Pemilihan Antibiotik Golongan Bakteriostatik atau Bakterisidal

Oleh dr. Immanuel Natanael Tarigan

Terjadi kesalahpahaman bahwa antibiotik golongan bakteriostatik dianggap tidak dapat membunuh bakteri sehingga dinilai lebih inferior dibandingkan dengan golongan bakterisidal. Walau demikian, klasifikasi ini sebenarnya merupakan klasifikasi berdasarkan pemeriksaan laboratorium saja yang tidak dapat sepenuhnya diaplikasikan pada kondisi klinis.

Pill smaller_Depositphotos_108171462_original_compressed

Antibiotik Bakteriostatik dan Bakterisidal

Berdasarkan kemampuan menghambat atau membunuh bakteri, antibiotik digolongkan menjadi dua kelompok yakni bakteriostatik dan bakterisidal. Secara sederhana, bakterisidal adalah obat yang membunuh bakteri sedangkan bakteriostatik adalah obat yang mencegah pertumbuhan bakteri. Pembagian ini pada dasarnya diaplikasikan pada pemeriksaan laboratorium saja, tidak dapat sepenuhnya diaplikasikan pada kondisi klinis pasien. Pada kenyataannya, tidak ada antimikroba yang benar-benar dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok tersebut. Antibiotik golongan bakterisidal tidak benar-benar dapat membunuh semua bakteri (terutama pada koloni bakteri yang besar) setelah 18-24 jam pasca pemberian. Sebaliknya, golongan antibiotik bakteriostatik memiliki kemampuan membunuh bakteri setelah 18-24 pasca pemberian obat. Kemampuan antibiotik secara in vitro, baik bakteriostatik dan bakterisidal, dipengaruhi oleh kondisi pertumbuhan dan kepadatan bakteri, durasi percobaan, dan respon bakteri. Pada kondisi klinis, lebih banyak faktor lain yang diperhitungkan. Kebanyakan antibakteri dideskripsikan memiliki potensi bakterisidal dan bakteriostatik.[1]

Implikasi Klinis Antibiotik Bakteriostatik dan Bakterisidal

Penggunaan antibiotik didasarkan pada kondisi klinis, mikroorganisme penyebab infeksi dan tujuan terapi pasien. Pertimbangan penting lainnya dalam menentukan pilihan antibiotik adalah kondisi sistem imun pasien. Aspek penting dari antibiotik yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan pilihan obat adalah waktu kerja dan spektrum antibiotik.

Pengkategorian antibiotik menjadi bakterisidal dan bakteriostatik tidak banyak digunakan dalam praktis klinis, bahkan banyak menyebabkan kesalahpahaman ketika tidak mempertimbangkan aspek farmakodinamis dan farmakokinetik obat. Penelitian menunjukkan bahwa kemampuan antibiotik golongan bakterisidal tidak selalu lebih baik dibanding kemampuan golongan bakteriostatik. Hal ini ditentukan oleh konsentrasi hambat minimum dan dan konsentrasi bakterisidal minimum. Contohnya, aminoglikosida, yang adalah bakterisidal poten pada pemeriksaan in vitro, tidak menunjukkan efikasi klinis yang baik terhadap infeksi Salmonella typhi. Hal ini terjadi karena aminoglikosida sulit untuk menembus dinding sel eukariotik dan mengeradikasi salmonella intraseluler.[2,3]

Pasien-pasien yang diterapi dengan bakterisidal seperti pada penyakit meningitis gram positif, endokarditis dan osteomielitis juga menunjukkan hasil terapi yang baik pada pengobatan dengan agen bakteriostatik seperti klindamisin. Pada golongan bakteri gram positif, faktor penentu keberhasilan terapi pada infeksi lebih bergantung pada kerentanan agen penyebab infeksi, kemampuan obat mempenetrasi dan berkonsentrasi pada organ yang terinfeksi, serta resistensi bakteri dibandingkan apakah obat tersebut termasuk golongan bakteriostatik atau bakterisidal.[2]

Antibiotik Spektrum Luas

Pada penggunaan antibiotik spektrum luas, tumpang tindih antara bakteriostatik dan bakterisidal menjadi tidak jelas. Pada konsentrasi tinggi, obat-obat golongan bakteriostatik dapat memiliki efek bakterisidal pada mikroba yang sesuai. Sebagai contohnya:

  1. Antibiotik golongan makrolid adalah golongan bakteriostatik, tetapi eritromisin, azitromisin dan klaritomisin menunjukkan kerja bakterisidal pada in vitro terhadap Streptococcus pyogenes dan Streptococcus pneumonia

  2. Kloramfenikol memiliki efek bakterisidal terhadap Streptococcus pneumonia, tetapi memiliki efek bakteriostatik pada Streptococcus aureus dan Streptococcus grup B

  3. Klindamisin dapat memiliki efek bakterisidal tergantung mikroorganisme penyebab dan lingkungan
  4. Linezolid memiliki efek bakteriostatik pada pengobatan Staphylococcus dan Enterococcus, namun memilik efek bakterisidal terhadap Streptococcus

Sebaliknya, antibiotik bakterisidal spektrum luas juga memiliki efek bakteriostatik. Antibiotik bakterisidal dalam konsentrasi rendah biasanya memiliki efek bakteriostatik, misalnya Quinupristin-dalfopristin memiliki efek bakterisidal terhadap Staphylococcus dan Streptococcus namun memiliki efek bakteriostatik terhadap Enterococcus faecium.

