Doctor icon

Masuk atau Daftar

Alo! Masuk dan jelajahi informasi kesehatan terkini dan terlengkap sesuai kebutuhanmu di sini!
atau dengan
Facebook
Masuk dengan Email
Masukkan Kode Verifikasi
Masukkan kode verifikasi yang telah dikirimkan melalui SMS ke nomor
Kami telah mengirim kode verifikasi. Masukkan kode tersebut untuk verifikasi
Kami telah mengirim ulang kode verifikasi. Masukkan kode tersebut untuk verifikasi
Terjadi kendala saat memproses permintaan Anda. Silakan coba kembali beberapa saat lagi.
Selanjutnya

Tidak mendapatkan kode? Kirim ulang atau Ubah Nomor Ponsel

Mohon Tunggu dalam Detik untuk kirim ulang

Apakah Anda memiliki STR?
Alo, sebelum melanjutkan proses registrasi, silakan identifikasi akun Anda.
Ya, Daftar Sebagai Dokter
Belum punya STR? Daftar Sebagai Mahasiswa

Nomor Ponsel Sudah Terdaftar

Nomor yang Anda masukkan sudah terdaftar. Silakan masuk menggunakan nomor [[phoneNumber]]

Masuk dengan Email

Silakan masukkan email Anda untuk akses Alomedika.
Lupa kata sandi ?

Masuk dengan Email

Silakan masukkan nomor ponsel Anda untuk akses Alomedika.

Masuk dengan Facebook

Silakan masukkan nomor ponsel Anda untuk verifikasi akun Alomedika.

KHUSUS UNTUK DOKTER

Logout
Masuk
Download Aplikasi
  • CME
  • Webinar
  • E-Course
  • Diskusi Dokter
  • Penyakit & Obat
    Penyakit A-Z Obat A-Z Tindakan Medis A-Z
Diagnosis Sepsis general_alomedika 2025-05-14T14:55:09+07:00 2025-05-14T14:55:09+07:00
Sepsis
  • Pendahuluan
  • Patofisiologi
  • Etiologi
  • Epidemiologi
  • Diagnosis
  • Penatalaksanaan
  • Prognosis
  • Edukasi dan Promosi Kesehatan

Diagnosis Sepsis

Oleh :
dr. Pepi Nurapipah
Share To Social Media:

Diagnosis sepsis dapat ditegakkan jika ditemukan adanya infeksi yang dicurigai atau terdokumentasi, disertai tanda disfungsi organ. Dalam pedoman Surviving Sepsis Campaign 2021, skor Sequential Organ Failure Assessment (SOFA) dapat digunakan untuk memprediksi kesintasan pasien, sedangkan skor qSOFA (quick SOFA) tidak lagi disarankan digunakan secara tunggal untuk penapisan diagnosis sepsis karena sensitivitas diagnostik yang buruk.[4,11]

Anamnesis

Manifestasi klinis pada sepsis sangat bervariasi, tergantung pada tempat infeksi pertama kali, organisme penyebab, pola disfungsi organ, status kesehatan pasien sebelumnya, dan interval sebelum tatalaksana awal.

Gejala Awal

Sepsis merupakan respon inflamasi terhadap adanya infeksi. Gejala yang muncul akibat kondisi tersebut yaitu adanya demam atau hipotermia. Gejala awal lainnya yaitu takikardia dan takipnea. Pasien yang mengarah pada syok sepsis akan mengalami hipotensi, oliguria atau anuria, sianosis, hipoksia, dan perubahan status mental.[5]

Gejala Konstitusional

Manifestasi konstitusional dapat berupa diaforesis, demam atau menggigil, malaise, dan myalgia.[5-7]

Sistem Kardiovaskular

Manifestasi sepsis pada sistem kardiovaskular dapat berupa akral dingin, hipotensi, waktu pengisian kapiler memanjang, dan takikardia.[5-7]

Dermatologi

Manifestasi dermatologi biasanya menunjukkan tanda-tanda infeksi berupa abses dan selulitis, atau gangguan koagulasi berupa ekimosis atau petekie. Apabila terjadi gangguan fungsi hati, maka akan didapatkan ikterik.[5-7]

Endokrin

Pada sistem endokrin bisa muncul hiperglikemia yang terjadi karena resistensi insulin akibat sepsis.[5-7]

Gastrointestinal

Pada sistem gastrointestinal, dapat didapatkan manifestasi yang tidak spesifik berupa nyeri abdomen, penurunan bising usus, diare, distensi, kaku abdomen, perdarahan traktus gastrointestinal bagian atas, dan muntah.[5-7]

