Vaksinasi Influenza sebagai Pencegahan Sekunder Infark Miokard Akut pada Pasien Risiko Tinggi

Oleh dr. Josephine Darmawan

Influenza sering kali dianggap sebagai infeksi minor semata padahal penyakit ini memiliki konsekuensi komorbiditas yang serius, salah satunya adalah mencetuskan infark miokard akut pada pasien dengan risiko tinggi. Vaksinasi influenza dapat diberikan untuk mencegah morbiditas pada pasien-pasien risiko tinggi.

Sumber: JP Rivera, Wikimedia commons, 2014. Sumber: JP Rivera, Wikimedia commons, 2014.

Infark miokard akut merupakan salah satu penyebab morbiditas dan mortalitas tertinggi di dunia. Insidensi infark miokard akut sering kali meningkat pada musim dingin dan influenza.[1,2] Infeksi influenza dapat menjadi faktor pencetus masalah kardiologi, seperti miokarditis hingga infark miokard akut.[3-5] Hal ini mendorong penelitian tentang influenza dan infark miokard akut banyak dilakukan. Beberapa studi menunjukkan adanya hubungan yang kuat antara influenza dan infark miokard akut, sehingga vaksinasi influenza diperkirakan dapat mencegah terjadinya infark miokard, terutama pada pasien-pasien dengan risiko tinggi. Vaksinasi influenza diperkirakan dapat menurunkan risiko infark miokard akut hingga 15%-45%.[1,6-8] Meskipun data yang ada mendukung dan disarankan dalam beberapa pedoman praktik, upaya prevensi infark miokard akut dengan vaksinasi influenza belum banyak diterapkan dalam praktik kedokteran sehari-hari, terutama di negara-negara berkembang.[1,9-11]

Infark miokard akut (IMA) merupakan penyebab mortalitas dan morbiditas tertinggi di dunia, akan tetapi penyakit ini dapat dicegah dengan baik. Upaya preventif seperti (1) modifikasi gaya hidup: smoking cessation, intervensi diet dan olahraga; (2) terapi medikamentosa: statin, anti-hipertensi, anti-platelet; dan (3) rehabilitasi jantung sangat direkomendasikan pada pasien-pasien seluruh pasien dan orang risiko tinggi IMA.[1,12] Upaya pengobatan dan pencegahan infark miokard akut yang lebih efektif terus dikembangkan hingga saat ini. Studi terbaru menunjukkan bahwa vaksinasi influenza dapat bermanfaat dalam mencegah infark miokard akut.[1,11,13]

Bukti Epidemiologis Infeksi Influenza dan Infark Miokard Akut

Influenza dan infark miokard akut merupakan dua kondisi dengan morbiditas yang sangat tinggi. Insidensi keduanya ditemukan sama-sama meningkat, terutama pada musim dingin atau musim flu.[2,14] Studi Warren-Gash menunjukan bahwa terjadi peningkatan kasus rawat inap karena infark miokard akut pada musim dingin yang berkaitan dengan infeksi influenza di Inggris dan Wales dengan angka rawat inap 0.7-1.2% dan mortalitas 3.1%-3.4% serta di Hong Kong dengan angka rawat inap 3.0%-3.3% dan mortalitas 3.9%-5.6%.[2]

Penelitian Kwong tahun 2018 juga menemukan terjadinya peningkatan insidensi infark miokard akut mencapai 6 kali pada 7 hari pertama infeksi influenza dibandingkan dengan saat tidak terkena infeksi influenza.[4] Hal ini membuktikan adanya hubungan antara infark miokard akut dan virus influenza sebagai salah satu faktor pencetus infark miokard akut. Studi lain juga menunjukkan bahwa terdapat kenaikan risiko infark miokard sebanyak 17 kali lipat pada pasien yang mengalami infeksi respiratorik ringan dalam 1-7 hari terakhir.[1,5] Hal ini didukung oleh meta analisis yang juga menunjukkan hal serupa.[6]

Hubungan Influenza dan Infark Miokard Akut

Dari data-data yang ada, didapatkan bahwa infeksi influenza merupakan salah satu faktor pencetus infark miokard akut. Belum banyak teori yang menjelaskan mekanisme infeksi influenza dan terjadinya infark miokard akut. Teori yang ada mengatakan bahwa hal ini dapat terjadi karena faktor sitokin inflamasi, disrupsi plak aterosklerosis, dan trombogenesis.[1,14,15]

Infark miokard disebabkan kurangnya suplai oksigen ke otot jantung. Pada saat terjadi infeksi influenza, tubuh akan memberikan respon dengan mengeluarkan sitokin-sitokin pro-inflamasi, seperti interleukin (IL)-6 dan tumor necrosis factor (TNF)-a. Septisemia karena influenza juga dapat meningkatkan oksidasi lipoprotein densitas rendah/low-density lipoprotein (LDL) dan menurunkan efek antioksidan dari lipoprotein densitas tinggi/high-density lipoprotein (HDL). Proses pro-inflamasi ini akan menyebabkan status pro-trombotik dan mengganggu kestabilan ataupun ruptur plak aterosklerosis. Hal ini dapat memperparah sumbatan pada pembuluh darah koroner yang sudah mengalami stenosis, sehingga terjadi hipoksia jaringan. Infeksi influenza juga diperkirakan dapat menyebabkan vasokonstriksi karena adanya aktivasi simpatetik yang dapat memperberat gangguan aliran darah. Infeksi influenza juga dapat memicu inflamasi sistemik dan meningkatkan kebutuhan metabolik akibat demam dan takikardia. Hal ini akan menyebabkan hipoksia dan vasokonstriksi lebih lanjut.[1,14,15]

