Masuk atau Daftar

Alo! Masuk dan jelajahi informasi kesehatan terkini dan terlengkap sesuai kebutuhanmu di sini!
atau dengan
Facebook
Masuk dengan Email
Masukkan Kode Verifikasi
Masukkan kode verifikasi yang telah dikirimkan melalui SMS ke nomor
Kami telah mengirim kode verifikasi. Masukkan kode tersebut untuk verifikasi
Kami telah mengirim ulang kode verifikasi. Masukkan kode tersebut untuk verifikasi
Terjadi kendala saat memproses permintaan Anda. Silakan coba kembali beberapa saat lagi.
Selanjutnya

Tidak mendapatkan kode? Kirim ulang atau Ubah Nomor Ponsel

Mohon Tunggu dalam Detik untuk kirim ulang

Apakah Anda memiliki STR?
Alo, sebelum melanjutkan proses registrasi, silakan identifikasi akun Anda.
Ya, Daftar Sebagai Dokter
Belum punya STR? Daftar Sebagai Mahasiswa

Nomor Ponsel Sudah Terdaftar

Nomor yang Anda masukkan sudah terdaftar. Silakan masuk menggunakan nomor [[phoneNumber]]

Masuk dengan Email

Silakan masukkan email Anda untuk akses Alomedika.
Lupa kata sandi ?

Masuk dengan Email

Silakan masukkan nomor ponsel Anda untuk akses Alomedika.

Masuk dengan Facebook

Silakan masukkan nomor ponsel Anda untuk verifikasi akun Alomedika.

AI DAN SKP KHUSUS UNTUK DOKTER

Logout
Masuk
Download Aplikasi
  • Alomedika AI New
  • CME
  • Webinar
  • E-Course
  • Diskusi Dokter
  • Penyakit & Obat
    Penyakit A-Z Obat A-Z Tindakan Medis A-Z
Epidemiologi Middle East Respiratory Syndrome (MERS) general_alomedika 2026-08-25T17:03:47+07:00 2026-08-25T17:03:47+07:00
Middle East Respiratory Syndrome (MERS)
  • Pendahuluan
  • Patofisiologi
  • Etiologi
  • Epidemiologi
  • Diagnosis
  • Penatalaksanaan
  • Prognosis
  • Edukasi dan Promosi Kesehatan

Epidemiologi Middle East Respiratory Syndrome (MERS)

Oleh :
Rainey Ahmad Fajri Putranta
Share To Social Media:

Data epidemiologi menunjukkan bahwa prevalensi Middle East Respiratory Syndrome (MERS) terus menurun. Sebagian besar kasus baru dalam periode tahun 2022 hingga 2026 ditemukan di Saudi Arabia.[12]

Global

Hingga 5 Januari 2026, WHO telah menerima laporan 2.635 kasus MERS terkonfirmasi laboratorium dari 27 negara di kawasan Timur Tengah, Afrika Utara, Eropa, Amerika Serikat, dan Asia. Sebagian besar kasus berasal dari Saudi Arabia, yaitu sebanyak 2.224 kasus (84% dari seluruh kasus global).

Sejak awal pandemi COVID-19 pada tahun 2020 terjadi penurunan tajam jumlah kasus MERS yang dilaporkan. Pada periode 2016–2019 tercatat 879 kasus (rerata 220 kasus per tahun), sedangkan sejak 2020 hingga Januari 2026 hanya dilaporkan 124 kasus (rerata 21 kasus per tahun). Meski demikian, WHO menilai risiko penularan MERS-CoV masih berada pada tingkat moderat karena virus tetap bersirkulasi secara terbatas, terutama di kawasan Timur Tengah.

Dalam periode sejak pembaruan WHO terakhir pada November 2022 hingga 5 Januari 2026, dilaporkan 36 kasus baru MERS dari 4 negara, yaitu:

  • 32 kasus dari Saudi Arabia
  • 2 kasus dari Perancis
  • 1 kasus dari Uni Emirat Arab
  • 1 kasus dari Oman

Dari kasus-kasus tersebut, 14 pasien meninggal dunia (39%), seluruhnya berasal dari Arab Saudi. Sebagian besar pasien berjenis kelamin laki-laki (83%), dengan median usia 60 tahun, dan sekitar 75% memiliki penyakit penyerta seperti diabetes, hipertensi, penyakit jantung, atau gagal ginjal kronis.

Penularan zoonotik dari unta dromedaris tetap menjadi sumber utama infeksi manusia, sementara transmisi antar manusia masih terbatas dan terutama terjadi di fasilitas kesehatan. Hal ini tercermin dari ditemukannya 3 klaster terkait pelayanan kesehatan di Arab Saudi pada tahun 2024–2025 yang melibatkan total 12 kasus.

