Peran Suplementasi Vitamin C Dosis Tinggi dalam Pencegahan dan Penanganan ISPA

Oleh dr. Maria Rossyani

Suplementasi vitamin C dosis tinggi berperan dalam pencegahan dan penanganan infeksi saluran pernapasan atas (ISPA). (ISPA) merupakan sebutan untuk penyakit yang yang sebagian besar disebabkan oleh sekelompok virus saluran pernapasan, misalnya; rhinovirus, adenovirus, coronavirus, influenza, dsb. Dengan demikian, istilah ISPA tidak merujuk kepada entitas penyakit yang tunggal, namun kepada sebuah kelompok penyakit.[1]

Depositphotos_95496142_m-2015_compressed

Selama 6 hingga 7 dekade ke belakang, terdapat perdebatan mengenai intervensi non-farmasi (Non-pharmaceutical intervention - NPI) yang dapat pula dilakukan saat musim flu. Salah satu NPI yang paling sering diperdebatkan adalah penggunaan vitamin C pada musim flu.

Vitamin C atau asam askorbat merupakan vitamin esensial yang tidak diproduksi oleh tubuh. Recommended dietary allowance vitamin C sekitar 90 mg / hari untuk pria dan 75 mg/ hari untuk wanita. Jika melebihi dosis tinggi (>1000 mg), vitamin C dapat menyebabkan nyeri perut, flatulens, dan diare, serta pada kasus lebih ekstrim ketika intake vitamin C >2000 mg, dapat menyebabkan mual dan batu ginjal.[3] Vitamin C tidak disimpan dalam tubuh maka harus dicukupi setiap harinya melalui makanan atau minuman yang dikonsumsi. [4]

Peran Vitamin C dalam meningkatkan Imunitas

Pada tahun 1970, Linus Pauling pertama kali melakukan meta analisis terhadap 4 studi yang menggunakan Vitamin C dalam trial terkontrol plasebo untuk meneliti peran vitamin C mencegah ISPA. Namun pada waktu itu mekanisme kerja vitamin C dalam meningkatkan imunitas belum dapat dijelaskan. Bagaimanapun, sejak saat itu hingga sekarang, produk-produk yang mengandung vitamin C sering diiklankan sebagai agen untuk mencegah ISPA.

Efek vitamin C terhadap kekebalan tubuh diduga dimediasi oleh kemampuannya untuk mempengaruhi fagositosis, kemotaksis dari leukosit, menghambat replikasi virus, dan meningkatkan produksi interferon. [5] Studi lain menyatakan bahwa vitamin C, bertindak sebagai anti-oksidan yang larut air, mampu menetralkan stress oksidatif yang dihasilkan oleh infeksi. Vitamin C dapat pula meregenerasi glutation serta dapat pula menstimulasi aktivitas netrofil dan monosit.[6]

Vitamin C sebagai agen profilaksis ISPA

Pada meta analisis yang dipublikasikannya, Linus Pauling berkesimpulan bahwa berdasarkan 4 studi inisial terhadap vitamin C sebagai agen pencegah ISPA, diperlukan dosis tinggi (“mega-dose”) agar vitamin C dapat berfungsi sebagai profilaksis.[7]  Semenjak publikasi ini banyak sekali trial maupun metaanalisis yang dilakukan di berbagai negara di dunia. Studi yang sudah meneliti tentang vitamin C memiliki metodologi yang berbeda-beda dan heterogenitas yang tinggi. Secara garis besar dapat dikategorikan lagi berdasarkan efek vitamin C terhadap insiden / durasi dan keparahan ISPA.

Vitamin tidak menurunkan insiden ISPA pada komunitas umum

Walaupun terdapat hasil yang positif pada studi-studi awal efek vitamin C terhadap insiden ISPA (tahun 1940 – 1970), hasil tersebut tidak tercermin pada studi yang lebih baru. Pada tahun 1997 Hemila et al tidak menemukan penurunan insiden ISPA bahkan setelah pemberian 1000 mg vitamin C per hari pada komunitas umum. Inklusivitas studi yang memberikan vitamin C pada dosis lebih rendah (200 mg/hari) menunjukkan pula hasil yang sama. Studi metaanalisis pada tahun 2013 dari 29 randomized trial dan mencakup 11.000 peserta juga menunjukkan bahwa tidak ada manfaat penurunan insiden ISPA pada administrasi harian vitamin C dosis 200 mg – 1000 mg. [5]

Perbedaan hasil pada studi inisial vitamin C dan studi yang lebih baru mungkin dapat dijelaskan dengan adanya kondisi defisiensi vitamin C pada populasi di studi yang lebih awal, di mana konsumsi dapat mencapai dosis 30 – 60 mg/hari. Hal itu pula yang mungkin menjelaskan efek yang sudah muncul pada dosis kecil (<200 mg) pada studi-studi ini. [1,5]

Vitamin C dapat mencegah ISPA pada populasi khusus.

