Antihistamin Tidak Disarankan untuk Asma

Oleh dr. Nathania S.

Berdasarkan patofisiologi respon berlebih saluran napas terhadap histamin pada asma, antihistamin dihipotesakan bermanfaat untuk mengontrol gejala asma. Walau demikian, terdapat inkonsistensi efek antihistamin terhadap asma dan sehingga penggunaannya tidak disarankan.

Antihistamine_Phn003_Wikimedia commons_2009_compressed

Histamin merupakan senyawa yang dapat membuat kontraksi dari sel otot polos di saluran pernapasan, stimulasi saraf parasimpatetik, peningkatan sekresi mukus dan peningkatan permeabilitas vaskular. Pada paparan antigen, terjadi peningkatan histamin plasma dan metabolitnya, yaitu metil-histamin urin. Paparan histamin terhadap orang normal dapat berakibat bronkospasme dan reaksi ini meningkat dan menjadi hipereaktif pada orang asma[1].

Terdapat 4 macam reseptor antihistamin pada tubuh manusia, yaitu H1, H2, H3 dan H4. Antihistamin generasi pertama, seperti chlorphenamine, bekerja secara tidak selektif. Tidak hanya mempengaruhi histamin, beberapa antihistamin juga berpengaruh terhadap reseptor muskarinik, adrenergik dan dopaminergik. Sifatnya yang lipofilik dapat menembus sawar otak. Salah satu efek yang dapat ditimbulkan dan sering menjadi pertimbangan pemberian antihistamin adalah peningkatan rasa kantuk dan penurunan konsentrasi, terutama pada generasi pertama[2].

Adanya respon yang berlebihan dari saluran napas terhadap histamin merupakan salah satu patofisiologi dari terjadinya asma. Diharapkan antihistamin dapat mengontrol gejala dari asma. Efek ini dapat tercapai kemungkinan besar tergantung dari dosis antihistamin tersebut[3].

Dalam tata laksana yang direkomendasikan oleh GINA (Global Initiative for Asthma), pengobatan yang direkomendasikan adalah kombinasi antara kortikosteroid inhalasi dan/atau oral, agonis beta-2 adrenergik dan/atau antagonis reseptor leukotrien. Tidak ada rekomendasi dari GINA yang menyebutkan tentang penggunaan antihistamin untuk asma[4].

Antihistamin untuk Pencegahan dan Penanganan Asma

Pada panduan Allergic Rhinitis and its Impact on Asthma (ARIA) tahun 2010 yang dikeluarkan oleh European forum for research and education in allergy and airway diseases (EUFOREA), antihistamin tidak direkomendasikan sebagai pencegahan terjadinya asma atau mengi untuk balita dengan risiko asthma (contoh: dermatitis atopik dan/atau riwayat keluarga dengan asma). Hal ini didasari oleh belum adanya kepastian risiko terjadinya asma pada pasien-pasien ini dibandingkan dengan efek samping dari antihistamin. Antihistamin juga tidak direkomendasikan untuk pengobatan pada pasien anak dan dewasa dengan rhinitis alergi dan asma karena risiko terjadinya efek samping relatif lebih besar dibandingkan dengan keuntungan terhadap gejala asma yang belum pasti[5].

Ditemukan bahwa anak-anak dengan asma dan rhinitis alergi lebih banyak dirawat di rumah sakit karena asma dibandingkan dengan anak-anak asma tanpa rhinitis alergi. Dalam studi case-control, penggunaan steroid intranasal dan/atau antihistamin pada anak dengan asma dan rhinitis alergi dapat dipertimbangkan karena ditemukan dapat menurunkan risiko kegawatdaruratan (dengan penurunan penggunaan obat-obatan pada instalasi gawat darurat) dan angka rawat inap karena serangan asma[6].

Suatu studi meta analisis Cochrane meneliti mengenai penggunaan oxatomide (antihistamin generasi pertama) dibandingkan dengan plasebo sebagai tata laksana kontrol asma yang stabil. Tidak ditemukan keuntungan yang konsisten dalam beberapa studinya dan efek samping seperti menyebabkan kantuk menjadi pertimbangan dalam pemberian antihistamin ini[7].

Konsumsi antihistamin generasi kedua dapat meningkatkan efek bronkodilatasi yang lebih besar dibandingkan generasi pertama. Hal ini kemungkinan disebabkan karena antihistamin generasi kedua lebih tidak menyebabkan kantuk sehingga dosis yang diberikan dapat lebih tinggi[3].

Dalam sebuah penelitian ditemukan bahwa FEV1 (Forced Expiratory Volume pada detik pertama) atau volume ekspirasi paksa satu detik ditemukan meningkat sebanyak 2.6% - 9.3% pada kelompok yang mendapatkan antihistamin dibandingkan plasebo. Efek yang ditimbulkan dari antihistamin generasi kedua seperti terfenadin, cetirizine and astemizol ditemukan lebih baik dibandingkan generasi pertama[8].

Pada asma alergik ringan hingga sedang, terfenadin dalam dosis 3 kali lipat dari dosis konvensional dapat memberikan respon bronkodilatasi terhadap bronkokonstriksi pada awitan dini dan lambat. Loratadin dalam dosis 2 kali lipat dosis konvensional dan dalam penggunaannya bersamaan dengan montelukast ditemukan dapat memperbaiki gejala dan fungsi paru. Penggunaan jangka panjang tidak ditemukan efek bronkodilatasi yang bermakna. Meskipun demikian, belum ditemukan studi yang dapat menyimpulkan batasan jangka waktu penggunaan antihistamin ini agar dikatakan efektif[9].

Implikasi Klinis dan Kesimpulan

  • Penggunaan antihistamin pada asma perlu dipertimbangkan manfaat dan risikonya. Pencapaian efek bronkodilatasi dan peningkatan fungsi paru memerlukan dosis antihistamin yang lebih tinggi dari dosis konvensional
  • Peningkatan dosis antihistamin disertai dengan peningkatan risiko timbulnya efek samping, contohnya: efek kantuk dan penurunan konsentrasi. Sehingga, membuat antihistamin, terutama generasi pertama, terbatas penggunaannya
  • Antihistamin, terutama generasi kedua, dipertimbangkan untuk diberikan pada pasien dengan rhinitis alergi dan asma sebagai kontrol dari rhinitis alergi dan bukan untuk mencegah serangan asma
  • Antihistamin generasi kedua seperti terfenadin dan loratadin dapat dipertimbangkan penggunaannya pada asma dalam dosis 2 – 3 kali lipat dosis konvensional dan terutama pada asma alergik
  • Penggunaan antihistamin pada kasus asma dengan rhinitis alergi dan/atau asma alergik tetap harus dipertimbangkan keuntungan dan risikonya. Terutama pada keuntungan efek untuk mengurangi gejala asma, belum terdapat banyak studi dengan kualitas yang baik yang menyatakan efeknya.
  • Antihistamin tidak menjadi pilihan dalam pengobatan asma baik sebagai pengontrol maupun pelega, pilihan obat-obatan yang direkomendasikan adalah kortikosteroid inhalasi dan/atau oral, agonis beta-2 adrenergik dan/atau antagonis reseptor leukotrien. Hal ini disebabkan karena inkonsistensi dari temuan efek antihistamin pada asma

Referensi