Efikasi Vaksinasi Influenza sebagai Prevensi Sekunder Infark Miokard Akut

Studi-studi yang ada saat ini menunjukkan adanya hubungan antara influenza dan infark miokard akut, sehingga vaksin influenza banyak diberikan sebagai upaya preventif sekunder pada penyakit jantung koroner. Vaksin influenza dinilai dapat mencegah infeksi influenza, sehingga tidak terjadi kaskade infark miokard akut karena flu. Vaksin influenza juga dinilai dapat menurunkan reaksi silang antara antibodi vaksin dan bradikinin reseptor, sehingga kadar nitrit oksida meningkat. Peningkatan nitrit oksida ini dapat meningkatkan efisiensi penggunaan oksigen miokardial dan melancarkan aliran darah dengan vasodilatasi serta angiogenesis.[1]

Studi menunjukkan bahwa vaksin influenza memiliki efektifitas sekitar 19%-45% dalam mencegah infark miokard akut. Salah satu meta analisis dari uji acak terkontrol menunjukkan vaksin influenza dapat memberikan proteksi terhadap infark miokard akut, tetapi tidak signifikan secara statistik. Hasil penelitian ini menjadi dasar penelitian meta analisis lain dari 7 studi kontrol-kasus dengan lebih dari 17.000 pasien menunjukkan bahwa vaksin influenza dapat mengurangi risiko terjadinya infark miokard akut pada pasien risiko tinggi hingga 29% (95% CI 9%-44%). Studi case-series pada 20,000 pasien infark miokard akut baru dan 19,000 pasien stroke pertama kali menunjukkan bahwa tidak terdapat peningkatan risiko infark miokard akut atau stroke pada 3 bulan setelah vaksinasi. Vaksin influenza juga dapat menurunkan insidensi kardiovaskular sekitar 10% pada pasien dengan sindrom koroner akut dalam 12 bulan setelah vaksinasi.[1,16]

Studi Howard yang membandingkan 4 studi dengan 165,791 pasien vaksinasi influenza dan 121,990 pasien yang tidak divaksinasi menunjukkan bahwa terdapat penurunan risiko terjadinya IMA sebesar 27% pada pasien yang mendapatkan vaksinasi. Mortalitas pada pasien yang mendapatkan vaksinasi juga menurun tajam sebesar 40%. Studi flu vaccination acute coronary syndromes (FLUVACS) juga menunjukkan bahwa kematian akibat penyakit kardiovaskular lebih rendah pada pasien yang mendapatkan vaksinasi (2%) dibandingkan pasien yang tidak divaksinasi (8%) pada waktu 1 tahun follow-up. Salah satu studi dari Journal of the American Medical Association (JAMA) juga menunjukkan bahwa vaksin influenza efektif dalam menurunkan risiko serangan jantung dengan efektifitas terbaik terlihat pada kelompok pasien risiko tinggi dengan penyakit jantung vaskuler yang lebih aktif.[8,17]

Rekomendasi Vaksinasi Influenza sebagai Pencegahan Sekunder Infark Miokard Akut

Rekomendasi vaksinasi influenza untuk pencegahan sekunder infark miokard akut sudah dilakukan di beberapa negara, terutama Australia, Eropa, dan Amerika. Vaksin influenza dianjurkan untuk diberikan sebanyak 1 kali setiap tahun pada pasien dewasa dengan risiko tinggi penyakit jantung koroner dan pasien lansia usia di atas 60 tahun untuk mencegah mortalitas dan morbiditas kerena IMA. Hal ini juga dianjurkan oleh American Heart Association (AHA) dan ditargetkan cakupan vaksin influenza pada tahun 2020 mencapai 90% untuk pasien risiko tinggi usia 18-64.[1,8] Studi FLUVACS juga menyatakan bahwa vaksin influenza dapat diberikan segera setelah dilakukan intervensi kateterisasi perkutaneus (percutaneous coronary intervention / PCI) pada pasien ST-elevation myocardial infarction (STEMI) ataupun nonST-elevation myocardial infarction (NSTEMI) atau dalam 72 jam setelah onset gejala.[17] Berdasarkan Satuan Petugas Imunisasi Persatuan Dokter Spesialis Penyakti Dalam Indonesia (Satgas Imunisasi PAPDI) tahun 2013 untuk imunisasi dewasa, vaksinasi influenza juga dianjurkan dilakukan 1 kali satu tahun pada pasien usia 18 tahun hingga di atas 65 tahun, tetapi hal ini belum dirutinkan sebagai pencegahan infark miokard akut.[18]

Kesimpulan

Vaksinasi influenza dapat sangat bermanfaat dalam menurunkan morbiditas dan mortalitas karena infark miokard akut. Hal ini sudah direkomendasikan dan rutin dipraktikkan di Amerika Serikat oleh American Heart Association, tetapi belum rutin dilakukan di Indonesia. Vaksinasi influenza dapat diberikan sebanyak 1 kali setiap tahun pada pasien dewasa risiko tinggi usia 18-64 tahun atau seluruh pasien usia 65 tahun ke atas. Pasien-pasien yang mengalami STEMI ataupun NSTEMI juga dapat diberikan vaksin influenza setelah dilakukan PCI atau dalam 72 jam setelah onset gejala. Rekomendasi nasional untuk pemberian vaksinasi influenza sebagai upaya preventif sekunder pada infark miokard akut masih harus dikembangkan.

Referensi