Suplementasi mikronutrien dengan multiple micronutrient supplementation atau MMS penting dan aman dikonsumsi selama kehamilan. MMS mengandung berbagai vitamin dan mineral yang berkontribusi penting dalam menjaga kesehatan ibu serta mendukung pertumbuhan dan perkembangan janin selama kehamilan.[1]
Peningkatan kebutuhan nutrisi pada masa kehamilan meningkatkan risiko morbiditas ibu serta luaran janin, seperti berat badan lahir rendah (BBLR), prematuritas, dan small-for-gestational age (SGA). Risiko ini akan menurun bersamaan dengan konsumsi MMS, yang juga memiliki risiko efek samping yang rendah, sehingga aman untuk dikonsumsi selama kehamilan.[1-3]
Peran Mikronutrien dalam Kehamilan
Mikronutrien memainkan peran penting dalam menjaga kesehatan ibu serta mendukung pertumbuhan dan perkembangan janin selama kehamilan. WHO dan UNICEF merekomendasikan formulasi standar UNIMMAP MMS (United Nations International Multiple Micronutrient Antenatal Preparation) yang mencakup 15 mikronutrien esensial, dengan bukti kuat efektivitas dan keamanannya terutama pada populasi dengan status gizi rendah.[1,4]
Tabel 1. Formulasi UNIMMAP MMS
| Mikronutrien | Dosis |
| Zat besi | 30 mg |
| Zinc | 15 mg |
| Tembaga | 2 mg |
| Selenium | 65 µg |
| Yodium | 150 µg |
| Vitamin A | 800 µg ekuivalen dengan retinol (RE) |
| Vitamin B1 | 1,4 mg |
| Vitamin B2 | 1,4 mg |
| Vitamin B3 (niasin) | 18 mg |
| Vitamin B6 | 1,9 mg |
| Vitamin B9 (asam folat) | 400 µg |
| Vitamin B12 | 2,6 µg |
| Vitamin C | 70 mg |
| Vitamin D | 200 IU |
| Vitamin E | 10 mg |
Sumber: WHO Model List of Essential Medicines.[5]
Mikronutrien diketahui memengaruhi perkembangan konsepsi sejak awal kehamilan, termasuk implantasi dan vaskularisasi plasenta, morfogenesis keturunan, organogenesis, dan perkembangan neurologis.[6]
Zat besi dan asam folat merupakan mikronutrien esensial dalam pembentukan sel darah merah, pencegahan anemia, serta mendukung pembentukan sistem saraf pusat janin. Apabila terjadi defisiensi zat besi, maka risiko bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR), kelahiran prematur, dan mortalitas maternal akan meningkat. Sementara, kekurangan folat dapat meningkatkan risiko neural tube defect pada janin.[7]
Mikronutrien lain seperti vitamin D, vitamin A, zinc, dan yodium juga berperan penting. Vitamin D penting untuk metabolisme kalsium dan kesehatan tulang, sedangkan yodium diperlukan untuk sintesis hormon tiroid yang mempengaruhi perkembangan otak janin. Zinc berperan dalam sintesis DNA dan pembelahan sel, sedangkan vitamin A mendukung fungsi imun serta perkembangan visual janin.[6]
Sayangnya, pada banyak populasi, terutama di negara berpenghasilan rendah-menengah, kebutuhan mikronutrien ini tidak selalu dapat dipenuhi melalui diet saja selama kehamilan. Oleh karena itu, suplementasi mikronutrien menjadi langkah penting dalam layanan antenatal untuk mencegah komplikasi kehamilan dan mendukung perkembangan janin yang optimal.[6,7]
Keunggulan MMS dibandingkan Zat Besi dan Asam Folat (IFA)
Suplementasi zat besi dan asam folat atau iron and folic acid (IFA) telah lama menjadi standar perawatan antenatal untuk mencegah anemia dan mendukung pertumbuhan janin. Namun, kebutuhan ibu hamil akan mikronutrien lebih luas dari sekadar zat besi dan folat, terutama pada populasi dengan risiko malnutrisi. Oleh karena itu, pemberian multiple micronutrient supplement (MMS) terbukti jauh lebih unggul dan semakin direkomendasikan dalam praktik klinik.[1,6]
Hasil Studi Keunggulan MMS untuk Mengurangi Risiko Luaran Kehamilan
Berbagai studi secara konsisten menunjukkan keunggulan suplementasi MMS dibandingkan IFA dalam kehamilan.
