Merokok Sebatang Sehari Tetap Meningkatkan Risiko Penyakit Kardiovaskular secara Signifikan

Oleh dr. Gisheila Ruth

Merokok merupakan faktor risiko mayor terjadinya penyakit kardiovaskular. Ternyata mengurangi merokok menjadi hanya sebatang sehari tetap meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular hingga hampir 1,5 kali lipat populasi normal. Dokter harus menekankan pentingnya berhenti merokok secara total untuk menghindari risiko penyakit tersebut.

Lebih dari satu miliar orang di dunia ini merokok, dengan prevalensi 11% pada wanita dan 49% pada pria. Merokok dapat membunuh lebih dari 650.000 orang setiap tahunnya. Merokok merupakan faktor risiko mayor dari kejadian penyakit serebrovaskular, meningkatkan risiko 7x lebih tinggi mengalami penyakit arterial perifer, dan meningkatkan lebih dari 2x risiko terjadinya penyakit jantung koroner. Sekitar 30% kematian akibat penyakit jantung koroner dialami oleh pasien dengan riwayat merokok. Berbagai penelitian menemukan bahwa peningkatan risiko penyakit kardiovaskular tidak berbanding lurus dengan jumlah rokok yang dikonsumsi. Merokok hanya satu batang setiap hari nyatanya sudah dapat meningkatkan risiko kejadian kardiovaskular, misalnya sindrom koroner akut, secara signifikan.[1-3]

Depositphotos_12261376_m-2015_compressed

Patofisiologi Merokok dalam Meningkatkan Risiko Kardiovaskular

Merokok dapat mempercepat pembentukan aterom dengan mengganggu fungsi endotel pembuluh darah, menginduksi inflamasi kronik, dan dislipidemia. Kadar kolesterol total dan LDL pada perokok lebih tinggi dibandingkan dengan yang tidak merokok. Selain itu, merokok juga dapat meningkatkan status hiperkoagulasi dalam tubuh sehingga terjadi agregasi platelet, peningkatan level fibrinogen, dan polisitemia. Peningkatan trombosis dapat menjadi faktor utama terjadinya kejadian kardiovaskular akibat merokok. Tingginya kadar reactive oxygen species (ROS) pada rokok juga meningkatkan risiko terjadinya penyakit kardiovaskular.[4,5]

Perokok aktif dapat meningkatkan risiko terjadinya kejadian infark miokard. Tidak hanya merugikan bagi perokok aktif, perokok pasif juga dapat mengalami peningkatan risiko jantung iskemik sebesar 30% apabila terdapat anggota keluarga yang merokok dalam satu rumah.

Seseorang yang merokok >40 batang setiap hari mengalami 9x lipat lebih tinggi untuk mengalami risiko infark miokard dibandingkan dengan yang tidak merokok. Pada jumlah banyak, peningkatan risiko ini bersifat linear, tetapi pada jumlah sedikit (1-5 batang sehari), terjadi peningkatan tajam risiko infark miokard. Orang yang merokok hanya satu batang sehari memiliki peningkatan risiko kardiovaskular hingga 1,5 kali lipat orang yang tidak merokok. Oleh karena itu, penting bagi dokter untuk menjelaskan bahwa penurunan risiko kardiovaskular dan penyakit lainnya tidak akan tercapai secara signifikan jika pasien hanya berhenti secara parsial (menurunkan jumlah rokok yang dikonsumsi per hari).[4]

Manfaat Berhenti Merokok

Berhenti merokok secara total dapat menurunkan risiko kejadian kardiovaskular yang didapat dari riwayat merokok sebelumnya. Tubuh dapat mengalami perubahan fisiologis bertahap dalam waktu beberapa minggu setelah benar-benar berhenti merokok, termasuk kembalinya status thrombosis dalam tubuh.

Pada perokok 20 batang/hari diketahui risikonya akan berkurang sebesar 50% setelah 3-5 tahun setelah berhenti merokok. Perokok ringan (<10 batang/hari) akan kembali pada risiko awal sebelum merokok dalam waktu tiga tahun setelah berhenti.

