Pedoman penanganan sepsis dan syok septik telah dipublikasikan pada tahun 2026 oleh The Surviving Sepsis Campaign (SSC), yang diinisiasi oleh European Society of Intensive Care Medicine (ESICM) dan Society of Critical Care Medicine (SCCM). Pedoman ini mengadopsi definisi sepsis pediatrik yang telah diperbarui, yaitu infeksi yang disertai disfungsi organ yang mengancam jiwa dan melibatkan sistem kardiovaskular, respirasi, koagulasi, atau neurologi.
Lebih lanjut, pedoman ini juga menegaskan kembali pentingnya kehati-hatian terhadap pemberian bolus cairan pada anak dengan sepsis. Dalam hal terapi oksigen, pedoman ini merekomendasikan untuk menghindari hiperoksia dengan menetapkan target pemberian oksigen suplementer yang lebih konservatif. Selain itu, pedoman ini juga membahas morbiditas pascasepsis.[1]
Tabel 1. Tentang Pedoman Klinis Ini
| Penyakit | Sepsis |
| Tipe | Penatalaksanaan |
| Yang Merumuskan | Society of Critical Care Medicine (SCCM) dan European Society of Intensive Care Medicine (ESICM). |
| Tahun | 2026 |
| Negara Asal | Internasional |
| Sasaran | Dokter Spesialis Anak dan Dokter Umum. |
Penentuan Tingkat Bukti
Penyusunan pedoman dilakukan oleh panel yang dibagi menjadi lima subkelompok, yaitu pengenalan dan penatalaksanaan infeksi, hemodinamika dan resusitasi, ventilasi, terapi, serta tindak lanjut jangka panjang. Pertanyaan penelitian disusun menggunakan format Population, Intervention, Comparison, Outcome (PICO), dengan meninjau kembali pertanyaan pada pedoman tahun 2020 dan menambahkan pertanyaan baru yang relevan.
Bukti ilmiah dikumpulkan melalui tinjauan sistematik dan dinilai menggunakan instrumen penilaian risiko bias yang sesuai. Selanjutnya, kualitas bukti dievaluasi menggunakan metode Grading of Recommendations, Assessment, Development, and Evaluation (GRADE), yang mempertimbangkan risiko bias, inkonsistensi, indirectness, ketidakakuratan (imprecision), dan bias publikasi.[1]
Rekomendasi Utama untuk Diterapkan dalam Praktik Klinis Anda
Beberapa rekomendasi yang perlu diperhatikan dari pedoman Surviving Sepsis Campaign (SSC) ini adalah adanya sedikit perubahan dalam definisi sepsis, yang mana sepsis didefinisikan sebagai kondisi infeksi yang menyebabkan disfungsi organ yang mengancam nyawa. Pedoman ini juga mengeluarkan beberapa pembaruan terkait diagnosis dan terapi.[1]
Pengenalan Infeksi
Rekomendasi terkait pengenalan infeksi antara lain:
- Belum terdapat bukti yang cukup untuk merekomendasikan penerapan skrining sepsis sistematis secara rutin pada anak yang sakit akut, di luar protokol klinis yang sudah ada.
- Pada anak dengan kecurigaan sepsis atau syok septik, pengukuran kadar laktat darah direkomendasikan sebagai bagian dari evaluasi awal.
Kultur darah sebaiknya dilakukan sebelum pemberian antibiotik apabila tidak menyebabkan keterlambatan terapi.
- Bukti belum cukup untuk merekomendasikan atau menolak penggunaan rutin pemeriksaan molekuler untuk mendeteksi atau mengidentifikasi patogen.[1]
Terapi Antibiotik
Rekomendasi terkait penggunaan terapi antibiotik antara lain:
- Pada anak dengan dugaan syok septik, terapi antibiotik dianjurkan dimulai sesegera mungkin, idealnya dalam waktu ≤1 jam setelah sepsis dikenali. Sementara itu, pada anak dengan dugaan sepsis tanpa syok, terapi antibiotik sebaiknya diberikan setelah evaluasi awal, idealnya dalam waktu ≤3 jam sejak sepsis dikenali.
- Pada dugaan sepsis bakterial ketika evaluasi tepat waktu sulit dilakukan, antibiotik perlu dipertimbangkan untuk diberikan sesegera mungkin.
