Masuk atau Daftar

Alo! Masuk dan jelajahi informasi kesehatan terkini dan terlengkap sesuai kebutuhanmu di sini!
atau dengan
Facebook
Masuk dengan Email
Masukkan Kode Verifikasi
Masukkan kode verifikasi yang telah dikirimkan melalui SMS ke nomor
Kami telah mengirim kode verifikasi. Masukkan kode tersebut untuk verifikasi
Kami telah mengirim ulang kode verifikasi. Masukkan kode tersebut untuk verifikasi
Terjadi kendala saat memproses permintaan Anda. Silakan coba kembali beberapa saat lagi.
Selanjutnya

Tidak mendapatkan kode? Kirim ulang atau Ubah Nomor Ponsel

Mohon Tunggu dalam Detik untuk kirim ulang

Apakah Anda memiliki STR?
Alo, sebelum melanjutkan proses registrasi, silakan identifikasi akun Anda.
Ya, Daftar Sebagai Dokter
Belum punya STR? Daftar Sebagai Mahasiswa

Nomor Ponsel Sudah Terdaftar

Nomor yang Anda masukkan sudah terdaftar. Silakan masuk menggunakan nomor [[phoneNumber]]

Masuk dengan Email

Silakan masukkan email Anda untuk akses Alomedika.
Lupa kata sandi ?

Masuk dengan Email

Silakan masukkan nomor ponsel Anda untuk akses Alomedika.

Masuk dengan Facebook

Silakan masukkan nomor ponsel Anda untuk verifikasi akun Alomedika.

KHUSUS UNTUK DOKTER

Logout
Masuk
Download Aplikasi
  • CME
  • Webinar
  • E-Course
  • Diskusi Dokter
  • Penyakit & Obat
    Penyakit A-Z Obat A-Z Tindakan Medis A-Z
Etiologi Distosia Bahu monika-natalia 2023-02-14T08:43:47+07:00 2023-02-14T08:43:47+07:00
Distosia Bahu
  • Pendahuluan
  • Patofisiologi
  • Etiologi
  • Epidemiologi
  • Diagnosis
  • Penatalaksanaan
  • Prognosis
  • Edukasi dan Promosi Kesehatan

Etiologi Distosia Bahu

Oleh :
dr. Giovanny Azalia Gunawan
Share To Social Media:

Etiologi distosia bahu pada umumnya adalah ukuran bayi yang terlalu besar, panggul ibu yang terlalu sempit, dan malpresentasi janin. Ukuran bayi yang terlalu besar ini sering dihubungkan dengan ibu yang memiliki riwayat diabetes melitus atau riwayat melahirkan bayi makrosomia pada persalinan sebelumnya.[2,6]

Etiologi

Distosia bahu termasuk dalam persalinan macet atau distosia. Distosia berhubungan dengan faktor 3P, yaitu passage (jalan lahir), passenger (bayi), dan power (tenaga).[6]

Passage

Passage atau jalan lahir merupakan jalur yang harus dilewati bayi pada saat proses persalinan. Jalan lahir ini pun harus memiliki ruang cukup agar proses persalinan dapat berjalan dengan lancar. Namun, beberapa ibu memiliki ukuran panggul yang sempit, sehingga terjadi cephalopelvic disproportion (CPD) yang diikuti dengan distosia bahu.[2,6]

Passenger

Passenger adalah bayi yang terlalu besar (>4.000 gram) menjadi penyebab utama terjadinya distosia bahu. Meskipun memiliki ukuran dan bentuk panggul yang kompeten untuk melahirkan per vaginam, risiko terjadinya distosia bahu pada bayi besar tidak dapat disingkirkan.[6]

Power

Power berhubungan dengan tenaga ibu untuk melahirkan. Ibu harus diberi pengetahuan mengenai cara mengejan yang benar agar tidak terjadi persalinan macet. Selain itu, pemberian obat perangsang seperti oksitosin maupun analgesik selama persalinan juga bisa memengaruhi tingkat dan kualitas his pada ibu.[6]

Faktor Risiko

Ada beberapa faktor risiko yang dapat menyebabkan distosia bahu. Faktor risiko ini diklasifikasikan menjadi antepartum dan intrapartum.

Faktor Risiko Antepartum

Faktor risiko antepartum dapat diketahui saat usia kehamilan >24 minggu.  Kondisi yang dapat menyebabkan distosia bahu di antaranya riwayat distosia bahu pada persalinan sebelumnya, usia ibu ≥35 tahun, ibu menderita diabetes melitus ataupun diabetes gestasional, indeks massa tubuh (IMT) ibu hamil >30, kehamilan postterm, CPD, dan rencana induksi persalinan.[1,7]

Faktor Risiko Intrapartum

Faktor risiko intrapartum baru diketahui saat berlangsungnya proses persalinan, yang meliputi pemanjangan kala I persalinan normal, tidak ada kemajuan dalam pembukaan persalinan, augmentasi oksitosin, persalinan pervaginam dengan bantuan instrumen, dan penggunaan analgesik epidural selama persalinan.[2,7]

Referensi

1. Akbar, H. Prabowo, AY. Rodiani. Kehamilan Aterm dengan Distosia Bahu. Medula. 2017; 7(4): 1-7.
2. Miarnasari, E. Prijatna, A. Shoulder Dystocia. CME FK UMS. 2022: 252-264
6. Cunningham, FG. et al. Obstetri Williams Edisi 25e. Jakarta : EGC. 2018.
7. Hill MG, Cohen WR. Shoulder dystocia: Prediction and Management. Womens Health (Lond). 2016; 12(2): 251-261

Patofisiologi Distosia Bahu
Epidemiologi Distosia Bahu

Artikel Terkait

  • Induksi Persalinan pada Kehamilan Postterm Sebaiknya Dilakukan sebelum Usia Gestasi 42 Minggu
    Induksi Persalinan pada Kehamilan Postterm Sebaiknya Dilakukan sebelum Usia Gestasi 42 Minggu
Diskusi Terbaru
dr. Albert Edo Rahmadi, CNIH.MSc, AIFO-K
Dibalas 1 jam yang lalu
Panduan TPT (Terapi Pencegahan Tuberkulosis)
Oleh: dr. Albert Edo Rahmadi, CNIH.MSc, AIFO-K
1 Balasan
ALO Dokter. Saya memiliki pasien dengan kontak erat dengan pasien TB paru yang sedang pengobatan intensif (2 bulan). Bila hasil TST nya negatif dan pasien...
dr. Hudiyati Agustini
Dibalas 22 jam yang lalu
Jadi Gampang! Daftar e-Course ber SKP bisa di Aplikasi Alomedika!
Oleh: dr. Hudiyati Agustini
2 Balasan
ALO Dokter. 🏆🤩Dokter, mau upgrade ilmu? Gampang banget sekarang! Cukup buka aplikasi ALOMEDIKA di HP mu. Lalu klik tab “ SKP” dan Dokter bisa langsung pilih...
Anonymous
Dibalas kemarin, 07:01
Penggunaan obat anti-hipertensi dobel pada HT emergensi
Oleh: Anonymous
1 Balasan
ALO Dokter, jika kita salah mengenali pasien ht emergensi sebagai ht urgensi, apakah penggunaan double anti-hipertensi seperti amlodipin + captoril (yang...

Lebih Lanjut

Download Aplikasi Alomedika & Ikuti CME Online-nya!
Kumpulkan poin SKP sebanyak-banyaknya!

  • Tentang Kami
  • Advertise with us
  • Syarat dan Ketentuan
  • Privasi
  • Kontak Kami

© 2024 Alomedika.com All Rights Reserved.