Keats et al. (2019) melakukan uji acak terkendali untuk membandingkan antara MMS dan IFA melalui uji acak terkendali yang melibatkan lebih dari 141.000 ibu hamil. Hasil menunjukkan bahwa MMS mampu menurunkan risiko BBLR sebesar 12%, bayi small-for-gestational-age sebesar 8%, dan penurunan risiko kelahiran prematur sebesar 5%.[3]
Temuan ini juga didukung oleh studi meta analisis oleh Smith et al. (2017) dengan hasil serupa, bahwa MMS menurunkan risiko kelahiran BBLR sebesar 12%, risiko bayi small-for-gestational-age (SGA) sebesar 8%, serta memiliki potensi menurunkan angka kelahiran prematur dibandingkan IFA.[8]
Studi sistematik oleh Bourassa et al. (2022) menunjukkan bahwa MMS, yang mengandung zat besi, folat, serta vitamin dan mineral esensial lainnya, dapat mengurangi risiko stillbirth (bayi lahir mati) dan membantu menurunkan anemia pada ibu hamil.[6]
Hasil Studi Keunggulan MMS untuk Ibu Hamil dengan Anemia dan IMT Rendah
Ibu hamil dengan anemia dan indeks massa tubuh rendah (IMT <18,5 kg/m²) berisiko tinggi mengalami komplikasi kehamilan serius serta peningkatan morbiditas dan mortalitas ibu. Karena malnutrisi ini sering melibatkan defisiensi multi-mikronutrien, suplementasi hanya dengan zat besi dan folat (IFA) saja mungkin tidak memadai.[1,6]
Studi oleh Smith et al. (2017) menunjukkan bahwa MMS juga memperbaiki status hemoglobin dan mengurangi defisiensi mikronutrien penting lainnya seperti zinc dan vitamin A, yang bermanfaat untuk pertumbuhan janin dan fungsi imun pada ibu hamil dengan IMT rendah.[7,8]
Keats et al. (2019) mengemukakan bahwa MMS menurunkan risiko BBLR hingga 12% dan SGA hingga 8% yang justru lebih signifikan pada ibu hamil dengan IMT rendah dan anemia, yang umum ditemukan di Indonesia.[3]
Studi di Bangladesh dan Nepal pada tahun 2007 hingga 2012 memperkuat temuan bahwa MMS tidak hanya menurunkan risiko komplikasi kehamilan, tetapi juga meningkatkan status mikronutrien ibu pada trimester ketiga. Hal ini penting untuk kesiapan ibu menghadapi persalinan dan pemulihan pasca melahirkan.[9]
Berdasarkan hasil dari berbagai studi di atas, MMS terbukti lebih komprehensif untuk mengurangi risiko komplikasi dan meningkatkan status gizi ibu secara keseluruhan dibanding IFA konvensional. Bukti ini memperkuat rekomendasi untuk mengintegrasikan MMS dalam perawatan antenatal, khususnya di area dengan prevalensi kekurangan gizi tinggi, untuk mendukung kehamilan dan melahirkan generasi yang lebih sehat.[10]
Keamanan Suplementasi MMS
Aspek keamanan merupakan pertimbangan penting sebelum implementasi MMS secara luas dalam layanan antenatal. Berdasarkan bukti terkini, suplementasi MMS tidak menunjukkan peningkatan risiko yang tidak diinginkan, baik pada ibu maupun janin, jika dibandingkan dengan suplementasi zat besi dan asam folat (IFA) saja.[6]
Analisis Keath et al. (2019) menunjukkan bahwa penggunaan MMS tidak meningkatkan risiko preeklampsia, kelahiran sectio caesarea, atau anomali kongenital. Tidak ada pula peningkatan risiko keguguran atau kematian ibu terkait MMS. Hal ini penting untuk dapat menenangkan kekhawatiran ibu hamil, terutama pada kehamilan berisiko tinggi.[3]
Studi individual patient data meta-analysis (IPD-MA) tahun 2017 juga menegaskan keamanan MMS pada berbagai subkelompok, termasuk ibu dengan IMT rendah, usia remaja, dan status sosioekonomi rendah.[8]
Formulasi UNIMMAP MMS menggunakan dosis zat besi yang lebih rendah (30 mg) daripada IFA konvensional (60 mg). Dosis zat besi yang lebih rendah ini mengurangi efek samping gastrointestinal, seperti mual, konstipasi, dan diare, yang sering menghambat kepatuhan konsumsi IFA dosis tinggi.[11]
Penelitian di Bangladesh, Nepal, dan Burkina Faso lebih lanjut menunjukkan bahwa MMS tidak meningkatkan risiko perdarahan postpartum, komplikasi obstetri, atau luaran neonatal yang merugikan. Sebaliknya, MMS membantu memperbaiki status mikronutrien ibu, mendukung pemulihan pasca persalinan, dan keberhasilan menyusui.[12]
Dengan demikian, MMS adalah intervensi antenatal yang aman, terutama bagi populasi berisiko tinggi kekurangan gizi, untuk mendukung kehamilan sehat dan mengurangi komplikasi pada ibu dan bayi.
