Waktu Istirahat Ideal sebelum Pemeriksaan Tekanan Darah

Oleh :
dr. Katharina Listyaningrum Prastiwi

Sebelum dilakukan pemeriksaan tekanan darah, pasien perlu beristirahat terlebih dahulu. Sesuai rekomendasi internasional, waktu istirahat sebaiknya antara 3−5 menit. Namun, bagaimana data penelitian yang jelas mengenai waktu istirahat yang ideal tersebut? Pemeriksaan tekanan darah merupakan salah satu pemeriksaan yang salah satunya digunakan untuk menegakkan diagnosis hipertensi. Melalui pemeriksaan tekanan darah yang tepat, diharapkan pasien dapat diterapi sesuai indikasi, dan tidak terjadi overdiagnosis maupun overtreatment. [1,2]

Pentingnya Beristirahat sebelum Pemeriksaan Tekanan Darah

Sebelum pemeriksaan tekanan darah, istirahat perlu dilakukan agar hasil pengukuran tepat dan diagnosis hipertensi ditegakkan secara akurat. Terdapat penelitian yang menunjukkan kecenderungan diagnosis yang salah pada pasien hipertensi. Misalnya pasien yang ternyata mengalami hipertensi jas putih (white coated hypertension) yang membutuhkan pemeriksaan tekanan darah teknik ambulatori.[3]

shutterstock_550787611-min

Diagnosis yang salah akan menyebabkan pasien mendapat terapi yang salah. Hipertensi jas putih dideskripsikan sebagai tekanan darah di atas 140/90 mmHg saat diperiksa di ruang pemeriksaan dokter. Sementara pada pemeriksaan mandiri di rumah, rata-rata tekanan darah tidak lebih dari 135/85 mmHg. Terdapat penelitian yang menyatakan bahwa risiko penyakit kardiovaskuler meningkat pada pasien dengan hipertensi dibandingkan dengan hipertensi jas putih. Karena itu, pasien dengan hipertensi jas putih seharusnya tidak membutuhkan terapi antihipertensi. Terapi hipertensi jas putih sampai saat ini masih belum diketahui dengan jelas.[3,4]

Studi meta analisis oleh Briasoulis et al menyebutkan dari 29100 responden ditemukan 4806 responden yang mengalami hipertensi jas putih. Beberapa hal yang menyebabkan terjadinya hipertensi jas putih adalah waktu pemeriksaan yang tidak tepat, faktor stress, dan posisi pasien saat dilakukan pemeriksaan.[3,4]

Penurunan tekanan darah setelah beristirahat diduga berhubungan dengan modifikasi hemodinamik dalam tubuh. Pada saat istirahat sebelum pemeriksaan tekanan darah, pasien diminta untuk duduk tenang dan tidak melakukan aktivitas apapun. Hal ini akan merangsang relaksasi tubuh dan menurunkan kerja sistem saraf simpatis. Mekanisme ini mengakibatkan terjadinya penurunan resistensi vaskular sistemik secara gradual.[8,9]

Rata-rata Waktu Pemeriksaan Pasien

Penegakkan diagnosis hipertensi bisa tidak tepat karena terbatasnya waktu istirahat yang diberikan untuk pasien yang datang ke fasilitas kesehatan. Rata-rata waktu pemeriksaan pasien di fasilitas kesehatan hanya berkisar 10,7±6,7 menit di negara-negara Eropa. Sementara di fasilitas kesehatan di Indonesia, waktu pemeriksaan rata-rata kurang dari 15 menit. Hal ini tentu menyulitkan bagi pasien dan dokter untuk memberikan waktu istirahat yang ideal sebelum dilakukan pemeriksaan tekanan darah.[1,4,7]