Perbandingan Manfaat Antibiotik Bakterisidal dan Bakteriostatik

Sebuah meta analisis yang melibatkan 33 penelitian mencoba membandingkan keberhasilan terapi pada pasien infeksi serius dengan kelompok antibiotik bakterisidal dan bakteriostatik. Hasil luaran penelitian yang dinilai adalah kesembuhan, kematian dan angka kekambuhan. Studi ini melibatkan 13 penelitian pada penyakit pneumonia, 8 penelitian pada penyakit infeksi kulit dan jaringan lunak, 4 penelitian pada penyakit infeksi intra abdomen dan 8 kasus penyakit infeksi lainnya. Kelompok antibiotik bakteriostatik yang masuk dalam penelitian adalah tigesiklin, linezolid, makrolid, sulfonamid, tetrasiklin dan streptogramin, sedangkan kelompok bakterisidal adalah beta laktam, glikopeptida, fluorokuinolon dan aminoglikosida.[4]

Pada penelitian tersebut tidak ditemukan perbedaan kecepatan kesembuhan pada kedua kelompok tersebut (RR 0,99; 95% CI 0,97-1,01; p = 0,11). Bahkan pengobatan dengan linezolid menunjukkan hasil yang lebih baik dibanding kelompok bakterisidal (RR 0,93; 95% CI 0,87-0,99; p = 0,04). Hal ini mungkin berkaitan dengan pasien yang termasuk dalam kondisi berat, termasuk pasien dengan MRSA.[4]

Dari analisis terhadap 13.098 pasien, ditemukan tidak ada perbedaan kematian pada kedua kelompok antibiotik tersebut (RR 0,91; 95% CI 0,76-1,08; p = 0,28). Walaupun demikian, terdapat kecenderungan peningkatan kematian pada pasien yang menggunakan tigesiklin, terutama pada kelompok pasien dengan infeksi kulit. Dibandingkan linezolid, kematian pasien dengan tigesiklin lebih tinggi. Peningkatan kematian pada pasien lebih berhubungan dengan toksisitas obat, mekanisme kerja (farmakodinamik dan farmakokinetik) dan dosis dan bukan karena efek bakteriostatik obat tersebut.[4]

Faktor lain yang menjadi dasar bahwa antibiotik bakterisidal lebih superior dibandingkan dengan bakteriostatik adalah kemungkinan terjadinya kekambuhan pada kelompok penyakit infeksi yang diterapi dengan bakteriostatik. Hal ini dihipotesiskan karena mekanisme kerja bakteriostatik tidak membersihkan agen penyebab infeksi. Namun, pada data penelitian ditemukan bahwa tidak ada perbedaan tingkat kekambuhan pada kedua jenis kelompok antibiotik ini.[5]

Pemilihan Antibiotik pada Kondisi Khusus

Pada kondisi khusus, seperti immunocompromised, pasien sebaiknya diobati dengan antibiotik golongan bakterisidal. Hal ini disebabkan pada kondisi tersebut kondisi sistem imun tidak sepenuhnya maksimal sedangkan golongan antibiotik bakteriostatik memerlukan kerja sistem imun yang maksimal untuk dapat membunuh bakteri guna mencapai kesembuhan seperti pada golongan bakteriostatik. Golongan antibiotik bakteriosidal juga sebaiknya diberikan pada pasien yang mendapat steroid jangka panjang atau dengan keganasan.[5]

Penggunaan antibiotik bakterisidal juga memiliki efek samping akibat lisisnya bakteri dalam jumlah yang banyak dan waktu yang cepat. Lepasnya endotoksin akibat terapi sudah pernah didokumentasikan, misalnya pada cairan serebrospinal pasien dengan meningitis bakterial gram negatif. Kematian Streptococcus pneumonia secara cepat menyebabkan peningkatan produksi fragmen dinding sel dan pneumolisin intrasel. Pelepasan kedua komponen ini meningkatkan respons sel darah putih dan prostaglandin. Respons sel tersebut meningkatkan risiko edema serebral dan meningkatkan angka kematian. Kaskade kejadian ini tidak ditemukan pada penggunaan antibiotik golongan bakteriostatik.[6]

Kesimpulan

  • Pembagian antibiotik menjadi kelompok bakteriostatik dan bakterisidal merupakan pembagian berdasarkan temuan laboratorium. Definisi dan batasan ini tidak dapat digunakan dalam kondisi klinis
  • Pada dasarnya, untuk penggunaan klinis, kerja antibiotik tidak dapat dibatasi pada kedua kelompok itu. Penggunaan antibiotik golongan bakterisidal dosis rendah dapat menunjukkan efek bakteriostatik. Sebaliknya, dalam keadaan klinis, penggunaan bakteriostatik dosis tinggi dapat menunjukkan efek matinya mikroorganisme seperti pada golongan bakteriosidal
  • Faktor yang lebih penting pada keberhasilan terapi pasien infeksi adalah agen penyebab infeksi, spektrum, dosis dan waktu pemberian antibiotik, lokasi infeksi dan faktor sistem imun pejamu
  • Tidak ada perbedaan signifikan antara penggunaan antibiotik golongan bakterisidal dan bakteriostatik dinilai dari keberhasilan terapi dan angka kematian
  • Antibiotik golongan bakteriostatik tidak lebih inferior dibanding antibiotik golongan bakterisidal, serta tidak menyebabkan tingkat kekambuhan penyakit yang lebih tinggi

Referensi