Apakah Ini Saat Yang Tepat Untuk Berhenti Meresepkan Salbutamol Oral?

Oleh dr. Hunied Kautsar

Salbutamol oral terbukti tidak efektif dan direkomendasikan supaya dokter berhenti meresepkannya walau demikian salbutamol oral masih digunakan dengan mempertimbangkan harga dan ketersediaan bentuk inhalasi.

Asma

Asma adalah penyakit inflamasi kronis yang ditandai dengan obstruksi saluran nafas yang reversibel dan spasme bronkus. [1] Asma tidak dapat disembuhkan namun dapat dikendalikan.

Terapi Pilihan Untuk Asma

Salbutamol Hirup

Terapi pilihan utama untuk gejala asma adalah short-acting inhaled β-agonist (SABAs), seperti salbutamol atau terbutaline.

Salbutamol tersedia dalam berbagai bentuk yakni pressurised, metered-dose inhalers, cairan nebulasi, cairan intravena, sirup dan serbuk puyer untuk pemakaian oral.

Salbutamol adalah reseptor β2 agonis yang bersifat selektif dan long-acting. Relaksasi otot polos terjadi karena stimulasi oleh ion magnesium dan adenyl cyclase yang terikat pada membran yang berfungsi meningkatkan level seluler dari AMP siklik. Level ini yang diduga menghambat masuknya ion kalsium ke dalam sel sehingga menghambat kontraksi otot polos. Efek samping β2 antara lain vasodilatasi, tremor otot rangka, relaksasi otot uterus, hiperglikemia dan hipokalemia.

Meter Dose Inhaler (MDI) yang mengandung salbutamol melepaskan 100 µg salbutamol per hembusan dan paling baik jika diadministrasikan melalui volumatic spacer. Efektivitasnya juga bergantung pada kemampuan pasien untuk menghirup; 20-40 hembusan dibutuhkan untuk mengembalikan konstriksi bronkus. [4]

Salbutamol hirup akan dihembuskan ke dalam spacer, kemudian dihirup, didepositkan lalu diabsorbsi melalui mukosa rongga mulut, faring, trakea, bronkus, dan juga ditelan kemudian diabsorbsi dari usus.

Obat yang dihirup akan melintasi epitel saluran nafas, masuk ke dalam sistem vaskular. Ketika obat memasuki bronkus, obat akan melintasi lapisan cair saluran nafas (lapisan mukus tebal dan lapisan silia yang mengandung air) memasuki ikatan spiral otot polos di bronkus menuju reseptor β2 adrenergik. [5]

Syrup Salbutamol Sumber: G Whiteway, Stockvault 2017 Syrup Salbutamol Sumber: G Whiteway, Stockvault 2017

Oral Sabutamol

Salbutamol yang diadministrasikan secara per-oral akan mengalami efek lintas pertama obat (first pass metabolism). First pass effect atau first-pass metabolism atau presystemic metabolism adalah fenomena metabolisme obat dimana konsentrasi obat berkurang secara besar sebelum mencapai sirkulasi sistemik. Obat yang hilang selama absorpsi ini terutama karena pengaruh dinding usus dan hati.

Setelah obat ditelan, obat diserap oleh sistem pencernaan dan memasuki sistem portal hepatika, lalu dibawa ke vena portal di hati sebelum disebarkan ke seluruh tubuh.

Hati memetabolisme banyak obat, kadang-kadang sedemikian rupa sehingga hanya sejumlah kecil obat aktif muncul dari hati ke seluruh sistem peredaran darah. Efek lintas pertama melalui hati sangat mengurangi bioavailabilitas obat

Rute alternatif pemberian seperti sublingual, supositoria, injeksi intravena, injeksi intramuskular, aerosol inhalasi, dan transdermal menghindari efek lintas pertama karena administrasi ini memungkinkan obat yang akan diserap langsung ke dalam sirkulasi sistemik

Oral Salbutamol (oral β-agonist) adalah salah satu pilihan terapi untuk asma namun berdasarkan berbagai penelitian, penggunaan oral salbutamul sudah tidak dianjurkan.