Implementasi MMS di Indonesia
Dalam dua dekade terakhir, lebih dari 20 studi besar terkait MMS telah dilakukan di berbagai negara, termasuk di Indonesia. Studi telah secara konsisten mendukung penggunaan MMS selama kehamilan. Bukti ini menunjukkan bahwa MMS efektif dalam menurunkan risiko BBLR, small-for-gestational-age, prematuritas, serta memperbaiki status mikronutrien ibu hamil.[7]
Studi intervensi di Indonesia menunjukkan bahwa MMS dapat menurunkan prevalensi BBLR sebesar 18% dan SGA sebesar 10%. Penelitian di Purworejo melaporkan peningkatan kadar hemoglobin dan penurunan risiko anemia pada ibu hamil yang mengkonsumsi MMS. Uji acak terkendali di Lombok menemukan bahwa MMS dapat menurunkan kematian bayi usia dini sebesar 18% serta gabungan fetal loss dan kematian neonatal sebesar 11%, sekaligus mengurangi risiko BBLR.[13,14]
Sejalan dengan bukti global dan nasional yang ada, Kementerian Kesehatan RI pada tahun 2024 telah menerbitkan KMK No. HK.01.07/MENKES/1092/2024 yang menetapkan standar suplemen gizi mikro untuk ibu hamil, dengan komposisi yang selaras dengan formulasi UNIMMAP MMS. Keputusan ini menandai pergeseran kebijakan nasional ke arah penggunaan MMS selama kehamilan, menggantikan hanya pemberian IFA saja.[15]
Laporan UNICEF tahun 2022 menunjukkan bahwa Indonesia aktif dan unggul dalam implementasi MMS di Asia Tenggara, dengan hasil konsisten pada peningkatan status vitamin A, D, dan zinc maternal, serta cadangan zat besi. Temuan ini sangat penting mengingat tingginya prevalensi anemia pada ibu hamil (48,9%) dan kekurangan mikronutrien lain di Indonesia.[10,16]
Hal ini didukung dengan penerimaan program MMS yang baik oleh masyarakat di Indonesia. Melalui evaluasi yang dilakukan oleh Kemenkes RI, tingkat kepatuhan konsumsi MMS lebih baik dibandingkan IFA, karena efek samping gastrointestinal yang lebih minimal. Dengan bukti yang semakin kuat dan konsisten ini, suplementasi MMS kini menjadi rekomendasi yang diperkuat sebagai bagian integral dari perawatan antenatal, khususnya bagi populasi berisiko tinggi di Indonesia, menggantikan standar IFA.[16]
Kesimpulan
Multiple Micronutrient Supplementation atau MMS selama kehamilan memberikan manfaat signifikan dalam menurunkan risiko bayi lahir dengan berat badan lahir rendah (BBLR), small-for-gestational-age (SGA), dan prematuritas, melebihi manfaat yang diberikan oleh suplementasi zat besi dan asam folat (IFA) saja.
Bukti ilmiah dari lebih dari 20 studi selama dua dekade terakhir, termasuk studi di Indonesia, menunjukkan bahwa MMS juga efektif memperbaiki status mikronutrien maternal, mendukung pertumbuhan janin yang optimal, serta aman digunakan pada populasi ibu hamil dengan risiko malnutrisi.
MMS dengan formulasi UNIMMAP yang mengandung 15 mikronutrien esensial memiliki profil keamanan yang baik dan dapat mengurangi risiko anemia dengan efek samping gastrointestinal yang lebih minimal, sehingga meningkatkan kepatuhan konsumsi.
Dengan prevalensi anemia dan malnutrisi pada ibu hamil yang masih tinggi di Indonesia, MMS menjadi opsi intervensi antenatal strategis untuk mendukung kehamilan sehat, persiapan persalinan yang optimal, dan pembangunan generasi yang lebih sehat ke depan.
