Farmakologi Phenylbutazone
Secara farmakologi, phenylbutazone memiliki aktivitas antiinflamasi, analgesik, antipiretik, dan sedikit urikosurik pada manusia. Efek ini terutama berhubungan dengan penghambatan sintesis prostaglandin melalui inaktivasi siklooksigenase dan prostasiklin sintase secara mediasi peroksida.
Obat ini cepat dan hampir sepenuhnya diserap dari saluran cerna, sangat terikat pada protein plasma, memiliki volume distribusi kecil, dan dieliminasi terutama melalui metabolisme hepatik. Metabolit aktif mencakup oxyphenbutazone dan γ-hydroxyphenylbutazone yang mendominasi di plasma, sementara C-glukuronida lebih banyak ditemukan di urin.[5]
Farmakodinamik
Phenylbutazone bekerja sebagai agen antiinflamasi, analgesik, dan antipiretik dengan mengurangi produksi mediator inflamasi, terutama prostaglandin. Phenylbutazone juga memiliki aktivitas urikosurik ringan, meskipun bukan mekanisme utamanya, dan dapat memengaruhi homeostasis renal sehingga berpotensi menyebabkan retensi natrium. Dahulu, obat ini digunakan dalam penanganan rheumatoid arthritis, ankylosing spondylitis, ataupun gout.
Phenylbutazone menghambat sintesis prostaglandin melalui inaktivasi siklooksigenase dan prostasiklin sintase yang dimediasi oleh peroksida (H₂O₂). Obat ini juga dapat mengalami reaksi ko-oksigenasi dalam sistem siklooksigenase untuk membentuk metabolit reaktif seperti 4-hydroxyphenylbutazone yang turut berkontribusi pada inaktivasi enzim tersebut.
Penghambatan konversi asam arakidonat menjadi endoperoksida prostaglandin menyebabkan penurunan PGE₂, PGF₂α, PGD₂, tromboksan A₂, dan prostasiklin, sehingga mengurangi inflamasi dan respons nyeri, tetapi juga menjelaskan efek samping seperti iritasi gastrointestinal dan perubahan regulasi aliran darah ginjal.[5]
Farmakokinetik
Dalam hal farmakokinetik, phenylbutazone memiliki waktu paruh eliminasi sangat panjang, yakni rerata ±70 jam. Phenylbutazone juga menunjukkan variasi inter- serta intraindividu yang besar, terutama dipengaruhi faktor genetik.[5]
Absorbsi
Phenylbutazone memiliki karakteristik absorpsi yang cepat dan hampir lengkap dari saluran cerna. Setelah pemberian oral tunggal 300 mg pada pria sehat yang berpuasa, konsentrasi puncak plasma rerata sekitar 43,3 µg/mL tercapai dalam waktu sekitar 2,5 jam.[5,6]
Distribusi
Phenylbutazone memiliki fraksi ikatan protein yang mencapai 98-99% pada pemberian dosis terapeutik. Phenylbutazone memiliki volume distribusi yang kecil. Konsentrasi phenylbutazone lebih tinggi di plasma dari pada di organ.[1,9,10]
Metabolisme
Phenylbutazone dimetabolisme di hati terutama melalui reaksi oksidasi dan konjugasi, menghasilkan beberapa metabolit termasuk metabolit aktif oxyphenbutazone serta γ-hydroxyphenylbutazone, yang terbentuk melalui hidroksilasi cincin maupun rantai samping.
Proses metabolisme ini juga menghasilkan berbagai turunan lain seperti β-hydroxyphenylbutazone, γ-ketophenylbutazone, dan p,γ-dihydroxyphenylbutazone, disertai pembentukan konjugat glukuronida dari obat induk maupun metabolitnya. Studi multiple dose menunjukkan bahwa kadar plasma oxyphenbutazone dapat menurun pada dosis tinggi phenylbutazone, kemungkinan akibat induksi metabolisme lanjutan.[5]
Eliminasi
Phenylbutazone dieliminasi hampir sepenuhnya melalui metabolisme hepatik, dengan hanya sekitar 1% diekskresikan dalam bentuk tidak berubah melalui urin. Sekitar 10% dosis diekskresikan melalui empedu sebagai metabolit, sementara urin mengandung berbagai metabolit yang sebagian besar telah diidentifikasi, termasuk C-glukuronida yang terbentuk melalui ikatan langsung antara cincin pirasolidin dan asam glukuronat.
Setelah dosis tunggal, jalur eliminasi didominasi oleh pembentukan C-glukuronida, sedangkan oksidasi menjadi metabolit hidroksilasi lebih menonjol pada pemberian berulang. Metabolit aktif seperti oxyphenbutazone dan γ-hydroxyphenylbutazone terutama ditemukan dalam plasma. Waktu paruh eliminasi phenylbutazone rerata sekitar 70 jam.[5]