Penggunaan Aspirin dalam Pencegahan Primer Penyakit Kardiovaskuler

Oleh dr. Michael Susanto

Penggunaan aspirin sudah jelas baik dan berguna sebagai terapi dan pencegahan sekunder penyakit kardiovaskuler yang tidak menyangkut perdarahan. Walau demikian, kegunaannya sebagai terapi pencegahan primer masih dapat dipertimbangkan.[1]

Depositphotos_15429013_m-2015_compressed

Aspirin Sebagai Pencegah Sekunder Penyakit Kardiovaskuler

Manfaat aspirin sebagai pencegah sekunder penyakit kardiovaskuler sudah sangat terbukti melalui ratusan penelitian uji klinis. Penelitian menunjukkan bahwa pemberian aspirin dosis rendah setiap hari dapat menurunkan risiko terjadinya kejadian vaskuler pada pasien yang sudah mengalami infark miokard, stroke, atau memilki risiko dan skor Framingham yang tinggi.

Penurunan risiko absolut untuk penggunaan aspirin lebih dari 2 tahun adalah 36 + 5 per 1,000 pada pasien yang sudah mengalami infark miokard, 36 + 6 per 1,000 pasien pada pasien yang sudah mengalami stroke atau transient ischemic attack (TIA), dan 22 + 3 per 1,000 pada pasien risiko tinggi lainnya.

Penelitian telah melihat inhibisi COX-1 yang hampir sempurna dengan dosis dibawah 162 mg. Dosis aspirin yang berlebih dapat menaikkan risiko perdarahan tanpa menurunkan risiko terjadinya kejadian vaskuler. American College of Cardiology/ American Heart Association (ACC/AHA) menyarankan penggunaan aspirin secara rutin setiap hari (75-162 mg) pada laki-laki dan perempuan dengan penyakit jantung koroner dan penyakit vaskuler arterosklerotik.[2]

Aspirin Sebagai Pencegahan Primer Penyakit Kardiovaskuler

Manfaat aspirin sebagai obat untuk pencegahan primer penyakit kardiovaskuler tidak sejelas pada pencegahan sekunder. Jumlah studi yang telah dilakukan untuk aspirin sebagai pencegahan primer penyakit kardiovaskuler jauh lebih sedikit daripada untuk pencegahan sekunder. Pertimbangan utama penggunaan aspirin sebagai pencegahan primer penyakit kardiovaskuler adalah risiko terjadinya perdarahan.[2]

WHO mengestimasikan bahwa lebih dari 75% penyakit kardiovaskuler premature dapat dihindari dengan penanganan faktor risiko yang adekuat. Berdasarkan guideline yang diterbitkan oleh National Institute for Health and Care Excellence (NICE), European Society of Cardiology (ESC), American Heart Association (AHA), dan American College of Cardiologists (ACC) menyatakan bahwa tindakan utama yang dapat dilakukan dalam mengontrol faktor risiko penyakit kardiovaskuler adalah perubahan gaya hidup (olahraga, diet, berhenti merokok, memiliki berat badan ideal, dan konsumsi alkohol tidak berlebih), serta terapi medis yang mengacu pada penurunan lemak darah, terapi antihipertensi, dan kontrol gula darah. Penggunaan terapi antiplatelet masih kontroversial dan tidak selalu disarankan.[3]

Dalam menentukan kebutuhan pasien dalam menggunakan terapi antiplatelet sebagai pencegahan sekunder penyakit kardiovaskuler, nilai risiko untuk terjadinya penyakit tersebut perlu dinilai. Terdapat beberapa cara untuk menilai risiko yang diutarakan oleh guidelines yang telah ada: Skor Framingham, AHA/ACC Task force risk equations, dan nilai SCORE (Systematic Coronary Risk Evaluation) oleh ESC. Skor Framingham mengkategorikan risiko kejadian penyakit kardiovaskuler dalam 10 tahun dalam golongan rendah (<10%), moderat (10-20%), dan tinggi (>20%). SCORE juga menilai risiko kejadian penyakit kardiovaskuler dalam 10 tahun dalam kategori rendah (nilai SCORE <1%), moderat (1-5%), tinggi (5-10%), dan sangat tinggi (>10%).[4]

