Efek Samping dan Interaksi Obat Phenylbutazone
Phenylbutazone memiliki potensi efek samping berat, termasuk agranulositosis, anemia aplastik, toksisitas gastrointestinal, reaksi hipersensitivitas, dan retensi cairan. Interaksi obat phenylbutazone dapat meningkatkan kadar atau toksisitas obat lain yang juga terikat protein, termasuk antikoagulan dan obat antidiabetes.[5]
Efek Samping
Efek samping phenylbutazone yang paling banyak terjadi adalah efek samping gastrointestinal, mencapai 40% dari pasien yang mengonsumsi phenylbutazone. Gejala gastrointestinal mencakup iritasi lambung hingga perforasi, ulkus, dan perdarahan gastrointestinal.
Efek samping lain phenylbutazone yang cukup sering terjadi adalah edema dan retensi cairan, mempengaruhi kurang lebih 10% pasien. Retensi cairan terjadi karena retensi natrium dan klorida. Peningkatan cairan intravaskuler ini menyebabkan anemia delusional dan peningkatan beban jantung.
Phenylbutazone dapat menyebabkan abnormalitas darah. Efek samping serius yang dapat terjadi adalah anemia aplastik yang menyebabkan kejadian fatal pada hampir 50% kasus. Selain itu dapat juga terjadi trombositopenia dan leukemia yang diperkirakan terjadi sekunder akibat depresi sumsum tulang belakang.[4-6]
Interaksi Obat
Phenylbutazone memiliki potensi interaksi obat yang luas karena ikatan protein plasma dan kemampuannya menginduksi enzim mikrosomal hepatik.
Interaksi yang signifikan secara klinis terjadi dengan antikoagulan golongan kumarin dan indandion, yang dapat menimbulkan risiko perdarahan berat melalui peningkatan fraksi bebas, inhibisi metabolisme warfarin S-isomer, serta kontribusi tambahan dari efek ulserogenik dan gangguan fungsi trombosit yang ditimbulkan oleh phenylbutazone. Obat ini juga dapat meningkatkan efek hipoglikemik sulfonilurea dan insulin melalui kompetisi ikatan protein.
Selain itu, obat lain seperti barbiturat, rifampicin, atau kortikosteroid dapat mempercepat metabolisme phenylbutazone, menyebabkan penurunan kadar plasma dan waktu paruh obat.[5]