Bougie VS Stilet pada Keberhasilan Intubasi Pasien Sakit Kritis – Telaah Jurnal Alomedika

Oleh :
dr.Mhd. Aripandi Wira, SpAn

Effect of Use of a Bougie vs Endotracheal Tube With Stylet on Successful Intubation on the First Attempt Among Critically Ill Patients Undergoing Tracheal Intubation: A Randomized Clinical Trial

Driver BE, Semler MW, Self WH, et al; BOUGIE Investigators and the Pragmatic Critical Care Research Group. Effect of Use of a Bougie vs Endotracheal Tube With Stylet on Successful Intubation on the First Attempt Among Critically Ill Patients Undergoing Tracheal Intubation: A Randomized Clinical Trial. JAMA. 2021; 326(24):2488-2497. doi: 10.1001/jama.2021.22002. PMID: 34879143

studilayak

Abstrak

Latar Belakang: Untuk orang dewasa yang sakit kritis yang menjalani intubasi trakea darurat, kegagalan untuk mengintubasi trakea pada upaya pertama terjadi pada 20% kasus dan dikaitkan dengan hipoksemia berat dan henti jantung. Apakah menggunakan selang trakea ("bougie") meningkatkan kemungkinan keberhasilan intubasi dibandingkan dengan menggunakan endotracheal tube dan stilet masih belum pasti.

Tujuan: Untuk menentukan efek penggunaan bougie vs endotracheal tube dengan stilet pada keberhasilan intubasi pada upaya pertama

Desain, Setting, dan Partisipan: Uji coba Bougie or Stylet in Patient Undergoing Intubation Emergently (BOUGIE) adalah uji klinis acak multisenter di antara 1102 orang dewasa yang sakit kritis yang menjalani intubasi trakea di 7 unit gawat darurat dan 8 unit perawatan intensif di Amerika Serikat antara 29 April 2019 dan 14 Februari. 2021. Tanggal tindak lanjut akhir adalah 14 Maret 2021.

Intervensi: Pasien secara acak mendapat bougie (n = 556) atau menggunakan endotracheal tube dengan stilet (n = 546).

Luaran Utama dan Pengukuran: Luaran primer adalah intubasi yang berhasil pada upaya pertama. Luaran sekunder adalah kejadian hipoksemia berat, yang didefinisikan sebagai saturasi oksigen perifer kurang dari 80%.

Hasil: Di antara 1106 pasien yang diacak, 1102 (99,6%) menyelesaikan percobaan dan dimasukkan dalam analisis primer (usia rata-rata, 58 tahun; 41,0% wanita). Intubasi yang berhasil pada upaya pertama terjadi pada 447 pasien (80,4%) pada kelompok bougie dan 453 pasien (83,0%) pada kelompok stilet. Sebanyak 58 pasien (11,0%) pada kelompok bougie mengalami hipoksemia berat, dibandingkan dengan 46 pasien (8,8%) pada kelompok stilet. Intubasi esofagus terjadi pada 4 pasien (0,7%) pada kelompok bougie dan 5 pasien (0,9%) pada kelompok stilet, pneumothorax muncul setelah intubasi pada 14 pasien (2,5%) pada kelompok bougie dan 15 pasien (2,7%) pada kelompok stilet. Cedera pada struktur mulut, glotis, atau toraks terjadi pada 0 pasien pada kelompok bougie dan 3 pasien (0,5%) pada kelompok stilet.

Kesimpulan: Di antara orang dewasa yang sakit kritis yang menjalani intubasi trakea, penggunaan bougie tidak secara signifikan meningkatkan insiden intubasi yang berhasil pada upaya pertama dibandingkan dengan penggunaan endotracheal tube dan stilet.

BougieVSStilet

 

Ulasan Alomedika

Jurnal ini membandingkan efek penggunaan bougie dengan endotracheal tube dan stilet pada keberhasilan intubasi percobaan pertama terhadap pasien dewasa yang sakit kritis.

Ulasan Metode Penelitian

Studi ini merupakan studi uji klinis acak multicenter, unblinded, pragmatis, yang dilakukan di 7 unit gawat darurat dan 8 ICU dari 11 rumah sakit di Amerika Serikat. Partisipan adalah pasien dewasa yang menjalani intubasi dengan sedasi dan bilah geometri standar. Partisipan dieksklusi jika hamil, inkarserasi, terdapat kebutuhan untuk intubasi segera tanpa waktu untuk pengacakan, dan ada aspek preferensi dokter. Studi ini membandingkan keberhasilan percobaan pertama intubasi dengan bantuan bougie dengan endotracheal tube dan stilet.

