Keamanan Penggunaan Psikostimulan pada Ibu Hamil dan Menyusui

Oleh dr. Nathania S.

Keamanan penggunaan psikostimulan seperti amfetamin dan metilfenidat pada ibu hamil dan menyusui dipertanyakan karena dicurigai dapat menyebabkan terjadinya morbiditas pada ibu dan janin, seperti efek teratogenik, preeklampsia, kelahiran prematur, abruptio placenta dan bayi berat lahir rendah. Penggunaan pada ibu menyusui dapat menyebabkan iritabilitas dan gangguan tidur pada bayi.

Depositphotos_169730026_m-2015_compressed

Psikostimulan merupakan obat yang bersifat simpatomimetik. Golongan obat ini dalam dosis dan cara pemakaian tertentu dapat menyebabkan euforia, peningkatan kepercayaan diri dan adiksi. Beberapa contoh psikostimulan adalah kokain, amfetamin, metilfenidat, dan kafein. Sering kali obat-obatan psikostimulan disalahgunakan dan menyebabkan kecanduan. Meski demikian, obat golongan ini juga digunakan untuk indikasi medis, terutama untuk masalah psikiatri[1].

Amfetamin dapat melewati sawar plasenta dan masuk ke dalam sirkulasi janin. Produk samping dari metabolisme amfetamin dapat ditemukan pada plasenta dan cairan amnion. Eliminasi obat-obatan pada janin lebih lama dibandingkan ibu, sehingga menyebabkan kadar amfetamin pada sirkulasi janin lebih tinggi dibandingkan ibu.

Amfetamin pada bayi dicurigai, tetapi belum dapat dibuktikan, menyebabkan efek teratogenik, khususnya pada sel-sel jantung dan saraf. Pada bayi yang terekspos amfetamin, ditemukan peningkatan lebih dari 10 kali lipat untuk kejadian defek kongenital, gangguan kardiovaskular dan muskuloskeletal. Namun, terdapat faktor perancu yang tidak disingkirkan pada penelitian ini sehingga menyebabkan kerancuan hasil[2]. Salah satu perancu adalah adanya penggunaan substansi lain dalam jumlah besar (misalnya penggunaan rokok tembakau).

Psikostimulan untuk Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)

Psikostimulan dalam dunia kedokteran salah satunya digunakan untuk pengobatan dari Attention Deficit Hyperactivity Disorder atau ADHD dengan amfetamin dan metilfenidat[1].

Pemberhentian sementara psikostimulan pada wanita hamil dengan ADHD yang cukup parah perlu dipertimbangkan keuntungan dan kerugiannya. Apabila ADHD tidak diberikan terapi, maka wanita tersebut berisiko menjadi cemas dan melakukan tindakan agresif yang berujung pada gangguan hubungan sosial terutama dalam keluarga[3].

Amfetamin, dekstroamfetamin dan metilfenidat merupakan obat yang bersifat simpatomimetik dan dapat menyebabkan vasokonstriksi karena menyebabkan peningkatan epinefrin. Keadaan ini dapat berujung pada insufisiensi plasenta, sehingga terjadi hambatan pertumbuhan di dalam rahim, dan gangguan plasenta[1,3].

Dalam sebuah penelitian kohort yang melibatkan lebih dari 5000 wanita hamil, termasuk yang menggunakan obat-obatan ADHD, ditemukan adanya peningkatan risiko kejadian preeklampsia sebanyak 1.3 kali lipat (pada penggunaan psikostimulan di trimester 1 dan setengah awal trimester 2) dan peningkatan risiko kelahiran prematur sebanyak 1.3 kali lipat, bila pengobatan psikostimulan dilanjutkan hingga kehamilan trimester akhir. Walau demikian, tidak ada peningkatan risiko abruptio plasenta dan berat lahir rendah yang signifikan secara statistik[3].

Secara teori, vasokonstriksi akan menyebabkan penurunan perfusi plasenta dan dapat menyebabkan bayi berat lahir rendah. Namun, pada penelitian kohort tersebut, tidak ditemukan peningkatan bayi berat lahir rendah pada ibu yang menggunakan psikostimulan[3]. Penemuan ini sejalan dengan studi lain yang menemukan bahwa tidak ada penurunan berat lahir yang signifikan setelah dilakukan penyesuaian faktor lain seperti usia, penggunaan rokok tembakau dan paritas[4].

Studi kohort yang melibatkan 461 wanita hamil dengan ADHD yang 186 di antaranya menggunakan metilfenidat atau atomoxetine, ditemukan bahwa pada wanita hamil dengan ADHD terjadi peningkatan risiko abortus, baik dengan atau tanpa obat psikostimulan. Pada ibu hamil yang mendapatkan obat psikostimulan, risiko penurunan skor APGAR bertambah hingga 2.06 kali lipat[4].