Hingga tahun 2014, sudah terdapat 9 randomized controlled trial besar yang melihat efektivitas aspirin dalam pencegahan primer penyakit kardiovaskuler. Suatu metaanalisa yang dilakukan pada tahun 2009 yang mencakup 6 primary prevention trials menyaktakan bahwa terapi aspirin dapat menurunkan risiko kejadian infark miokard sebanyak 6 kasus per 1,000 orang dengan risiko rendah (Nilai Framingham 5%), 19 kasus pada risiko moderat (15%) dan 31 pada risiko tinggi (25%). Walau demikian, risiko perdarahan fatal juga meningkat sehingga “menyeimbangkan” penurunan risiko. Penggunaan obat lain seperti statin bersamaan dengan aspirin juga dapat menurunkan risiko begitu tingginya sehingga keuntungan kegunaan aspirin menjadi sangat kecil hingga dipertanyakan. 4 meta-analisa lain yang diterbitkan pada tahun 2011 hingga 2012 juga menyampaikan hal yang sejalan. [4]

Guidelines saat ini menyatakan bahwa terapi antiplatelet tidak disarankan untuk pencegahan primer pada pasien yang tidak memiiliki komorbiditas oleh karena risiko perdarahan tanpa bukti penurunan risiko penyakit kardiovaskuler yang jelas. Pada pasien dengan diabetes mellitus, saran masih kontroversial: ESC menyarankan bahwa penggunaan aspirin masih tidak disarankan oleh karena risiko perdarahan dan yang tetap lebih tinggi.[1,3,4]

Pada sisi lain, American College of Chest Physicians (ACP) menyarankan terapi aspirin pada pasien diabetes mellitus yang memiliki risiko kejadian penyakit kardiovaskuler >10% dalam 10 tahun ke yang tidak memiliki risiko perdarahan yang meningkat (tidak ada sejarah perdarahan gastrointestinal, penyakit ulkus peptikum, dan penggunaan obat-obatan yang meningkatkan risiko perdarahan). Aspirin masih tidak disarankan untuk pasien diabetes mellitus yang memiliki risiko rendah penyakit kardiovaskuler, dan dapat dipertimbangkan pada pasien diabetes yang memiliki risiko intermediat untuk penyakit kardiovaskuler (pasien muda dengan paling tidak 1 faktor risiko, atau pasien tua dengan risiko kejadian penyakit kardiovaskuler 5-10% dalam 10 tahun).[1,3,4]

Pada akhirnya, walau literatur dan guidelines memang lebih condong untuk tidak menyarankan penggunaan aspirin untuk pencegahan penyakit kardiovaskuler primer, keputusan penggunaannya sebaiknya dilakukan secara kebersamaan oleh dokter dan pasien. Keputusan perlu disesuaikan dengan risiko kejadian penyakit kardiovaskuler serta risiko perdarahan.[4]

Faktor Risiko Kardiovaskuler yang Membenarkan Penggunaan AspirinFaktor Risiko Perdarahan yang Tidak Membenarkan Penggunaan Aspirin
Usia tua, laki-laki, hipertensi, dyslipidemia, obesitas, merokok, diet dan sedentary lifestyle, riwayat penyakit pada keluarga, menopauseUsia tua, riwayat perdarahan, gagal ginjal atau hati, penyakit gastrointestinal seperti ulkus peptikum, penggunaan NSAID atau terapi antikoagulan lainnya, riwayat stroke, komorbiditas berat

Tabel 1. Pertimbangan penggunaan aspirin dalam pencegahan primerpenyakit kardiovaskuler. Sumber: karya pribadi penulis.

Kesimpulan

Penggunaan aspirin pada pencegahan sekunder penyakit kardiovaskuler sangat disarankan dengan American College of Cardiology/ American Heart Association (ACC/AHA) menyarankan penggunaan aspirin secara rutin setiap hari (75-162 mg). Walau demikian, penggunaan aspirin sebagai pencegahan primer penyakit kardiovaskuler masih kontroversial, dengan mayoritas literatur dan guideline tidak menyarankan penggunaannya oleh karena risiko perdarahan yang meningkat dengan penggunaan aspirin.

American College of Chest Physicians (ACP) menyarankan terapi aspirin pada pasien diabetes mellitus yang memiliki risiko kejadian penyakit kardiovaskuler >10% dalam 10 tahun ke yang tidak memiliki risiko perdarahan yang meningkat sedangkan European Society of Cardiology (ESC) tidak menyarankan penggunaannya sama sekali. Keputusan akhir untuk penggunaan aspirin sebagai pencegahan primer penyakit kardiovaskuler sebaiknya dilakukan secara individual oleh dokter dan pasien.

Referensi