Panduan Praktis Mengatasi Peresepan Antibiotik yang Tidak Tepat

Oleh :
dr. Khrisna Rangga Permana

Pada praktik sehari-hari, dokter sering kali menghadapi kecenderungan untuk meresepkan antibiotik yang tidak tepat. Tekanan dan kepuasan pasien atau orang tua pasien sering menjadi alasan bagi dokter untuk mempertimbangkan pemberian antibiotik.

Padahal, penggunaan antibiotik yang tidak tepat berkaitan dengan resistensi bakteri yang umum menyebabkan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), yang menjadi beban individual dan komunitas.[1,2]

jangan-sisakan-antibiotik-anda-alodokter

Komunikasi antara dokter dan pasien atau orang tua pasien selama konsultasi sering kali mendorong peresepan antibiotik yang tidak beralasan.

Penelitian menunjukkan bahwa dokter dapat salah memperkirakan ekspektasi orang tua. Orang tua sering menanyakan kepastian kondisi anak dan ingin mengetahui bagaimana cara meringankan gejala anak. Namun, pertanyaan ini sering ditafsirkan oleh dokter bahwa orang tua mengharapkan pemberian antibiotik.

Kesalahpahaman seperti ini dapat berkontribusi pada penggunaan antibiotik berlebihan meskipun sebagian pasien juga meminta antibiotik secara langsung.

Komunikasi yang Efektif Mengurangi Risiko Peresepan Antibiotik yang Tidak Perlu

Komunikasi antara dokter dan orang tua pasien selamat kunjungan untuk ISPA pada anak sering mengarahkan pada peresepan antibiotik yang tidak perlu. Selama kunjungan, dokter sering menggunakan 2 macam pola komunikasi ketika menganjurkan pengobatan:

  • Anjuran pengobatan yang positif—penjelasan tentang apa yang orang tua dapat lakukan untuk membantu meringankan gejala anak (misalnya, “Ibu dapat memberikan Si Kecil 1 sendok teh madu sebelum tidur”)
  • Anjuran pengobatan yang negatif—penjelasan tentang ketidaksesuaian antibiotik untuk penyakit anak (misalnya, “Anak Ibu hanya terinfeksi virus, jadi antibiotik tidak akan membantu”)

Hasil studi yang dilakukan pada 1.284 orang tua dengan anak yang mengalami gejala ISPA menunjukkan bahwa penggunaan anjuran pengobatan positif dapat mengurangi risiko peresepan antibiotik pada ISPA akibat virus sebanyak 52% sementara kombinasi anjuran pengobatan yang positif dan negatif dikaitkan dengan pengurangan risiko peresepan antibiotik sebesar 85%. Penggunaan anjuran pengobatan yang negatif saja dan perencanaan jika ada keadaan darurat tidak berkaitan dengan tingkat peresepan antibiotik pada ISPA akibat virus.

Kombinasi anjuran pengobatan yang positif dan negatif juga berkaitan dengan tingginya tingkat kunjungan orang tua, sementara anjuran pengobatan yang positif saja tidak berkaitan dengan tingkat kunjungan orang tua.

Ada kemungkinan bahwa orang tua menganggap anjuran pengobatan yang diberikan sama halnya  dengan resep obat sehingga mereka tidak pulang dengan tangan kosong, seperti ketika hanya menerima anjuran pengobatan yang negatif.[2]

Rencana Cadangan

Ketika dokter dihadapkan pada ketidakpastian diagnosis, penggunaan rencana cadangan dapat memungkinkan penyakit untuk berkembang dan mengarah ke etiologi yang lebih jelas. Jika dalam kasus ini orang tua menunjukkan harapan untuk diberikan antibiotik, kombinasi anjuran pengobatan yang positif dan negatif dapat membantu orang tua pasien menerima rencana pengobatan nonantibiotik.

Sebuah studi menunjukkan bahwa rencana cadangan berkaitan dengan kepuasaan saat kunjungan sekaligus menghindari peresepan antibiotik untuk penyakit yang diakibatkan virus.[1,2]

Penundaan Peresepan Antibiotik

Penundaan pemberian antibiotik dapat diterapkan pada pasien dengan infeksi ringan yang kemungkinan akan sembuh secara spontan, tetapi mungkin memerlukan antibiotik jika keluhan tidak membaik. Kondisi ini termasuk otitis media atau sinusitis. Dalam resep antibiotik yang ditunda, pasien diberi resep namun diinstruksikan untuk menggunakannya hanya jika gejala tidak membaik atau memburuk dalam waktu tertentu. Pasien dapat kembali untuk mendapatkan resep antibiotik jika kondisi memburuk.

Hal ini perlu diimbangi dengan penyediaan akses untuk mengevaluasi ulang atau memonitor pasien dengan mudah.[1,2]

Tabel 1. Tips Komunikasi untuk Menghindari Peresepan Antibiotik yang Tidak Perlu

Intervensi Contoh
Penjelasan mengapa antibiotik tidak dibutuhkan + anjuran pengobatan positif lainnya

"Penyakit anak Ibu disebabkan oleh virus sehingga antibiotik tidak akan bermanfaat. Saya akan meresepkan obat untuk meringankan gejala, tetapi harus cukup istirahat, perbanyak makanan yang bergizi, dan minum cukup air."

 

Selalu kombinasikan penjelasan mengapa antibiotik tidak dibutuhkan dengan anjuran pengobatan lainnya. Pasien bersedia mendengar bahwa antibiotik tidak diperlukan jika saran dikombinasikan dengan cara lain untuk membantu mereka merasa lebih baik.

Penundaan peresepan antibiotik

"Keluhan batuk pilek anak Anda kemungkinan besar disebabkan oleh virus dan akan sembuh dengan sendirinya. Jika masih sakit dalam 7 hari atau batuknya bertambah parah, silahkan tebus antibiotik ini."

 

(Saat memberikan resep, tulis tanggal berlaku resep, misalnya 5-10 hari ke depan, sehingga resep hanya dapat ditebus selama masa tunggu tersebut)

Rencana cadangan "Jika anak Ibu masih sakit dalam seminggu keluhannya memburuk, silahkan datang kembali."

Sumber: dr. Khrisna Rangga Permana, 2017

Kesimpulan

Peningkatan penggunaan antibiotik harus dikurangi untuk menekan resistensi antibiotik. Oleh karena itu, komunikasi yang baik antara dokter dan penjelasan yang baik mengenai pengobatan yang sesuai terhadap gejala pasien dapat mengurangi peresepan antibiotik yang tidak diperlukan.

 

Direvisi oleh: dr. Ciho Olfriani

Referensi