Atomoxetine, obat pilihan lain untuk ADHD ditemukan tidak berpengaruh terhadap risiko preeklampsia, kelahiran prematur, abruptio placenta dan berat lahir rendah. Hal ini kemungkinan disebabkan karena atomoxetine merupakan norephinephrine reuptake inhibitor selektif yang bekerja pada korteks prefrontal, sehingga efek vasokonstriksi sistemik yang ditimbulkan lebih rendah[3,5]. Meski demikian, dalam studi binatang yang diberikan pajanan atomoxetine, terdapat peningkatan morbiditas janin pada dosis 25 mg/kgBB ke atas[6].

Psikostimulan untuk Narkolepsi

Kondisi mengantuk yang berlebihan dan narkolepsi pada wanita hamil tentu akan mengganggu kualitas hidupnya. Penggunaan psikostimulan golongan amfetamin pada wanita hamil yang menderita gangguan tidur dianggap membahayakan. Sampel yang digunakan masih kurang untuk dapat menyatakan apakah penggunaan amfetamin diperlukan atau akan menimbulkan bahaya pada wanita hamil yang mengalami gangguan tidur berlebih dan narkolepsi[7].

Meskipun risiko efek teratogenik pada pemberian psikostimulan untuk narkolepsi sesuai dengan dosis terapeutik ditemukan rendah, tetapi pemberian obat-obatan ini tetap tidak direkomendasikan sebagai pilihan pertama. Penghentian obat-obatan untuk narkolepsi ini sebaiknya dimulai sejak program hamil (saat konsepsi), saat kehamilan hingga menyusui. Konsultasi dan persiapan penghentian obat-obatan ini diperlukan agar tidak terjadi withdrawal syndrome[8].

Pemberian tata laksana nonmedikamentosa seperti sleep hygiene yang baik dan pekerjaan yang tidak menuntut kekacauan siklus tidur dapat dilakukan pada ibu hamil atau menyusui yang menderita narkolepsi[6].

Penggunaan Psikostimulan saat Menyusui

Amfetamin pada bayi yang menyusu dari ibu dengan konsumsi amfetamin dilaporkan dapat menyebabkan iritabilitas dan gangguan pola tidur. Selain itu, penggunaan amfetamin, terutama untuk penyalahgunaan obat, dapat menurunkan kemampuan bayi untuk menyusu. American Academy of Pediatrics merekomendasikan kontraindikasi penggunaan amfetamin pada saat menyusui[9].

Penyalahgunaan Psikostimulan

Untuk mengurangi morbiditas terkait penggunaan psikostimulan pada kehamilan, pada ibu hamil dan wanita usia reproduktif dengan penyalahgunaan obat-obatan psikostimulan seperti amfetamin sebaiknya menjalankan pengobatan yang rutin. Pengobatan tersebut contohnya adalah cognitive behavioral therapy, edukasi keluarga dan konseling pribadi. Belum ada terapi farmakologi yang terbukti efektif sejauh ini. Asuhan prenatal harus dilakukan secara intensif, termasuk evluasi nutrisi ibu dan janin, serta hubungan sosial[10].

Pengobatan psikostimulan pada ibu hamil dan menyusui sebaiknya dianggap sebagai terapi yang memiliki risiko. Oleh karena itu, perlu dipertimbangkan keuntungan dan kerugian terapi tersebut. Penghentian konsumsi amfetamin pada trimester 3 sebaiknya dipertimbangkan agar terjadi penurunan risiko sindrom withdrawal pada neonatus[11].

Kesimpulan

  • Obat-obatan psikostimulan adalah obat-obatan yang bersifat simpatomimetik, contohnya adalah kokain, amfetamin, metilfenidat, dan kafein
  • Obat pada golongan ini dapat digunakan untuk indikasi medis seperti attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) dan narkolepsi. Namun efeknya yang dapat menimbulkan adiksi menyebabkan obat-obatan ini juga banyak disalahgunakan.
  • Efek teratogenik bayi yang terpajan dengan amfetamin pernah dilaporkan, namun faktor bias pada studi-studi ini cukup besar
  • Pemberhentian sementara psikostimulan pada wanita hamil dengan ADHD yang cukup parah perlu dipertimbangkan keuntungan dan kerugiannya, terutama terkait dengan masalah sosial
  • Pemberian amfetamin atas indikasi ADHD ditemukan dapat meningkatkan risiko preeklampsia dan kelahiran prematur, tetapi tidak terbukti meningkatkan risiko abruptio plasenta dan berat bayi lahir rendah
  • Tata laksana nonmedikamentosa seperti sleep hygiene yang baik dan jadwal kerja yang teratur lebih disarankan untuk ibu hamil dengan narkolepsi dan gangguan tidur berlebih, dibandingkan penggunaan psikostimulan

Referensi