Efikasi Konsumsi Zinc untuk Meringankan Gejala Common Cold

Oleh :
dr.Monik Alamanda

Banyak penelitian mengenai penggunaan zinc untuk meringankan gejala common cold atau flu, baik dalam bentuk sediaan tablet, tablet hisap (lozenges), kapsul, dan sirup. Penelitian-penelitian tersebut menunjukkan hasil yang bervariasi. Akhir-akhir ini, penggunaan zinc kembali hangat dibicarakan sebagai bagian dari tata laksana COVID-19.[1,2]

Common cold, atau dikenal juga sebagai batuk-pilek atau flu, merupakan salah satu penyakit yang paling sering terjadi  sehingga obat yang dapat meringankan gejala sangat dibutuhkan. Common cold adalah self limiting disease yang akan sembuh dengan sendirinya jika daya tahan tubuh pasien dijaga dengan baik.  Namun, dengan padatnya aktivitas sehari-hari, kebanyakan pasien memilih untuk mengkonsumsi obat-obatan yang dapat meringankan gejala. Sebenarnya penggunaan istilah flu rancu karena lebih tepat digunakan untuk penyakit influenza.

shutterstock_1655286934-min

Efek Mengonsumsi Zinc terhadap Gejala Common Cold (Flu)

Dalam kurang lebih 30 tahun terakhir, banyak penelitian mengenai penggunaan tablet hisap (lozenges) zinc dalam terapi flu. Penggunaan sediaan tablet hisap zinc dipercaya berpotensi meringankan gejala flu karena ion zinc bebas memiliki efek lokal di area orofaring. Penelitian-penelitian tersebut memberikan hasil yang bervariasi, hal ini diduga disebabkan karena adanya variasi pemberian dosis zinc elemental dan komposisi tablet hisap itu sendiri. Ion zinc berikatan dengan kekuatan yang berbeda dengan berbagai macam komponen dalam tablet hisap.[1,3]

Mekanisme Zinc terhadap Gejala Common Cold

Batuk pilek paling banyak disebabkan oleh human rhinovirus. Virus ini menempel pada dinding epitel hidung melalui Intercellular Adhesion Molecule-1 (ICAM-1). Ion zinc, berdasarkan muatan listriknya, juga memiliki kemampuan untuk melekat pada reseptor ICAM-1 baik di struktur virus maupun di dinding epitel hidung. Mekanisme ion zinc ini dapat mencegah virus untuk berkembang. zinc dalam bentuk tablet hisap atau sirup dianggap lebih efektif dalam memerangi virus karena lebih bertahan pada faring dan berkontak langsung dengan virus.[8]

Zinc Asetat vs Zinc Glukonat

Komposisi tablet hisap zinc dapat mengandung manitol, sorbitol, dan sitrat yang berikatan kuat dengan ion zinc sehingga akan menghambat pelepasan ion zinc dan  mengurangi potensinya dalam terapi flu. Sedangkan dua garam zinc yang ditemukan paling efektif adalah zinc acetate dan zinc gluconate. Garam glukonat diketahui memiliki ikatan yang lebih kuat dengan zinc dibandingkan dengan asetat.[1–3]

Hemilä melakukan meta analisis terhadap 7 penelitian acak terkontrol mengenai dosis zinc yang optimal sebagai terapi flu, serta membandingkan potensi zinc glukonat dan zinc asetat. Studi tersebut menunjukkan adanya bukti kuat bahwa tablet hisap zinc, dalam berbagai variasi frekuensi pemberian, dapat memperpendek durasi flu hingga 33%. Studi juga menunjukkan perbedaan yang tidak signifikan antara kedua garam zinc tersebut. Efek maksimal tablet hisap zinc terhadap gejala flu adalah pada pemberian dosis 80 mg/hari.[1]

Meta analisis lain terhadap data individual yang melibatkan 199 pasien flu yang mendapatkan tablet hisap zinc asetat. Studi menemukan bahwa pemberian zinc asetat dosis >75 mg/hari dapat meningkatkan pemulihan hingga 3 kali lipat, dan memperpendek rata-rata durasi flu hingga 3 hari. Hasil tersebut tidak dipengaruhi usia, jenis kelamin, ras, riwayat alergi, riwayat merokok, dan tingkat keparahan awal flu. Tablet hisap zinc asetat memiliki efikasi tinggi untuk terapi flu dan risiko efek samping yang rendah.[4]

Anjuran Dosis Zinc untuk Gejala Common Cold

Dosis suplementasi zinc untuk penderita common cold atau flu berdasarkan penelitian adalah >75 mg/hari. Dosis dianjurkan tidak melebihi 100 mg dalam satu hari, karena pemberian lebih dari 100 mg tidak terbukti memiliki efektivitas yang lebih tinggi dalam mengurangi durasi gejala flu. zinc sebaiknya dikonsumsi pada hari pertama timbulnya gejala flu, walaupun pemberian dalam 3 hari pertama masih menunjukkan manfaat. Tablet hisap dikonsumsi setiap 2‒3 jam, bergantung pada dosis setiap tablet. Tidak ada perbedaan yang signifikan dari efek zinc lozenges terhadap gejala flu yang berasal dari regio anatomi yang berbeda.[4]