Rata-rata pasien hanya diberikan waktu 3−5 menit duduk sebelum pemeriksaan tekanan darah. Sedangkan beberapa penelitian menyebutkan 3−5 menit istirahat belum cukup untuk dapat menegakkan diagnosis hipertensi dengan tepat. Tekanan sistolik masih akan turun bila pemeriksaan diulang pada menit-menit berikutnya.[5]

Waktu Istirahat yang Diperlukan

Waktu istirahat yang diperlukan sebelum pemeriksaan tekanan darah sebaiknya lebih dari 3−5 menit, untuk mencapai hasil yang akurat. Penelitian Mahe et al, tahun 2017, menemukan bahwa 25 menit merupakan waktu istirahat yang ideal. Pada penelitian ini ditemukan bahwa penurunan tekanan darah mulai terjadi dari menit ke-5, dan stabil pada menit ke-25.[1]

Hasil penelitian senada didapatkan oleh Bos et al, yaitu pemeriksaan tekanan darah yang stabil terjadi pada menit ke-30. Penelitian ini menyebutkan bahwa penurunan tekanan sistolik dapat mencapai 22,8 mmHg, dan tekanan diastolik sebesar 11,6 mmHg. Penurunan ini terjadi terutama pada pasien di atas 70 tahun.[6]

Penelitian lain dilakukan oleh Nicolic et al untuk mengetahui waktu istirahat yang diperlukan untuk menurunkan tekanan darah di fasilitas kesehatan dan di rumah. Kesimpulan penelitian menyebutkan waktu istirahat untuk menurunkan tekanan darah pada pemeriksaan di rumah istirahat adalah 5 menit, sedangkan pemeriksaan yang dilakukan di fasilitas kesehatan diperlukan waktu istirahat 10 menit. Sebanyak 6,4% responden mengalami penurunan tekanan darah dengan istirahat selama 10 menit dibandingkan dengan responden yang hanya istirahat 5 menit. [8]

Njonnou et al melakukan penelitian pada pasien hipertensi dengan diabetes mellitus. Pemeriksaan tekanan darah dilakukan pada menit ke-15, 30, dan 45. Ditemukan penurunan tekanan darah pada menit ke-30 sebesar 8,3 mmHg untuk sistolik, dan 3,1 mmHg untuk diastolik. Penurunan juga terjadi pada menit ke-45 hingga 13,5 mmHg untuk sistolik, dan 5,5 mmHg untuk diastolik. Penelitian ini menganjurkan pemeriksaan tekanan darah dilakukan setelah istirahat selama 45 menit.[10]

Studi meta analisis oleh Briasoulis et al menyimpulkan bahwa setidaknya dibutuhkan waktu 16 menit untuk menstabilkan tekanan darah sistolik dan diastolik pasien. Bila tekanan darah diperiksa di bawah waktu tersebut, kesalahan diagnosis masih dapat terjadi. Tekanan darah puncak terjadi di menit ke-4, dan mulai menurun signifikan di menit ke-10.[3]

Kesimpulan

Pemeriksaan tekanan darah merupakan pemeriksaan yang biasa digunakan untuk menegakkan diagnosis hipertensi. Namun, pemeriksaan tekanan darah yang tidak ideal mampu mengaburkan diagnosis hipertensi. Salah satu yang memengaruhi adalah waktu istirahat yang diperlukan sebelum pemeriksaan dilakukan. Rekomendasi internasional mengatakan 3−5 menit merupakan waktu istirahat yang ideal, tetap hal ini dianggap tidak relevan. Beberapa penelitian menganjurkan waktu istirahat yang lebih lama, yaitu antara 10 hingga 30 menit. Pada berbagai penelitian tersebut ditemukan penurunan tekanan darah yang signifikan apabila waktu istirahat diperpanjang lebih dari 5 menit. Melalui pemeriksaan yang ideal diharapkan diagnosis hipertensi jubah putih dapat diminimalisir. Hal ini nantinya juga akan berpengaruh terhadap jumlah pasien yang mendapatkan terapi antihipertensi.

Referensi