Berikut adalah beberapa panduan terapi asma dari beberapa negara yang tidak merekomendasikan pemberian oral salbutamol sebagai terapi gejala asma:

1. Pediatric Society of  New Zealand, tahun 2005 [6]

"Pemberian oral β-agonist sebagai terapi untuk gejala asma sebaiknya dihindari pada semua usia karena mula kerja obat (onset of action) yang lambat (30-60 menit), relatif tidak efektif dan insiden efek samping dan gangguan tidur yang cukup tinggi."

2. National Asthma Council Australia, tahun 2006 [7]

"Terapi oral dengan menggunakan SABAs tidak dianjurkan untuk semua usia karena mula kerja obat (onset of action) yang lambat dan insidensi efek samping dan gangguan tidur yang lebih tinggi. Terapi oral mungkin mempunyai peran kecil dalam terapi asma bagi anak dibawah usia 2-3 tahun dengan gejala asma ringan dan jarang." 

3. Singapore Ministry of Health, Clinical Practice Guidelines: Management of Asthma, tahun 2008 [8]

"Bronchodilator yang dihirup dipilih karena mempunyai mula kerja obat (onset of action) yang lebih cepat dan efek samping yang lebih sedikit dibandingkan dengan bronchodilator yang diberikan secara per-oral atau dengan IV.  Terapi oral jarang dibutuhkan karena kebanyakan anak-anak bisa menggunakan terapi hirup dengan inhaler dan spacer yang memadai."

4. Academy of Medicine of Malaysia, Malaysian Thoracic Society, Lung Foundation of Malaysia; Clinical Practice Guidelines for The Management of Childhood Asthma, tahun 2014 [3]

"Pemakaian bronchodilator oral secara rutin tidak disarankan karena indeks terapeutik yang kecil dan absorpsi gastrointestinal yang tidak menentu menyebabkan efektivitas yang tidak konsisten."

5. National Asthma Council Australia; Australian Asthma Handbook, tahun 2014 [9]

"Oral short-acting β-agonist diasosiasikan dengan efek yang tidak diinginkan dan tidak dianjurkan untuk semua kelompok usia."

6. Global Initiative for Asthma (GINA), tahun 2014 [10]

"Terapi dengan oral bronchodilator tidak dianjurkan karena mula kerja obat (onset of action) yang lebih lambat dan angka efek samping yang lebih tinggi dibandingkan dengan bronchodilator yang dihirup."

7. British Thoracic Society/Scottish Intercollegiate Guidelines Network, tahun 2014 [11]

"Oral β-agonist tidak direkomendasikan untuk asma akut pada balita."

Salbutamol yang diberikan secara per-oral memiliki efek bronchodilator yang lebih lambat jika dibandingkan dengan salbutamol yang dihirup. Selain itu oral salbutamol memiliki resiko tertelan secara tidak sengaja oleh anak-anak. Meskipun resiko tertelannya kecil, namun komplikasi yang mungkin terjadi termasuk hipokalemia, hipoglikemia, kegelisahan dan takikardia. [12]

Walaupun sudah banyak penelitian yang merekomendasikan untuk menghentikan penggunaan salbutamol per-oral, WHO belum menghapus salbutamol oral dari daftar pilihan obat untuk terapi asma. [13] Ada beberapa alasan salbutamol masih diberikan per-oral, terutama di daerah dengan keterbatasan sumber daya:

  • tidak tersedia salbutamol dalam sediaan untuk dihirup karena harga yang relatif lebih mahal
  • salbutamol lebih mudah diberikan per-oral
  • meningkatkan kepatuhan pasien dalam mengkonsumsi obat [14]

  • stigma sosial mengenai penggunaan inhaler
  • tidak tersedianya waktu dan sumber daya untuk edukasi mengenai teknik penggunaan inhaler. [15]

Di Indonesia sendiri, pedoman penatalaksanaan asma juga menyarankan penggunaan sediaan inhalasi dibandingkan dengan oral. Oleh karena itu, sebaiknya hentikan penggunaan salbutamol oral dan beralihlah ke sediaan hirup jika mudah didapat dan harganya terjangkau oleh pasien.

Referensi