Genitourinaria

Pada sistem genitourinaria bisa didapatkan manifestasi infeksi saluran kemih berupa nyeri pada daerah kostovertebral, disuria, anyang-anyangan, hematuria, pyuria, perdarahan atau discharge vagina. Selain itu, dapat pula terjadi manifestasi kegagalan ginjal berupa anuria atau oliguria.[5-7]

Hematologi

Manifestasi hematologi dapat berupa anemia (pucat), leukositosis atau leukopenia, dan trombositopenia.[5-7]

Neurologi

Manifestasi neurologis dapat berupa nyeri kepala dan perubahan status mental.[5-7]

Sistem Respirasi

Pada sistem respirasi bisa muncul disfagia, nyeri tenggorok, trismus, batuk, nyeri pleuritik, takipnea, dan hiperventilasi.[5-7]

Pemeriksaan Fisik

Pada tahap awal sepsis, terjadi fase kompensasi yang ditandai dengan tekanan darah yang stabil, ekstremitas hangat, pengisian kapiler kurang dari 2 detik, dan denyut nadi kuat. Pada fase syok dengan kompensasi, apabila ditangani secara progresif dengan resusitasi cairan dan obat suportif vasoaktif, kondisi ini dapat dikembalikan (reversed).

Pada fase dekompensasi, hipotensi akan sulit ditangani, pasien akan menunjukkan tanda klinis seperti ekstremitas dingin, pengisian kapiler memanjang (>3 detik), dan denyut yang tidak teraba. Hipoperfusi memanjang pada kondisi syok yang irreversible dapat berprogresi ke arah disfungsi multiorgan dan kematian.[5]

Saluran Pernapasan

Di paru-paru terjadi disrupsi antara barrier endotel-alveolar. Terjadi akumulasi cairan kaya protein di ruang interstisial paru dan alveoli. Hal ini menyebabkan mismatch perfusi-ventilasi, hipoksia, dan penurunan compliance paru yang menyebabkan acute respiratory distress syndrome (ARDS). Pasien juga bisa mengalami disfagia, trismus, takipnea, dan hiperventilasi.[5-7]

Ginjal

Adanya penurunan perfusi renal, tubular nekrosis akut, dan gangguan mikrovaskular menyebabkan terjadinya gagal ginjal akut.[5-7]

Saluran Pencernaan dan Endokrin

Pada saluran pencernaan, terjadi peningkatan permeabilitas lapisan mukosa. Hal ini menyebabkan translokasi bakteri melewati lapisan saluran cerna.

Pada pemeriksaan fisik bisa didapatkan nyeri tekan abdomen, penurunan bising usus, dan distensi abdomen.[5-7]

Sistem Saraf

Pada pemeriksaan fisik bisa didapatkan perubahan status mental, dan tanda ensefalopati septik seperti penurunan kesadaran (GCS) dari delirium hingga koma.[5-7]

Sistem Dermatologi

Pada sistem dermatologi, bisa didapatkan tanda-tanda infeksi berupa abses dan selulitis, atau gangguan koagulasi berupa ekimosis atau petekie. Apabila terjadi gangguan fungsi hati, maka akan didapatkan ikterik.[5-7]

Sistem Kardiovaskular

Tanda klinis pada sistem kardiovaskular dapat berupa akral dingin, hipotensi, waktu pengisian kapiler memanjang, dan takikardia.[5-7]

Genitourinaria

Pada sistem genitourinaria bisa didapatkan manifestasi infeksi saluran kemih, misalnya nyeri ketok sudut kostovertebra, disuria, hematuria, pyuria, anuria atau oliguria.[5,7]

Syok Sepsis

Syok sepsis terjadi akibat adanya mediator inflamasi  yang yang dilepaskan oleh tubuh yang menyebabkan reaksi inflamasi hebat di seluruh tubuh, sehingga menyebabkan terjadinya dekompensasi hemodinamik. Tanda klinis yang muncul yaitu hipotensi berat, kegagalan organ multipel, hingga disseminated intravascular coagulation (DIC).[12-14]

Diagnosis Banding

Beberapa diagnosis banding sepsis yang perlu dipertimbangkan oleh klinisi adalah infark miokard, pankreatitis akut, emboli paru, dan krisis adrenal.

