Penggunaan Aspirin untuk Prevensi Kanker

Oleh dr. Josephine Darmawan

Prevensi penyakit kanker merupakan hal yang penting karena kanker merupakan salah satu penyebab kematian utama di seluruh dunia. Salah satu obat yang menunjukkan manfaat prevensi kanker adalah aspirin.

Sekitar 8,2 juta kematian pada tahun 2012 disebabkan oleh kanker dan prevalensi kanker diprediksi akan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan.[1] Beberapa strategi prevensi kanker, seperti gaya hidup sehat dan skrining kanker pada pasien berisiko, telah dilaksanakan untuk meningkatkan kesadaran terhadap kanker. Aspirin telah digunakan dalam beberapa praktik sehari-hari sebagai prevensi terjadinya kanker. Beberapa studi menunjukkan selain dapat menurunkan tingkat mortalitas pasien kanker, aspirin juga telah diteliti memiliki efek indirek menginhibisi onkoprotein yang bertanggung jawab untuk regulasi sel malignan.[2,3]

Sumber: 14 Mostafa&zeyad, Wikimedia commons, 2014. Sumber: 14 Mostafa&zeyad, Wikimedia commons, 2014.

Pembahasan

Aspirin termasuk ke dalam golongan obat anti-inflamasi non-steroid (OAINS). Agen ini memiliki beragam fungsi, dari menurunkan tanda dan gejala dari inflamasi sampai penggunaan untuk antipiretik, analgetik, dan antiplatelet. Mekanisme kerja aspirin sangat bergantung pada dosis yang dikonsumsi. Pada dosis rendah (biasanya 75 – 81 mg/hari), aspirin memiliki efek antitrombotik, dimana terdapat efek menginhibisi tromboksan A2. Aspirin dalam dosis menengah (650-4000 mg/hari) dapat memiliki efek analgetik dan antipiretik dengan menginhibisi cycloocygenase (COX)-1, COX-2, dan produksi prostaglandin (PG). Pada dosis tinggi (antara 4 – 8 g/hari), aspirin berfungsi sebagai agen antiinflamasi dan biasa dapat digunakan pada penyakit rematik.[4]

Mekanisme Kerja Aspirin dalam Mencegah Kanker

Enzim COX dibutuhkan dalam proses mengubah asam arakidonat menjadi prostaglandin H2. Prostaglandin H2 merupakan jenis PG yang dapat memproduksi PG aktif lainnya dan merupakan prekursor sisntesis molekul lain yang dapat mempengaruhi apoptosis, angiogenesis, migrasi dan proliferasi sel, respon inflamasi, dan thrombosis.[4] Inhibisi COX dapat menyebabkan inhibisi PG, sehingga muncul hipotesa bahwa OAINS memiliki efek tertentu pada patogenesis sel kanker. Studi menunjukkan bahwa konsentrasi PG ditemukan lebih tinggi pada jaringan kanker dibandingkan dengan jaringan normal, sehingga dapat disimpulkan bahwa prostaglandin dapat meningkatkan kecepatan pertumbuhan dan invasi sel kanker.[5] Studi Cha dan Dubois pada tahun 2007 menemukan adanya ekspresi COX-2 berlebih pada beberapa keganasan yang berbeda. Studi ini menyimpulkan bahwa prostaglandin COX-2 dapat berperan sebagai tumorgenesis dengan menginhibisi apoptosis, modulasi sistem imun, dan angiogenesis.[6]

Peran COX juga dihubungkan dengan mutasi gen Apc. Salah satu studi pada tikus menunjukkan adanya hubungan antara aktivitas COX dan mutasi gen Apc pada 100% tikus yang memiliki neoplasia intestinal. Berdasarkan penelitian Chulada dkk, efek mutasi ini dapat menurun sebanyak 80% pada tikus dengan defisiensi COX-1 atau COX-2.[7] Hal ini menunjukkan bahwa inhibisi pada COX-1 atau COX-2 dapat berguna dalam strategi anti-kanker, yang dapat ditemukan pada agen OAINS. Berbeda dengan OAINS lainnya, aspirin dapat berikatan secara ireversibel pada COX dan platelet tidak dapat resintesisasi enzim yang menyebabkan penurunan tromboksan A2 dan agregasi platelet. Agen ini juga diperkirakan dapat mempengaruhi pembentukan dan penyebaran metastase sel kanker melalui beberapa mekanisme, seperti fasilitasi adhesi sel kanker pada leukosit dan sel endothelial, adhesi pada endotel, dan transmigrasi sel.[8] Aspirin juga dihubungkan dengan penghentian siklus sel dan apoptosis sel kanker. Selain itu, penggunaan jangka panjang (25 hari) aspirin juga dihubungkan dengan inhibisi pertumbuhan sel.

