan menggunakan keton sebagai pengganti glukosa. Keton diduga memiliki efek antikonvulsan, mengurangi eksitabilitas sel neuron, dan memengaruhi neurotransmiter.[1]

Diet ketogenik terbukti efektif untuk mencegah kejang. Studi meta analisis menemukan diet ketogenik mampu mengurangi kejang pada pasien epilepsi hingga 30–40%. Saat ini, penelitian lebih berfokus untuk mencari efek samping diet ketogenik bagi penderita epilepsi, terutama bagi pertumbuhan dan metabolisme pasien.[1,4]

Belakangan ini juga gencar diteliti mengenai efek diet ketogenik untuk penyakit neurologis lainnya, yaitu:

Demensia

Bukti penelitian yang terbatas menunjukkan manfaat diet ketogenik untuk meningkatkan memori pada pasien dengan mild cognitive impairment (MCI) dan Alzheimer derajat ringan-sedang. Walau demikian, diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai manfaat tersebut.[5,6]

Parkinson

Suatu penelitian tahun 2005 membuktikan bahwa diet ketogenik selama 28 hari dapat memperbaiki fungsi motorik pasien Parkinson. Pada penelitian tersebut, digunakan diet hiperketogenik dengan rasio karbohidrat 2%, protein 8%, dan lemak 90%. Dalam penelitian tersebut, dinyatakan perbaikan fungsi motorik mungkin disebabkan oleh dua hal. Pertama, perubahan pola diet menjadi diet ketogenik secara langsung dapat meningkatkan fungsi motorik. Kedua, rendahnya konsumsi protein dapat meningkatkan bioavaibilitas obat levodopa sehingga memperbaiki fungsi motorik. Akibatnya, diperlukan penelitian lainnya sebelum menyimpulkan bahwa diet ketogenik bermanfaat bagi pasien Parkinson.[7]

Glioma

Studi meta analisis tahun 2017 juga menemukan bahwa hanya dua dari total enam studi yang menunjukkan manfaat diet ketogenik pada pasien dengan glioma maligna. Empat studi sisanya menyatakan manfaat diet ketogenik masih inkonklusif. Kemungkinan manfaat diet ketogenik untuk glioma maligna adalah mengurangi kejang, menurunkan progresivitas kanker, memperbaiki kondisi umum, dan meningkatkan kualitas hidup.  Masih diperlukan studi lain dengan metode penelitian yang lebih baik serta jumlah sampel yang lebih banyak.[8]

Trauma Kepala

Diet ketogenik diperkirakan dapat mengurangi kejang akibat cedera otak traumatik. Namun, efek antikejang ini masih diperdebatkan dan memerlukan penelitian lebih lanjut.[1]

Penyakit Metabolik dan Kardiovaskular

Diet ketogenik juga telah diteliti manfaatnya untuk penyakit metabolik dan kardiovaskular berikut ini:

Diabetes Mellitus tipe 2 (DM tipe 2)

Pada penderita DM tipe 2, diet ketogenik dapat meningkatkan sensitivitas insulin serta menurunkan kadar glukosa plasma dan haemoglobin A1c (HbA1c). Beberapa penelitian menyatakan bahwa diet ketogenik mampu menurunkan dosis insulin yang dibutuhkan, bahkan penyuntikan insulin dapat dihentikan.

Mekanisme penurunan dosis insulin ini penurunan kadar glukosa plasma dan hemoglobin A1c (HbA1c) akibat konsumsi karbohidrat yang rendah pada diet ketogenik, sehingga dosis insulin yang dibutuhkan menjadi menurun. Selain itu, terjadi peningkatan sensitivitas insulin pada orang yang melakukan diet ketogenik melalui mekanisme yang masih belum diketahui[1,2]

Dislipidemia

Meskipun konsumsi lemak meningkat, parameter kolesterol pada diet ketogenik justru semakin baik. Pembatasan konsumsi karbohidrat memicu kondisi ketosis yang mampu mengubah metabolisme lemak. Terjadi penurunan kadar kolesterol total, low density lipoprotein cholesterol (LDL), trigliserida, serta peningkatan high density lipoprotein cholesterol (HDL). Ukuran dan volum LDL juga meningkat sehingga sifat atherogenicity-nya (menyebabkan atherom) berkurang.[1,2]

Penyakit Kardiovaskular

Diet ketogenik menyebabkan penurunan tekanan darah, meskipun tidak signifikan. Diet ini juga dapat memperbaiki profil lipid dan sensitivitas insulin yang merupakan faktor risiko penyakit jantung.[1,2]