Infark Miokard

Gejala dari infark miokard dapat berupa nyeri dada yang menjalar ke daerah epigastrium. Pasien dapat mengalami hipotensi dan syok kardiogenik. Namun pada pemeriksaan elektrokardiogram didapatkan ada perubahan iskemik dan hasil laboratorium menunjukkan peningkatan enzim jantung.[15,16]

Pankreatitis Akut

Pada pankreatitis akut dapat terjadi nyeri abdomen, demam, dan hipovolemia. Biasanya terdapat riwayat kolelitiasis, konsumsi alkohol kronis, atau infeksi virus. Terdapat peningkatan serum amilase, lipase, dan kalsium.[15,17]

Emboli Paru Masif

Emboli paru terjadi akibat adanya trombus yang tertahan di arteri paru dan menghambat aliran darah ke paru-paru. Kondisi ini ditandai dengan adanya dispnea akut dan hipotensi. Gejala dapat berupa demam, penurunan status mental, sinkop, dan nyeri dada pleuritis. Emboli pulmonal dapat dibedakan dengan sepsis ditandai dengan adanya riwayat kejadian tromboemboli sebelumnya dan peningkatan D-dimer.[15,18]

Krisis Adrenal

Krisis adrenal merupakan kondisi fatal yang disebabkan oleh kurangnya produksi hormon kortisol oleh kelenjar adrenal. Gejala yang dialami mirip syok sepsis, seperti hipotensi dan kelemahan. Kondisi ini dapat dibedakan dengan syok sepsis dari riwayat penyakit dan tidak adanya tanda infeksi. Dari hasil pemeriksaan laboratorium, didapatkan nilai hormon kortisol yang rendah.[5,20]

Pemeriksaan Penunjang

Berbagai pemeriksaan penunjang dibutuhkan dalam mendiagnosis sepsis, tujuannya untuk melihat penanda inflamasi dan mencari sumber infeksi. Pemeriksaan yang dilakukan meliputi pemeriksaan laboratorium darah ataupun pengambilan sampel untuk kultur melalui darah, urine, trakea, atau luka.[5,15,19]

Pemeriksaan Darah Lengkap

Pemeriksaan laboratorium darah lengkap sebetulnya tidak begitu spesifik untuk diagnosis sepsis. Meski demikian, pada pemeriksaan laboratorium bisa didapatkan tanda infeksi, seperti:

  • Leukositosis >12.000/mm3 atau leukopenia <4000/mm3
  • Hitung jenis sel darah putih dengan >10% bentuk imatur
  • Peningkatan C-reactive protein(CRP) plasma
  • Peningkatan prokalsitonin lebih dari 2 standar deviasi di atas normal.
  • Trombositopenia <100.000/mm3

  • Anemia yang ditandai penurunan hemoglobin (Hb)[5,15]

Pemeriksaan Kimia Darah

Sama seperti pemeriksaan darah lengkap, pemeriksaan kimia darah juga sebetulnya tidak spesifik dalam mendiagnosis sepsis. Meski demikian, pemeriksaan panel kimia, seperti fungsi liver dan analisis gas darah, dapat bermanfaat memberikan informasi penting mengenai derajat keparahan sepsis. Pemeriksaan kimia darah dapat mengidentifikasi adanya gangguan atau disfungsi organ.

Hasil pemeriksaan kimia darah yang bisa ada pada pasien sepsis antara lain:

  • Resistensi insulin menyebabkan hiperglikemia
  • Gangguan fungsi hepar ditandai dengan peningkatan enzim hepar dan kadar bilirubin
  • Koagulopati
  • Asidosis laktat

Analisis gas darah diperlukan terutama pada pasien dengan sepsis akibat infeksi pada saluran pernapasan. Adanya hiperlaktatemia dapat mengindikasikan adanya hipoperfusi jaringan. Pasien dengan hiperlaktatemia memiliki angka mortalitas yang lebih tinggi.[5,15]

Pemeriksaan Mikroskopik atau Kultur Bakteri

Pemeriksaan mikroskopik dengan pewarnaan Gram dan kultur bakteri diperlukan pada sepsis untuk mengidentifikasi patogen penyebab. Sampel bisa diambil dari darah, urine, maupun sekret organ (misalnya saluran napas atau urogenital).[5,15]

Pemeriksaan Urine

Pada pasien dengan kecurigaan urosepsis, dapat dilakukan pemeriksaan urinalisis, pewarnaan Gram urine, dan kultur urine. Penilaian urin output dilakukan bersamaan dengan penilaian saturasi yang secara ideal dilakukan dengan pemasangan vena sentral.[5,15]

