Penggantian Kateter Intravena Berkala vs Sesuai Indikasi Medis

Oleh :
dr.Samira Assegaf

Waktu penggantian kateter intravena yang terbaik masih menjadi kontroversi. Sebagian klinisi melakukan penggantian kateter intravena secara berkala, sedangkan sebagian lainnya hanya melakukan sesuai indikasi medis.

Pemasangan kateter intravena merupakan salah satu tindakan medis yang paling sering dilakukan pada praktik. Data di Amerika Serikat mencatat setidaknya ada 200 juta kali pemasangan kateter intravena setiap tahun. Risiko dari pemasangan kateter intravena mencakup phlebitis, bengkak pada area pemasangan, hematoma di area pemasangan, hingga sepsis. Sepsis merupakan komplikasi terberat meskipun angka kejadiannya sangat jarang, yakni hanya 0,5 per 1000 catheter days.[1] Penggantian berkala dianggap mampu menurunkan risiko-risiko tersebut.

shutterstock_1107256133-min

Pertimbangan dalam Penggantian Kateter Intravena

Sampai saat ini, waktu penggantian kateter intravena yang paling optimal masih menjadi perdebatan. Dalam praktik klinis, penggantian kateter intravena secara berkala diduga dapat menurunkan risiko phlebitis dan sepsis, sehingga lebih disenangi. Di Amerika Serikat sendiri, pedoman CDC menyarankan penggantian kateter intravena tidak lebih sering dari setiap 72 hingga 96 jam, karena dilaporkan tidak ada perbedaan bermakna jika penggantian dilakukan lebih sering.[1-4]

Hal yang perlu diingat dalam mempertimbangkan penggantian kateter intravena adalah bahwa tindakan ini bukanlah pengalaman yang menyenangkan bagi pasien. Memasukkan kateter intravena bisa menyebabkan nyeri, hematoma, dan infeksi. Oleh karenanya, penggantian mungkin saja tidak diperlukan jika kateter masih fungsional dan tidak ada tanda inflamasi ataupun infeksi. Penggantian kateter intravena yang tidak perlu juga akan meningkatkan beban biaya medis.[3]

Penggantian Kateter Intravena Berkala vs Sesuai Indikasi Klinis

Uji klinis oleh Xu et al dilakukan pada 1198 pasien yang diacak untuk mendapat intervensi berupa penggantian kateter intravena sesuai indikasi klinis dan penggantian setiap 72-96 jam. Studi ini melaporkan bahwa tidak ada perbedaan bermakna terkait risiko infeksi darah ataupun infeksi lokal di antara kedua kelompok percobaan. Insidensi phlebitis, oklusi kateter, infiltrasi, ataupun lepasnya kateter intravena secara tidak sengaja juga dilaporkan tidak berbeda bermakna.[5]

Sebuah tinjauan sistematik terbaru dipublikasikan di Cochrane Systematic Review pada akhir Januari 2019. Tinjauan sistematik oleh Webster et al ini berusaha membandingkan efek dari penggantian kateter intravena secara berkala dengan penggantian yang dilakukan saat ada indikasi klinis saja. Tinjauan ini merupakan pembaruan dari tinjauan sebelumnya yang telah dipublikasikan pada tahun 2015.

Pada tinjauan sistematik ini, dilakukan analisis pada 9 studi dengan total partisipan 7412 subjek. Hasil studi menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan bermakna kejadian infeksi darah terkait kateter intravena (catheterrelated bloodstream infection), phlebitis, infeksi darah dari segala penyebab, infeksi lokal, mortalitas, ataupun nyeri antara subjek yang menjalani penggantian kateter intravena berkala maupun yang sesuai indikasi medis. Infiltrasi dan blokade kateter didapatkan berkurang dengan penggantian berkala. Sedangkan, biaya medis didapatkan berkurang jika penggantian dilakukan sesuai indikasi klinis. Kualitas bukti yang dianalisis adalah menengah.[3]

Implikasi klinis dari kedua studi tersebut adalah bahwa penggantian kateter intravena bisa dilakukan jika ada indikasi klinis saja. Contohnya adalah jika terdapat bukti infeksi, blokade, ataupun infiltrasi. Hal ini bisa menghindarkan pasien dari menjalani tindakan berulang yang tidak perlu dan menurunkan biaya medis yang dikeluarkan.

Kesimpulan

Penggantian kateter intravena secara berkala diduga mampu menurunkan risiko infeksi, baik phlebitis maupun sepsis terkait pemasangan kateter intravena. Namun, penggantian kateter intravena yang tanpa indikasi klinis bisa menimbulkan ketidaknyamanan pada pasien dan meningkatkan beban biaya medis. Studi terbaru menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan bermakna dalam hal luaran infeksi, mortalitas, ataupun nyeri pada pasien yang menjalani penggantian berkala dengan mereka yang menjalani penggantian sesuai indikasi. Perubahan kebijakan pada fasilitas kesehatan patut dipertimbangkan.

Referensi