Penggunaan pada Kehamilan dan Ibu Menyusui Phenylbutazone
Penggunaan phenylbutazone pada kehamilan tidak direkomendasikan. Obat ini masuk dalam kategori C oleh TGA. Obat ini tidak memiliki kategori FDA karena penggunaannya pada manusia sudah tidak diperbolehkan di Amerika Serikat. Selain itu, penggunaan phenylbutazone pada ibu menyusui tidak direkomendasikan.[6,8,11]
Penggunaan pada Kehamilan
TGA memasukkan phenylbutazone dalam Kategori C. Kategori ini membawahi obat-obatan yang, karena efek farmakologisnya, telah menyebabkan atau diduga menyebabkan efek berbahaya pada janin manusia atau neonatus tanpa menyebabkan malformasi.[8]
Uji reproduksi pada hewan, walaupun inkonklusif, menunjukkan adanya embriotoksisitas. Rekomendasi penggunaan obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) secara umum membatasi penggunaan obat golongan ini pada kehamilan minggu ke-20 hingga 30, dan menghindari penggunaannya pada kehamilan di atas 30 minggu.[6,11]
Penggunaan pada Ibu Menyusui
Sebagian kecil phenylbutazone dilaporkan dikeluarkan ke ASI. Pada ibu menyusui, bisa dilakukan penghentian terapi atau menghentikan menyusui. Keputusan klinis perlu diambil dengan mempertimbangkan keuntungan dan risiko pada ibu atau bayi, serta ada-tidaknya alternatif terapi yang lebih baik.
Dahulu, obat ini memang digunakan untuk rheumatoid arthritis, ankylosing spondylitis, ataupun gout. Meski demikian, sekarang phenylbutazone sudah ditinggalkan karena banyak alternatif terapi lain yang lebih aman.[5,6]