Pemeriksaan Rontgen

Pemeriksaan rontgen toraks diperlukan pada pasien dengan kecurigaan sepsis akibat pneumonia atau ARDS. Pemeriksaan rontgen ekstremitas dilakukan untuk menilai adanya udara dalam jaringan pada pasien dengan necrotizing fasciitis. Pemeriksaan rontgen abdominal dengan posisi supinasi atau lateral dekubitus juga diperlukan pada pasien yang dicurigai mengalami infeksi abdomen.[5,15]

Ultrasonografi (USG)

USG abdomen diperlukan apabila pasien dicurigai mengalami infeksi pada traktus biliaris, infeksi pada saluran dan kelenjar empedu, atau infeksi pada abdomen.(5,15)

CT Scan

CT Scan abdomen diperlukan untuk menyingkirkan adanya abses abdominal, perforasi usus, iskemia, atau infeksi pada retroperitoneal. CT Scan kepala diperlukan apabila pasien mengalami perubahan status mental atau dicurigai mengalami infeksi intrakranial.[5,15]

Pungsi Lumbal

Pungsi lumbal diindikasikan pada pasien yang dicurigai mengalami infeksi saraf, seperti ensefalitis dan meningitis.[5,15]

Skor SOFA dan qSOFA

Pedoman Surviving Sepsis Campaign 2021, tidak merekomendasikan penggunaan skor qSOFA (quick SOFA) secara tunggal untuk penapisan diagnosis sepsis karena sensitivitas diagnostik yang buruk.[4,11]

Tabel 1. Skor qSOFA

Kriteria qSOFA Poin
Laju pernapasan ≥ 22 kali/menit 1
Perubahan status mental atau kesadaran 1
Tekanan darah sistolik ≤ 100 mmHg 1

Sumber: dr. Pepi Nurapipah, Alomedika, 2022.[11]

Sementara itu, skor SOFA mungkin bermanfaat dalam menentukan prognosis pasien. Skor SOFA inisial < 9 memprediksi mortalitas <33%, sedangkan skor SOFA >11 memprediksi mortalitas hingga 95%.[10,11]

Tabel 2. Skor SOFA

Sistem Organ Skor
0 1 2 3 4

Respirasi:

PO2 /FiO2, mmHg (kPa)

≥400 (53,3) <400 (53,3) <300 (40)

<200 (26,7)

Dengan bantuan respirasi

<100 (13,3) Dengan bantuan respirasi

Koagulasi:

Platelet, x103/mm3

≥150 <150 <100 <50 <20

Hepar:

Bilirubin, mg/dL

<1,2 <1,2 – 1,9 2,0 – 5,9 6,0 – 11,9 >12,0
Kardiovaskular

Mean arterial pressure ≥ 70 mmHg

Mean arterial pressure < 70 mmHg

Dopamin < 5 atau

Dobutamin (dosis berapapun)

Dopamin 5,1 – 15

stau

Epinefrin ≤0,1

atau

Norepinefrin ≤0,1 µg/kg/menit

Dopamin > 15

atau

Epinefrin > 0,1

atau

Norepinefin > 0,1 µg/ kg/menit

Sistem saraf pusat:

Glasgow Coma Scale (GCS)

15 13 – 14 10 - 12 6 - 9 <6

Renal:

Kreatinin, mg/dL

<1,2 1,2 – 1,9 2,0 – 5,9 6,0 – 11,9 12

Sumber: dr. Pepi Nurapipah, Alomedika, 2022.[3,11]

 