Terdapat pula studi yang dilakukan pada populasi khusus seperti pelari marathon, atlit ski, dan anggota militer yang sedang melakukan pelatihan pada kondisi sub-arktik. Pada sub-populasi dengan beban fisik yang berat ini, ditemukan adanya manfaat yang signifikan dalam intake vitamin C dosis 500 mg – 2000 mg/hari dalam mencegah ISPA. Dosis yang sama tidak memberikan pengaruh pada populasi umum. [1]

Perbedaan ini telah dicoba untuk dijelaskan oleh Anderson et al (2008), di mana etiologi ISPA pada kedua populasi tersebut mungkin berbeda. ISPA pada populasi umum disebabkan oleh virus, sementara gejala ISPA pada sub-populasi dengan beban aktivitas fisik berat dapat disebabkan oleh virus, maupun exercise-induced bronchoconstriction (EIB). [8] EIB menghasilkan jejas pada saluran napas akibat eksersi yang berlebih dan memiliki gejala pada ISPA. Dalam kasus ini, sifat antioksidan yang dimiliki oleh vitamin C dapat menetralkan EIB melalui mekanisme yang belum secara jelas diketahui. Semenjak hipotesa ini, sudah terdapat studi yang menunjukkan efek benefisial vitamin C terhadap fungsi pulmoner pada atlit yang mengalami EIB.[8]

Walaupun terdapat kemungkinan bahwa gejala ISPA yang dialami para atlit merupakan EIB gabungan infeksi virus, namun manfaat Vitamin C pada sub-populasi ini telah terbukti dalam berbagai studi.

Bagaimana dengan efek vitamin C terhadap durasi dan keparahan ISPA?

Metaanalisis pada tahun 2010 menunjukkan bahwa vitamin C dapat menurunkan durasi dan keparahan ISPA pada 7,7% populasi dewasa dan 13,2% populasi pediatrik. [1] Walaupun secara statistik temuan ini memiliki hasil yang signifikan, pada praktik sehari-hari belum tentu dapat betul-betul bermanfaat. Secara umum seorang dewasa mengalami ISPA sekitar 2 – 3 kali per tahun. Individu tersebut harus mengonsumsi vitamin C 200-1000 mg secara reguler setiap harinya untuk memiliki kemungkinan penurunan durasi dan keparahan ISPA di bawah 8%. Penurunan durasi ISPA sendiri menurut studi yang sama sekitar 1 hari, sehingga manfaatnya secara praktis mungkin belum dapat ditonjolkan.[1]

Sementara itu, seorang anak dapat mengalami episode ISPA lebih sering. Dalam setahun, estimasi yang terkumpul adalah sekitar 28 hari seorang anak mengalami ISPA. Pemberian vitamin C dapat menurunkan durasi tersebut menjadi sekitar 24 hari. Manfaat ini dapat dikatakan lebih besar ketimbang yang terlihat pada populasi dewasa, namun perlu ditinjau kembali pemberian dosis vitamin C dosis tinggi secara teratur pada anak.

Pengaruh dosis yang lebih tinggi terhadap efektivitas Vitamin C dalam mencegah ISPA

Telah dibuktikan bahwa dosis reguler vitamin C tidak memberikan efek yang terlalu signifikan terhadap pencegahan, penurunan durasi, maupun penurunan keparahan ISPA. Terdapat meta analisis menunjukan bahwa vitamin C pada dosis 1000 mg/hari menurunkan durasi ISPA rata-rata 6% pada dewasa dan 17% pada anak-anak.[9]  Sementara itu, dosis 2000 mg/hari menurunkan durasi ISPA sebesar 21% pada orang dewasa dan 26% pada anak-anak.[9] Data ini mengesankan bahwa dosis tinggi dapat memberikan efek yang lebih besar. Studi lain menyatakan bahwa dosis sekitar 6000 – 8000 mg/hari menunjukkan hasil yang lebih signifikan. Bahkan telah dilaporkan oleh beberapa laporan kasus bahwa dosis hingga 15.000 mg/hari merupakan dosis di mana efek vitamin C mulai dapat muncul secara nyata.[10]

Dosis ini merupakan dosis sangat tinggi yang risiko dan keuntungannya mungkin harus dipertimbangkan ulang, efek samping seperti diare mulai dirasakan pada dosis di atas 10.000 mg. [10] Walaupun begitu, profil keamanan vitamin C secara umum baik bahkan beberapa individu dapat diberikan dosis hingga 100.000 mg melalui IV tanpa kemunculan efek yang tidak diharapkan [1].

Rekomendasi konsumsi Vit C untuk pencegahan ISPA

Studi menunjukkan lebih baik mengonsumsi vitamin C secara reguler dalam dosis sekitar 200 mg/hari dibandingkan mulai mengonsumsi vitamin C hanya saat mulai mengalami gejala ISPA. Dengan mencukupi dosis harian Vitamin C tersebut sebagai bagian dari populasi umum, insiden ISPA tidak menurun, tetapi durasi dan keparahan dapat berkurang secara minimal. Dosis yang lebih tinggi (> 6000 mg) diperlukan untuk menunjukkan efektivitas vitamin C secara nyata untuk menurunkan insidensi ISPA. Namun penting pula untuk mengingat efek samping konsumsi vitamin C dosis tinggi, termasuk yang serius seperti terbentuknya batu ginjal, dan membandingkannya dengan peningkatan efektivitas terhadap pencegahan maupun penurunan keparahan gejala ISPA yang didapat.

Referensi