Obesitas

Diet ketogenik terbukti dapat menurunkan berat badan pada pasien obesitas. Namun, masih belum dipastikan penyebab turunnya berat tersebut. Berikut adalah beberapa kemungkinan penyebab berat badan turun:

  • Pola konsumsi rendah karbohidrat.
  • Tingginya konsumsi protein dan lemak menyebabkan rasa kenyang sehingga asupan kalori total berkurang.
  • Penurunan lipogenesis dan peningkatan lipolisis.
  • Peningkatan kebutuhan energi untuk proses glukoneogenesis dan efek termal dari protein.[1,3,9,10]

Penyakit Lain

Meskipun bukti yang terkumpul belum mencukupi, diet ketogenik diduga bermanfaat untuk penyakit-penyakit berikut:

Sindrom Polikistik Ovarium (Polycystic Ovary Syndrome/PCOS)

Pada pasien PCOS, diet ketogenik dapat menurunkan kadar testosteron bebas, rasio LH/FSH, insulin puasa, dan berat badan.

Jerawat

Secara teori, diet ketogenik dapat mengurangi keparahan dan progresivitas jerawat. Hal ini berhubungan dengan penurunan sekresi insulin dan insulin-like growth factor-1 (IGF-1) pada diet ketogenik. Sebab, insulin dan IGF-1 memicu proliferasi keratinosit, deskuamasi abnormal dari epitel folikular, meningkatkan produksi minyak, dan mencetuskan kolonisasi Propionibacterium acnes.

Kanker

Secara molekuler, diet ketogenik menghambat pertumbuhan sel tumor karena rendahnya kadar glukosa darah serta sekresi insulin dan IGF-1. Hormon insulin dan IGF-1 ternyata terlibat dalam kaskade sinyal untuk pertumbuhan sel, termasuk sel-sel tumor.[1,11]

Keamanan Diet Ketogenik

Efek samping jangka pendek diet ketogenik adalah muntah, gastroesophageal reflux disease (GERD), asidosis, ketosis berlebihan, konstipasi, kelelahan, dan hipokalsemia. Sementara itu, diet ketogenik dalam jangka panjang dapat memberikan efek samping pada ginjal dan tulang.[1,12]

Efek Samping pada Ginjal

Pada kenyataannya, banyak yang mengartikan bahwa diet ketogenik adalah pola makan rendah karbohidrat, tinggi lemak dan protein. Konsumsi protein berlebihan dapat menyebabkan kerusakan ginjal. Hal ini terjadi akibat tingginya kadar nitrogen yang diekskresi melalui ginjal.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa individu yang sebelumnya memiliki ginjal normal dapat beradaptasi dengan pola diet tinggi protein. Sebaliknya, individu yang sebelumnya menderita insufisiensi ginjal (bahkan yang asimptomatik), pernah menjalani transplantasi ginjal, atau memiliki penyakit ginjal, sindrom metabolik, dan obesitas lebih rentan mengalami kerusakan ginjal. Salah satu bentuk kelainan fungsi ginjal yang sering terjadi berupa gangguan pengontrolan tekanan darah sehingga terjadi hipertensi. Namun efek samping ini masih diperdebatkan. Beberapa penelitian tidak menemukan korelasi antara diet tinggi protein dan kerusakan ginjal pada subyek berisiko yang menjalani diet ketogenik.[1]

Efek Samping pada Tulang

Anak-anak dengan epilepsi yang menjalani diet ketogenik dalam jangka waktu panjang memiliki densitas tulang yang rendah. Penelitian tahun 2017 yang melibatkan 63 subjek menunjukkan 2 subjek mengalami fraktur dan 1 subkek mengalami batu ginjal. Oleh karena itu, anak-anak epilepsi yang menjalani terapi diet ketogenik disarankan untuk melakukan pemeriksaan densitas tulang secara berkala.[12]

Kesimpulan

Diet ketogenik terbukti bermanfaat untuk epilepsi, penyakit metabolik, penyakit kardiovaskular, dan obesitas. Saat ini juga gencar dilakukan penelitian mengenai manfaat diet ketogenik untuk berbagai penyakit lainnya. Di sisi lain, diet ketogenik memiliki efek samping bagi pertumbuhan tulang, terutama untuk anak-anak. Penggunaan diet ketogenik harus mempertimbangkan manfaat dan efek samping yang mungkin terjadi. Perlu dilakukan pemantauan pada pasien-pasien yang hendak menjalani diet ketogenik jangka panjang terkait risiko efek samping yang mungkin terjadi.

Referensi