- Terapi empiris dilakukan menggunakan antibiotik spektrum luas yang mencakup seluruh patogen yang paling mungkin menjadi penyebab. Pada pasien dengan gangguan imunitas atau risiko tinggi patogen multiresisten, dapat dipertimbangkan terapi empiris multidrug.
- Setelah patogen dan hasil uji kepekaan tersedia, terapi empiris harus dipersempit (de-escalation) sesuai hasil tersebut. Bila patogen tidak ditemukan, terapi empiris harus dipersempit atau dihentikan berdasarkan gambaran klinis, lokasi infeksi, faktor risiko pasien, dan respons klinis, dengan pertimbangan konsultasi ahli penyakit infeksi/mikrobiologi.
- Prokalsitonin tidak disarankan digunakan secara rutin sebagai panduan de-eskalasi antibiotik apabila program antimicrobial stewardship telah berjalan dengan baik.[1]
Kontrol Sumber Infeksi
Rekomendasi terkait kontrol sumber infeksi (source control) antara lain:
- Pengendalian sumber infeksi (source control) harus dilakukan sesegera mungkin setelah sumber infeksi yang memerlukan tindakan teridentifikasi.
- Kateter atau perangkat akses intravaskular yang terbukti menjadi sumber sepsis direkomendasikan untuk dilepas setelah akses vaskular alternatif tersedia, dengan mempertimbangkan patogen serta keseimbangan risiko dan manfaat tindakan.[1]
Terapi Cairan
Rekomendasi terkait terapi cairan yang penting diingat adalah bahwa pemberian bolus cairan tidak dianjurkan secara liberal, terutama pada anak tanpa hipotensi.
- Pada kasus syok septik dengan akses ICU, cairan dapat diberikan hingga 40–60 mL/kg dalam 1 jam pertama, dengan bolus 10–20 mL/kg setiap kali pemberian.
- Pada kasus sepsis tanpa hipotensi di fasilitas tanpa ICU, tidak direkomendasikan pemberian bolus cairan.
- Pada kasus syok septik dengan hipotensi di fasilitas tanpa ICU, cairan dapat diberikan hingga 40 mL/kg dalam 1 jam pertama, dengan bolus 10–20 mL/kg.
- Status hemodinamik harus dinilai ulang setelah setiap bolus. Bolus harus dititrasi berdasarkan tanda klinis curah jantung dan dihentikan bila syok membaik atau muncul tanda kelebihan cairan (fluid overload).
- Dalam hal jenis cairan, kristaloid lebih dianjurkan daripada albumin untuk resusitasi awal.
- Bila menggunakan bolus pada syok septik, balanced/buffered crystalloid lebih disarankan daripada NaCl 0,9%, meskipun kepastian buktinya sangat rendah.
- Setelah pasien stabil secara hemodinamik, perlu dilakukan pencegahan pemberian cairan berlebihan, pemantauan total asupan cairan, dan pertimbangan pengeluaran cairan secara aktif bila terjadi fluid overload.[1]
Pemantauan Hemodinamik
Dalam hal pemantauan hemodinamik, pedoman klinis ini merekomendasikan:
- Resusitasi harus dipandu oleh evaluasi klinis berulang terhadap: frekuensi jantung, tekanan darah, waktu pengisian kapiler (capillary refill time), suhu ekstremitas, kualitas nadi, tingkat kesadaran, dan produksi urin.
- Target mean arterial pressure (MAP) berdasarkan persentil usia belum dapat direkomendasikan karena bukti tidak memadai.
- Bila akses vena sentral tersedia, dapat dipertimbangkan target ScvO₂ ≥70% pada syok septik.
- POCUS jantung dan paru dapat digunakan untuk membantu memandu resusitasi apabila tersedia sumber daya dan tenaga terlatih.[1]
Obat Vasoaktif
Dalam hal penggunaan obat vasoaktif, pedoman ini menyatakan bahwa belum ada bukti cukup untuk menentukan apakah obat vasoaktif sebaiknya dimulai sebelum atau setelah pemberian bolus 40 mL/kg. Lebih lanjut, belum pula terdapat bukti yang cukup untuk menentukan epinefrin atau norepinefrin yang merupakan pilihan lini pertama yang lebih baik.
- Bila obat vasoaktif diperlukan, terapi dapat dimulai melalui akses vena perifer, tanpa harus menunggu pemasangan akses vena sentral.