Bukti Klinis Prevensi Primer Kanker dengan Aspirin

Salah satu studi pada binatang meneliti tentang pemberian aspirin pada terapi pasien kanker, penelitian ini didasarkan pada efek anti-platelet aspirin. Penelitian ini mendapatkan reduksi platelet berhubungan dengan penurunan metastase sebanyak 50%.[9] Setelah itu, studi Powles dkk pada tahun 1973 menunjukkan bahwa aspirin dapat mencegah efek osteolisis pada metastase tulang dari sel karsinoma pada tikus.[10] Kemudian, melalui studi kasus-kontrol pada tahun 1988, didapatkan bahwa aspirin secara signifikan menurunkan resiko kanker kolorektal.[11] Dari kumpulan studi kasus-kontrol dan juga kohort, didapatkan juga bahwa aspirin dapat dijadikan agen protektif terhadap kanker dengan resiko relatif (RR) untuk terjadinya kanker kolorektal adalah 0,71 (95% CI: 0,67 – 0,75), kanker esofagus (RR 0,72; 95% CI: 0,62 – 0,84), kanker gaster (RR 0,84; 95% CI: 0,76 – 0,93), kanker payudara (RR 0,91; 95% CI: 0,88 – 0,95), dan kanker paru (RR 0,94; 95% CI: 0,89 – 1,00).[12] Akan tetapi, masih terdapat beberapa keterbatasan dalam beberapa penelitian ini. Penelitian pada jenis kanker lainnya juga masih diperlukan.

Dalam salah satu studi acak yang melakukan evaluasi aspirin dosis rendah (100 atau 325 mg) sebagai prevensi primer kanker didapatkan bahwa aspirin tidak memiliki penurunan resiko untuk terjadinya kanker kolorektal.[13] Banyak yang dapat mempengaruhi hasil studi ini, seperti dosis inefektif, kepatuhan pasien yang rendah, dan waktu pemantauan yang kurang lama. Pada studi acak lainnya, dilakukan evaluasi aspirin dengan dosis yang lebih tinggi (300 – 1200 mg) dan didapatkan bahwa aspirin dapat menurunkan insidensi kanker kolorektal dengan hazard ratio (HR) 0.73 (95% CI: 0,56 – 0,96, P = 0,02).[14]

 Studi Rothwell dkk, pada tahun 2011, menunjukkan bahwa aspirin dapat menurunkan tingkat kematian dari seluruh penyakit kanker setelah dilakukan pemantauan selama 5 tahun (HR 0,66, 95% CI: 0,50 – 0,87, P = 0,003). Penggunaan aspirin dosis rendah (75 mg) juga menunjukkan penurunan resiko kematian karena kanker dalam 20 tahun pada pasien berusia > 65 tahun yaitu sebesar 2,42% – 11,74% dengan rata-rata 7,08%.[15]

Bukti Klinis Prevensi Sekunder Kanker dengan Aspirin

Pemberian aspirin untuk prevensi sekunder kanker telah dilakukan oleh beberapa studi. Salah satu studi menunjukkan bahwa penggunaan aspirin dengan dosis rendah (81 mg tiap hari) dapat menurunkan resiko untuk terbentuknya adenoma lebih lanjut (RR 0,81; 95% CI: 0,69 – 0,96) namun hasil penelitian pada dosis 325 mg/hari tidak signifikan (RR 0,96, 95% CI: 0,81 – 1,13, P = 0,06).[16] Meta-analisis dengan menggabungkan percobaan prevensi sekunder mendapatkan bahwa aspirin dapat menurunkan RR adenoma lanjut sebesar 18% (RR 0,8;  95% CI: 0,74 – 0,91, P = 0,0002) dengan dosis aspirin < 300 mg (RR 0,82; 95% CI: 0,70 – 0,95, P = 0,007) atau > 300 mg (RR 0,84; 95% CI: 0,74 – 0,94, P = 0,004) setiap harinya.[17] Meskipun hasil penelitian ini cukup menjanjikan, resiko perdarahan dalam penggunaan aspirin harus diperhatikan, terutama pada penggunaan jangka panjang dan pasien-pasien risiko tinggi.

Kesimpulan

Aspirin telah dibuktikan dalam beberapa studi memiliki peran dalam prevensi kanker dan dapat menurunkan tingkat mortalitas pada pasien kanker. Akan tetapi, penggunaan aspirin sampai sekarang belum direkomendasikan sebagai strategi prevensi primer kanker karena risiko perdarahan gastrointestinal yang cukup tinggi. Keuntungan dan kerugian penggunaan aspirin harus dipertimbangkan terlebih dahulu, terutama mengenai efek sampingnya dalam penggunaan jangka panjang. Peran aspirin dalam pencegahan karsinogenesis masih harus dievaluasi. Studi lebih lanjut pada subjek selain kanker kolorektal serta peran aspirin dalam menurunkan metastasis juga masih harus dikembangkan.

Referensi