Namun, sebagian besar tablet hisap zinc yang dapat dibeli bebas memiliki dosis zinc elemental yang terlalu rendah, atau mengandung substansi yang berikatan kuat dengan ion zinc seperti asam sitrat. Hal ini diperkuat oleh hasil penelitian acak terkontrol yang dipublikasikan tahun 2020, bahwa penggunaan tablet hisap zinc asetat komersial tidak berpengaruh terhadap gejala dan durasi flu.[4,5]

Keamanan Mengonsumsi Zinc

Rekomendasi asupan zinc tiap hari berdasarkan angka kecukupan gizi (AKG) Indonesia tahun 2019 adalah berkisar 1,1‒3 mg untuk bayi, 3‒8 mg untuk anak, 11 mg untuk dewasa laki-laki, 8‒9 mg untuk dewasa perempuan, serta untuk perempuan hamil dan menyusui perlu ditambahkan 2‒5 mg. Suplementasi zinc untuk anak sehat telah terbukti bermanfaat.[9]

Walaupun dosis zinc yang disarankan untuk terapi gejala flu jauh melebihi AKG harian, tetapi dari uji klinis yang dilakukan tidak ditemukan efek samping atau kerusakan yang permanen. Efek samping yang paling sering ditemukan adalah sisa rasa tidak enak pada mulut dan iritasi lambung.[4]

Efek Zinc sebagai Bagian dari Terapi COVID-19

Mengingat 20% kasus flu disebabkan oleh coronavirus, maka banyak penelitian yang mempelajari potensi zinc dalam opsi terapi COVID-19. Beberapa hasil penelitian in vitro, maka teori  mekanisme kerja zinc terhadap virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 adalah sebagai berikut:

  • Konsentrasi ion zinc intrasel yang tinggi dapat menghambat proses proteolisis poliprotein dan kompleks RNA-dependent RNA-polymerase yang merupakan enzim inti dalam sintesis RNA, sehingga dapat menghambat replikasi virus
  • Ion zinc dapat mengurangi aktivitas angiotensin converting enzyme-2 (ACE-2) sehingga akan menghambat virus masuk ke dalam sel target
  • Zinc memiliki efek imunomodulator
  • Zinc sebagai antiinflamasi adalah menghambat sinyal NF-κB dan memodulasi regulasi fungsi sel T sehingga dapat meminimalisir kondisi badai sitokin
  • Perbaikan status zinc dapat mengurangi risiko koinfeksi bakteri pada pasien COVID-19, yaitu dengan meningkatkan bersihan mukosiliar dan fungsi barrier epitel respirasi, serta memiliki efek antibakteri langsung terhadap Streptococcus pneumoniae[2,6]

Selain itu, zinc diusulkan sebagai kofaktor klorokuin atau hidroksiklorokuin dalam terapi COVID-19. Klorokuin merupakan ionofor zinc, yaitu membantu influks ion zinc ke intrasel sehingga meningkatkan konsentrasi ion zinc intrasel. Kombinasi terapi klorokuin dan zinc dapat meningkatkan potensi antivirus terhadap SARS-CoV-2. Namun, penelitian terbaru menunjukkan manfaat klorokuin atau hidroksiklorokuin pada pasien COVID-19 yang dirawat di rumah sakit tidak menurunkan mortalitas selama 28 hari. Bahkan kedua obat tersebut dikaitkan dengan peningkatan lama rawat inap dan peningkatan risiko menggunakan ventilasi mekanis invasif. [6,7,10]

Status zinc berkorelasi erat dengan kelompok risiko COVID-19 derajat berat, seperti lansia, imunodefisiensi, obesitas, diabetes, dan aterosklerosis. Kelompok tersebut juga diketahui sebagai kelompok risiko defisiensi zinc. Dalam sebuah laporan kasus serial, Finzi melaporkan 4 pasien rawat jalan terdiagnosis COVID-19 yang diberikan tablet hisap zinc dosis tinggi. Pasien-pasien tersebut didiagnosis melalui penilaian klinis dan atau terkonfirmasi laboratorium. Semua pasien mengalami perbaikan subjektif dan objektif yang signifikan setelah satu hari terapi.[2,6]

Kesimpulan

Terdapat bukti kuat yang mendukung penggunaan tablet hisap zinc mengurangi durasi dan gejala common cold atau flu. Tablet hisap zinc sebaiknya diberikan dalam 24 jam setelah onset gejala dalam dosis tinggi. Frekuensi dan komposisi optimal dari tablet hisap zinc perlu dipelajari lebih lanjut. Belum banyak data klinis mengenai penggunaan zinc pada pasien COVID-19. Penelitian in vitro dan beberapa teori mendukung penggunaan kombinasi zinc dengan klorokuin atau hidroksiklorokuin pada pasien COVID-19. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa pemberian klorokuin atau hidroksiklorokuin pada pasien COVID-19 dikaitkan dengan peningkatan lama rawat inap dan risiko menggunakan ventilasi mekanis invasif. Oleh karena itu, penelitian terkontrol mengenai penggunaan zinc sebagai bagian dari terapi COVID-19 masih dibutuhkan.

 

Penulisan pertama: dr. Hunied Kautsar

Referensi