Penulisan pertama oleh: dr. Gisheila Ruth Anggitha

Referensi

4. Evan L, Rhodes A, Alhazzani W, Antonelli M, et al. Surviving Sepsis Campaign: International Guidelines for Management of Sepsis and Septic Shock 2021. Critical Care Medicine. 2021. https://journals.lww.com/ccmjournal/fulltext/2021/11000/surviving_sepsis_campaign__international.21.aspx
5. Mahapatra S, Heffner AC. Septic Shock. StatPearls Publishing. 2022. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK430939/
6. World Health Organization. Sepsis. WHO. 2020. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/sepsis
7. Dugar S, Choudhary C, Duggal A. Sepsis and septic shock: Guideline-based management. Cleveland Clinic Journal of Medicine. 2020. https://www.ccjm.org/content/ccjom/87/1/53.full.pdf
11. Putra IMP. Pendekatan Sepsis dengan Skor SOFA. Cermin Dunia Kedokteran. 2018. vol. 45 no. 8 th.
12. Bennett JE. Sepsis and Septic Shock. Principles and Practice of Infectious Diseases. 2020. https://www.sciencedirect.com/topics/medicine-and-dentistry/septic-shock
13. Joshua F, Pechere JC. Nature and Pathogenicity of Micro-organisms. Infectious Disease. 2017. https://www.sciencedirect.com/topics/medicine-and-dentistry/septic-shock
14. Duncan CF, Youngstein T, Kirrane MD, Lonsdale DO. Diagnostic Challenges in Sepsis. Curr Infect Dis Rep. 2021;23(12):22. doi: 10.1007/s11908-021-00765-y. Epub 2021 Oct 25. PMID: 34720754; PMCID: PMC8544629.
15. Kalil A. Septic Shock Differential Diagnoses. Medscape. 2020. https://emedicine.medscape.com/article/168402-differential
16. Zafari AM. Infark miokard. Medscape. 2016. https://emedicine.medscape.com/article/155919-overview
17. Gapp J, Chandra S. Acute Pancreatitis. [Updated 2022 Jun 21]. In: StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2022 Jan-. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK482468/
18. Oullette DR, Mosenifar Z. Pulmonary Embolism. Medscape. 2020. https://emedicine.medscape.com/article/300901-overview.
19. Fan SL, Miller NS, Lee J, Remick DG. Diagnosing sepsis - The role of laboratory medicine. Clin Chim Acta. 2016 Sep 1;460:203-10. doi: 10.1016/j.cca.2016.07.002. Epub 2016 Jul 4. PMID: 27387712; PMCID: PMC4980259.
20. Klauer KM. Adrenal Crisis in Emergency Medicine. Medscape. 2020. https://emedicine.medscape.com/article/765753-overview

Epidemiologi Sepsis
Penatalaksanaan Sepsis

Artikel Terkait

  • Tes Prediktor Sepsis Terbaru
    Tes Prediktor Sepsis Terbaru
  • Pedoman Sepsis dan Syok Sepsis pada Anak Terbaru
    Pedoman Sepsis dan Syok Sepsis pada Anak Terbaru
  • Melakukan De-eskalasi Antibiotik di Rumah Sakit
    Melakukan De-eskalasi Antibiotik di Rumah Sakit
  • Pedoman Manajemen Sepsis Intraabdominal dalam Perspektif Indonesia
    Pedoman Manajemen Sepsis Intraabdominal dalam Perspektif Indonesia
  • Prokalsitonin Vs C-Reactive Protein Sebagai Penanda Sepsis Di ICU
    Prokalsitonin Vs C-Reactive Protein Sebagai Penanda Sepsis Di ICU

Lebih Lanjut

Diskusi Terkait
dr. Felicia
Dibalas 08 Mei 2023, 09:36
Pemberian Vitamin C Intravena pada Dewasa dengan Sepsis di ICU – Telaah Jurnal Alomedika - Artikel SKP ALOMEDIKA
Oleh: dr. Felicia
1 Balasan
ALO Dokter!Vitamin C intravena sudah lama digunakan pada pasien dewasa dengan sepsis di ICU. Akan tetapi, studi terkait hal ini masih dalam perdebatan. Hal...
dr. Nurul Falah
Dibalas 11 November 2021, 15:50
Peranan pemeriksaan CRP dan prokalsitonin untuk deteksi sepsis
Oleh: dr. Nurul Falah
2 Balasan
Alo dr. Ardi Putranto, Sp.PK, izin bertanya dokter.Bagaimana peranan pemeriksaan CRP dan prokalsitonin dalam deteksi sepsis? Yang mana yang lebih...
dr. Hendra Gunawan SpPD
Dibalas 06 Mei 2021, 12:22
Krisis tiroid dan sepsis - Penyakit Dalam Ask The Expert
Oleh: dr. Hendra Gunawan SpPD
1 Balasan
Alo Prof Pradana Sp.PD-KEMD, Izin menanyakan, seringkali pasien hipertiroid sering memiliki risiko infeksi lebih tinggi hingga sepsis dan keduanya dapat...

Lebih Lanjut

Download Aplikasi Alomedika & Ikuti CME Online-nya!
Kumpulkan poin SKP sebanyak-banyaknya!

  • Tentang Kami
  • Advertise with us
  • Syarat dan Ketentuan
  • Privasi
  • Kontak Kami

© 2024 Alomedika.com All Rights Reserved.