Penggunaan pada Kehamilan dan Ibu Menyusui Zanamivir
Penggunaan zanamivir pada kehamilan dikategorikan sebagai kategori B1 oleh TGA. Pada ibu menyusui, belum diketahui dengan pasti apakah zanamivir diekskresikan ke dalam ASI atau tidak.[3,6]
Penggunaan pada Kehamilan
Kategori B1 (TGA): obat-obatan yang hanya dikonsumsi oleh sejumlah kecil wanita hamil dan wanita usia subur, tanpa teramati adanya peningkatan frekuensi malformasi atau efek merugikan langsung ataupun tidak langsung lainnya pada janin manusia. Penelitian pada hewan belum menunjukkan bukti peningkatan terjadinya kerusakan janin.[6]
Studi pada hewan tidak mengungkapkan bukti toksisitas embrio-janin, teratogenesis, ataupun toksisitas maternal. Tidak ada efek perkembangan merugikan yang diamati dengan pemberian intravena (tikus dan kelinci) atau subkutan (tikus) pada paparan yang jauh melebihi dosis inhalasi maksimal untuk manusia. Namun, ada peningkatan insiden perubahan skeletal dan viseral pada dosis subkutan 240 mg/kgBB/hari pada hewan.[2,3,9]
Zanamivir telah terbukti melintasi plasenta dalam studi hewan, namun tidak ada data mengenai transfer plasenta pada manusia dan tidak ada data terkontrol pada kehamilan manusia. Namun, ibu hamil memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi parah akibat influenza, yang dapat menyebabkan gangguan pada kehamilan dan/atau janin, termasuk lahir mati, cacat lahir, persalinan prematur, berat badan lahir rendah, dan bayi kecil untuk usia kehamilan.[2,3,9]
Penggunaan pada Ibu Menyusui
Belum diketahui apakah zanamivir diekskresikan ke dalam ASI atau tidak. Namun, obat ini diketahui melintasi plasenta dalam studi hewan, sehingga ibu disarankan untuk tidak menyusui selama penggunaan zanamivir atau menghentikan pengobatan.[2,3,9]
Manfaat perkembangan dan kesehatan dari menyusui harus dipertimbangkan bersama dengan kebutuhan klinis ibu akan zanamivir, dan potensi efek samping pada bayi yang disusui dari zanamivir atau dari kondisi ibu yang mendasarinya.[2,3]