Perokok yang berhenti sebelum usia 35 tahun juga akan menghilangkan risiko penyakit-penyakit terkait rokok yang mungkin akan dialami di kemudian hari, seperti kanker paru dan penyakit paru obstruktif kronis.[5,6]

Bukti Klinis Bahaya Merokok terhadap Peningkatan Risiko Kardiovaskular

Banyak yang beranggapan bahwa jika mengonsumsi rokok dalam jumlah sedikit masih dalam batas aman. Namun, pada kenyataannya merokok dalam jumlah sedikit pun dapat meningkatkan risiko kardiovaskular dibandingkan dengan yang tidak merokok.

Sebuah meta analisis dilakukan oleh Hackshaw, et al. yang terdiri dari 141 studi kohort meneliti hubungan antara konsumsi rokok dengan kejadian kardiovaskular untuk menilai risiko penyakit jantung koroner dan stroke untuk perokok ringan (1-5 batang/hari). Dari hasil meta analisis, didapatkan peningkatan risiko dibandingkan orang yang tidak merokok sebagai berikut:

  • 1 batang/hari: 1.48x
  • 5 batang/ hari: 1.58x
  • 20 batang/hari: 2.04x

Meta analisis ini memiliki jumlah studi yang besar dan menggunakan kohort prospektif sehingga dapat terhindar dari bias terkait desain retrospektif. Namun, pada meta analisis ini kebanyakan studi memiliki keterbatasan tidak spesifiknya jumlah rokok, hanya didapatkan dalam bentuk kategori (1-5 dan 6-10 batang/hari).[2]

Meta analisis lain dilakukan oleh Mons et al. yang terdiri dari lebih dari 500.000 partisipan meneliti dampak merokok dan berhenti merokok terhadap mortalitas kardiovaskular, kejadian penyakit jantung koroner akut, dan stroke pada pasien usia 60 tahun ke atas. Pada hasil meta analisis ini didapatkan bahwa perokok aktif memiliki risiko 2.07 lebih tinggi dan pasien yang sebelumnya memiliki riwayat merokok memiliki risiko 1.37 lebih tinggi mengalami mortalitas kardiovaskular dibandingkan dengan pasien yang tidak pernah merokok. Pasien yang masih merokok <10 batang/hari memiliki risiko sebesar 1.4 lebih tinggi dan pasien yang merokok 20 batang atau lebih/hari memiliki risiko sebesar 2.63 lebih tinggi untuk mengalami gangguan kardiovaskular.[7]

Pasien yang sudah berhenti merokok kurang dari 5 tahun memperlihatkan adanya penurunan risiko mortalitas kardiovaskular. Penurunan ini akan semakin meningkat seiring pertambahan durasi berhenti merokok. Selain itu, terdapat pula penurunan risiko kejadian penyakit jantung koroner dan stroke. Berdasarkan hasil meta analisis ini, disimpulkan bahwa berhenti merokok berdampak pada penurunan risiko kardiovaskular meskipun pada usia tua. Meta analisis ini terdiri dari studi-studi dengan hasil yang konsisten, namun tingkat heterogenitasnya masih cukup tinggi. [7]

Berdasarkan dua meta analisis di atas, merokok dalam jumlah sedikit nyatanya meningkatkan risiko kardiovaskular yang signifikan. Namun, apabila seseorang tersebut segera berhenti merokok secara total, kemungkinan risiko kardiovaskular akan kembali menurun secara bertahap.

Kesimpulan

Merokok merupakan faktor risiko mayor terjadinya penyakit kardiovaskular. Merokok dapat mempercepat pembentukan aterom, mengganggu fungsi endotel pembuluh darah, meningkatkan risiko trombosis, dislipidemia, dan meningkatkan kadar ROS dalam tubuh. Merokok dalam jumlah berapa pun akan meningkatkan risiko kardiovaskular secara signifikan. Dokter perlu menjalankan perannya untuk membantu pasien berhenti merokok secara total. Selain itu, pencegahan merokok dan kesadaran untuk berhenti merokok juga perlu digalakkan kepada pasien guna mencegah risiko kardiovaskular dan penyakit terkait rokok lainnya. Berhenti merokok secara total dapat memulihkan kondisi fisiologis tubuh secara bertahap sehingga dapat menurunkan risiko kardiovaskular secara signifikan.

Referensi