Panduan Praktis Mengatasi Peresepan Antibiotik yang Tidak Tepat

Oleh dr. Khrisna Rangga

Dokter sering meresepkan antibiotik secara tidak tepat, bukan karena ketidaktahuan akan panduan klinis yang ditetapkan. Para klinisi mendapat tekanan pasien dan kepuasan pasien atau orang tua pasien sebagai alasan utama untuk resep antibiotik yang tidak tepat. Dokter lebih cenderung meresepkan antibiotik jika mereka merasa bahwa orang tua menghendakinya. Namun penelitian yang ada menunjukkan bahwa dokter tidak memperkirakan ekspektasi orang tua secara akurat. Studi menunjukkan bahwa orang tua sering mencari kepastian bahwa kondisi anak mereka tidak serius dan ingin mengetahui cara bagaimana membantu meringankan gejala anak mereka, namun klinisi menafsirkan bahwa orang tua mengharapkan pemberian antibiotik berdasarkan hal-hal yang mereka katakan. Misalnya, dokter secara signifikan lebih cenderung menganggap orang tua menginginkan antibiotik jika orang tua mengajukan pertanyaan tentang rencana perawatan (misalnya, yang menyatakan bahwa dengan obat-obatan yang mereka beli secara bebas tidak membantu, mempertanyakan apakah dokter menganggap anak membutuhkan antibiotik atau tidak), namun orang tua sebenarnya [1].

jangan-sisakan-antibiotik-anda-alodokter

Kesalahpahaman seperti ini kemungkinan berkontribusi pada penggunaan antibiotik berlebihan. Meski tidak semua pasien dan keluarga mengharapkan antibiotik, namun juga ada yang memintanya. Dalam kasus ini, bagaimana dokter meresepkan antibiotik secara tepat dan membuat pasien dan keluarga merasa puas? Studi telah menunjukkan bahwa bahkan jika pasien mengharapkan antibiotik, mereka bersedia untuk tidak diresepkan jika dokter menjelaskan mengapa antibiotik tidak diperlukan, memberikan rekomendasi perawatan yang positif, dan menyarankan rencana kontingensi/alternatif pengobatan lain.

Di luar komunikasi yang efektif, membuat komitmen publik untuk meresepkan antibiotik secara tepat dan menunda peresepan adalah intervensi yang secara evidence-based efektif. Satu studi menemukan bahwa menampilkan poster di ruang pemeriksaan dengan foto, tanda tangan, dan komitmen klinisi untuk menggunakan antibiotik secara tepat menyebabkan pengurangan 20% resep yang tidak tepat untuk infeksi saluran pernapasan akut. Penundaan pemberian antibiotik dapat digunakan untuk pasien dengan infeksi ringan yang kemungkinan akan sembuh secara spontan namun memerlukan antibiotik jika tidak membaik, seperti otitis media atau sinusitis. Dalam resep antibiotik yang ditunda, pasien diberi resep namun diinstruksikan untuk tidak menggunakannya kecuali jika gejala tidak membaik atau memburuk dalam waktu tertentu. Sebagai alternatif, pasien dapat kembali untuk mendapatkan resep antibiotik[2].

Tips konseling dengan pasien:

Intervensi Contoh
Penjelasan mengapa antibiotik tidak dibutuhkan + rekomendasi pengobatan positif lainnya "Penyakit Ibu disebabkan oleh virus sehingga antibiotik tidak memiliki manfaat. Saya akan meresepkan obat untuk penyakit Ibu namun Ibu juga harus memperbanyak istirahat, minum air hangat, serta hindari es dan gorengan." Selalu kombinasikan penjelasan mengapa antibiotik tidak dibutuhkan dengan rekomendasi perawatan lainnya. Pasien bersedia mendengar bahwa antibiotik tidak diperlukan jika saran dikombinasikan dengan cara lain untuk membantu mereka merasa lebih baik.
Penundaan peresepan antibiotik "Sakit batuk pilek anak Anda kemungkinan akan sembuh dengan sendirinya. Jika masih sakit dalam dua hari atau batuknya bertambah parah, silahkan tebus resep antibiotik ini."Saat memberikan resep, tulis tanggal kadaluarsa resep (misalnya 5-10 hari ke depan) sehingga resep hanya dapat ditebus selama masa tunggu tersebut dan tidak beberapa bulan kemudian.
Rencana cadangan "Jika anak Ibu masih sakit dalam seminggu atau ia demam, kontrol kembali kemari."

Referensi