- Pada kebutuhan katekolamin dosis tinggi, dapat dipertimbangkan penambahan vasopresin atau peningkatan dosis katekolamin.[1]
Oksigenasi dan Ventilasi
Beberapa rekomendasi terkait oksigenasi dan ventilasi yang perlu diperhatikan adalah:
Etomidat sebaiknya dihindari sebagai obat induksi saat intubasi pada anak dengan sepsis atau syok septik.
- Setelah resusitasi, oksigen suplementer sebaiknya dititrasi secara konservatif dengan target SpO₂ 88–92%, dibandingkan target yang lebih liberal >94%, untuk menghindari hiperoksia.
- Pada syok septik yang sudah dapat distabilkan dengan cairan dan obat vasoaktif, hidrokortison IV tidak dianjurkan secara rutin.[1]
Rekomendasi Lainnya
Beberapa rekomendasi lain yang patut mendapat perhatian adalah:
- Hidrokortison tidak diberikan rutin bila stabilitas hemodinamik dapat dicapai dengan cairan dan obat vasoaktif.
Levotiroksin tidak dianjurkan diberikan secara rutin pada anak dengan kondisi sick euthyroid dan disfungsi organ terkait sepsis.
- Tidak dianjurkan penggunaan rutin vitamin C, vitamin B1, dan suplementasi akut vitamin D bila tidak terdapat insufisiensi vitamin D secara klinis.
- Pada anak yang membutuhkan terapi pengganti ginjal, high-volume hemofiltration (HVHF; >35 mL/kg/jam) disarankan dibandingkan hemofiltrasi volume standar.
VV-ECMO dapat dipertimbangkan pada hipoksia refrakter yang tetap terjadi meskipun terapi lain telah diberikan. Sementara itu, VA-ECMO dapat dipertimbangkan sebagai terapi penyelamatan (rescue therapy) pada syok septik yang refrakter terhadap seluruh terapi lainnya.
- Penggunaan IVIG tidak dianjurkan secara rutin.
- Pedoman ini menyarankan penerapan individualized early rehabilitation bundle sejak fase akut penyakit. Dalam menentukan perawatan pascasepsis, lakukan penilaian terhadap faktor risiko morbiditas, berikan edukasi pada keluarga mengenai morbiditas pascasepsis, dan lakukan evaluasi adanya sekuela.[1]
Perbandingan dengan Pedoman Klinis di Indonesia
Pedoman penanganan sepsis di Indonesia menggunakan Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran (PNPK) Tata Laksana Sepsis pada Anak. Untuk menegakkan diagnosis sepsis, PNPK merekomendasikan berbagai penanda biologis, seperti jumlah leukosit, limfosit, rasio netrofil banding limfosit, kadar C-reactive protein (CRP), dan prokalsitonin.
Lebih lanjut, suplementasi vitamin tidak dijelaskan dalam PNPK, sedangkan SSC membahas ini. Selain itu, terdapat perbedaan pada rekomendasi penggunaan kortikosteroid. PNPK masih merekomendasikan pemberian hidrokortison IV dengan dosis 50 mg/m²/hari pada pasien dengan insufisiensi adrenal primer atau sekunder.[1,2]
Kesimpulan
The Surviving Sepsis Campaign (SSC) oleh European Society of Intensive Care Medicine (ESICM) dan Society of Critical Care Medicine (SCCM) mempublikasikan rekomendasi penanganan sepsis dan syok septik pada anak di tahun 2026. Beberapa rekomendasi yang patut mendapat perhatian adalah:
- Lakukan pengenalan dan evaluasi sepsis secara cepat. Ini bisa menggunakan pemeriksaan laktat dan kultur darah sebelum antibiotik (bila tidak menunda terapi secara bermakna).
- Pemberian antibiotik dilakukan sesegera mungkin (tidak ditunda), idealnya ≤1 jam pada kasus suspek syok septik dan dalam waktu ≤3 jam pada kasus suspek sepsis tanpa syok.
- Lakukan source control dan de-eskalasi antibiotik sesegera mungkin.
- Hindari resusitasi cairan dan penggunaan oksigen yang berlebihan. Jika pasien mendapat bolus cairan, maka lakukan evaluasi hemodinamik dan hentikan bolus cairan bila syok membaik atau muncul fluid overload.
- Pemberian kortikosteroid dan suplementasi nutrisi (vitamin B1, C, dan D) tidak dilakukan secara rutin