Selain itu, terdapat tiga kasus terkait perjalanan internasional dengan paparan di Timur Tengah, termasuk dua kasus yang terdiagnosis di Prancis pada tahun 2025, namun pelacakan kontak tidak menemukan adanya kasus sekunder sehingga menunjukkan bahwa penularan berkelanjutan di komunitas masih jarang terjadi.[12]

Indonesia

Belum ada data mengenai angka kejadian MERS-CoV di Indonesia. Namun, masyarakat Indonesia memiliki risiko terkena MERS saat bepergian ke Arab Saudi bertujuan untuk menunaikan ibadah haji, ibadah umrah, ataupun menjadi tenaga kerja di Arab Saudi. Oleh karena itu, diperlukan pengawasan lebih lanjut.[2]

Mortalitas

Sejak pertama kali diidentifikasi pada tahun 2012, MERS telah menyebabkan 964 kematian. WHO melaporkan bahwa case fatality ratio (CFR) dari MERS adalah sebesar 37%. Ini berarti bahwa meskipun penyakit ini semakin menurun angka kejadiannya, tingkat keparahan penyakit ini masih tinggi.[12]

 

 

Direvisi oleh: dr. Bedry Qintha

Referensi

2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Kesiapsiagaan Menghadapi Middle East Respiratory Syndrome-Corona Virus (MERS-CoV). Jakarta: Kementerian Kesehatan. 2017. https://infeksiemerging.kemkes.go.id/download/Buku_Kesiagaan_MERS.pdf
12. WHO. Middle East respiratory syndrome: global summary and assessment of risk. 2026. https://iris.who.int/server/api/core/bitstreams/5102de84-cacb-4eb7-b021-149b90997df5/content

Etiologi Middle East Respiratory...
Diagnosis Middle East Respirator...

Artikel Terkait

  • Efikasi Masker Bedah dan Masker Respirator N95 untuk Mencegah Infeksi Saluran Pernapasan pada Tenaga Medis
    Efikasi Masker Bedah dan Masker Respirator N95 untuk Mencegah Infeksi Saluran Pernapasan pada Tenaga Medis
  • Klorokuin Fosfat dan Remdesivir Sebagai Terapi COVID- 19
    Klorokuin Fosfat dan Remdesivir Sebagai Terapi COVID- 19
  • Apakah Terapi Plasma Konvalesens untuk COVID-19 Masih Diperlukan?
    Apakah Terapi Plasma Konvalesens untuk COVID-19 Masih Diperlukan?
  • Bukti Ilmiah Physical Distancing pada Pandemi COVID-19
    Bukti Ilmiah Physical Distancing pada Pandemi COVID-19
  • Fibrosis Paru Pada Pasien COVID-19
    Fibrosis Paru Pada Pasien COVID-19

Lebih Lanjut

Diskusi Terbaru
Anonymous
Dibalas 4 jam yang lalu
Cikunguyah
Oleh: Anonymous
2 Balasan
Sore dok izin diskusiSaya kedatangan pasien permepuan usia 36 thn mengeluhkan 3 minggu yang lalu sempat demam ± 3hari ( sekarang sdh tdk demam) di sertai...
dr.Elizabeth Anastasya
Dibalas kemarin, 14:12
Ikuti e-Course ber SKP Kemenkes - Infeksi Soil-Transmitted Helminth dan Protozoa
Oleh: dr.Elizabeth Anastasya
1 Balasan
ALO Dokter! Link daftar: https://www.alomedika.com/ecourse/infeksi-soil-transmitted-helminth-dan-protozoa-usus  Link LMS:...
dr. Hudiyati Agustini
Dibalas 24 Agustus 2026, 13:10
Acne bukan sekadar masalah kulit! Ikuti e-Course Update Terkini Acne Vulgaris: Dari Skincare hingga Terapi Sistemik
Oleh: dr. Hudiyati Agustini
1 Balasan
ALO Dokter!Acne bukan sekadar masalah kulit— terapi terbaru dapat mengubah cara Anda memilih kombinasi terapi untuk setiap pasien.Segera daftar dan ikuti...

Lebih Lanjut

Download Aplikasi Alomedika & Ikuti CME Online-nya!
Kumpulkan poin SKP sebanyak-banyaknya!

  • Tentang Kami
  • Advertise with us
  • Syarat dan Ketentuan
  • Privasi
  • Kontak Kami

© 2024 Alomedika.com All Rights Reserved.