Kedua kelompok menerima video instruksional dari kedua teknik dan pelatihan langsung dari peneliti. Ini adalah percobaan pragmatis, jadi selain penggunaan bougie atau stilet, sisa prosedur intubasi diserahkan sepenuhnya kepada operator. Hasil diukur oleh pengamat independen terlatih yang bukan bagian dari tim klinis.

Luaran primer yang dinilai adalah intubasi yang berhasil pada upaya pertama. Hal ini didefinisikan sebagai penyisipan tunggal bilah laringoskop ke dalam mulut, disertai penyisipan bougie diikuti dengan penyisipan tunggal endotracheal tube atau penyisipan endotracheal tube dengan stilet ke dalam mulut.

Ulasan Hasil Penelitian

Studi ini mengikutkan 1102 partisipan, dengan usia rata-rata 58 tahun. 41% partisipan adalah wanita. Sekitar  60% dari intubasi dilakukan di unit gawat darurat dan 40% di ICU. Sekitar 40% dari partisipan memiliki 1 atau lebih penanda untuk kesulitan jalan napas anatomis, yang sebagian besar adalah obesitas.

Untuk luaran primer, keberhasilan pada percobaan pertama dilaporkan pada 80,4% kelompok bougie dan 83,0% kelompok stilet (p=0,27). Hipoksia kurang dari 80% terjadi pada 11% kelompok bougie dan 9% kelompok stilet.

Waktu rata-rata untuk intubasi adalah 124 detik dengan bougie dan 112 detik dengan stilet. Komplikasi jalan napas 1,8% pada kedua kelompok.

Kelebihan Penelitian

Studi ini memberi informasi yang relevan secara klinis. Metode yang digunakan dalam studi ini juga baik, yaitu uji klinis acak terkontrol, dan melibatkan lebih dari 1 layanan kesehatan (multisenter). Jumlah sampel yang diikutkan termasuk besar untuk sebuah studi yang mengevaluasi prosedur medis.

Meskipun uji klinis ini merupakan open label trial, dalam konteks intervensi yang diberikan hal ini masih dapat diterima. Untuk intervensi jalan napas seperti ini, tentunya akan sangat sulit melakukan penyamaran.

Limitasi

Salah satu keterbatasan terbesar dari penelitian ini adalah adanya kemungkinan perbedaan tingkat keterampilan dan preferensi klinis dari dokter yang melakukan tindakan. Satu dokter mungkin lebih terampil atau nyaman menggunakan bougie tetapi harus menggunakan stilet, ataupun sebaliknya. Hal ini tentunya akan mempengaruhi keberhasilan intubasi.

Keterbatasan lain adalah eksklusi pasien-pasien yang memiliki indikasi atau kontraindikasi penggunaan bougie atau stilet berdasarkan pendapat dokter yang melakukan tindakan. Hal ini dapat membatasi aplikasi dari hasil studi dan meningkatkan risiko bias.

Selain itu, uji klinis ini tidak mendefinisikan dengan jelas langkah apa yang dapat dihitung sebagai ‘upaya pertama’. Sebagai contoh, apakah memasukkan laringoskop saja sudah terhitung upaya pertama, ataukah baru dihitung ketika endotracheal tube sudah dimasukkan.

Aplikasi Hasil Penelitian Di Indonesia

Hasil penelitian ini dapat diterapkan di Indonesia. Penggunaan alat introduser jenis bougie maupun stilet dalam tata laksana intubasi dapat menjadi pilihan. Studi ini menunjukkan bahwa keduanya tidak lebih baik atau lebih buruk dari satu sama lain.

Berdasarkan studi ini, dokter yang merasa lebih terampil atau terbiasa menggunakan bougie dapat menggunakan alat tersebut. Sementara mereka yang lebih terampil dan terbiasa menggunakan stilet juga dapat menggunakan alat tersebut. Dokter juga perlu mempertimbangkan kondisi klinis dan jalan napas masing-masing kasus.

Tidak kalah penting pula untuk diingat bahwa penatalaksanaan jalan napas tidak hanya bergantung pada alat yang digunakan. Penatalaksanaan jalan napas akan memiliki tingkat keberhasilan yang lebih tinggi dengan latihan yang banyak, sehingga dokter memiliki keterampilan yang tinggi dan penilaian klinis yang tajam.

Referensi