Peran Dokter dalam Membantu Pasien Berhenti Merokok

Oleh :
dr. Tanessa Audrey Wihardji

Berhenti merokok merupakan hal yang penting dilakukan sehingga dokter perlu mengetahui perannya dalam membantu pasien berhenti merokok.

Komponen dasar dari rokok meliputi tembakau, zat kimia aditif, filter dan kertas pembungkus. Sebatang rokok mengandung lebih dari 7.000 zat kimia pada setiap hisapan, banyak di antaranya berbahaya yang menyebabkan kerusakan pada paru-paru dan jantung serta menyebabkan kanker. [1] Pemakaian secara terus-menerus dapat menyebabkan dependensi nikotin dan masalah kesehatan yang serius. Berhenti merokok dapat mengurangi secara signifikan resiko penyakit yang disebabkan oleh rokok, seperti kanker paru-paru, hipertensi, stroke. Dependensi nikotin dapat diatasi dengan terapi berulang yang konsisten dan motivasi yang kuat.

Sumber: satit_srihin, Freedigitalphotos, 2016. Sumber: satit_srihin, Freedigitalphotos, 2016.

Dependensi Nikotin

  • Kebanyakan perokok memiliki adiksi terhadap nikotin, zat natural yang terdapat pada tembakau
  • Penelitian membuktikan bahwa tingkat keadiktifan dari nikotin hampir sama dengan heroin, kokain, atau alkohol.
  • Berhenti merokok merupakan upaya yang sangat sulit dan membutuhkan percobaan berkali-kali. Hal ini disebabkan karena gejala withdrawal, stress, dan kenaikan berat badan.
  • Gejala withdrawal nikotin mencakup:

    • Mudah marah, gelisah, dan sensitif
    • Masalah dalam konsentrasi
    • Keinginan yang sangat besar terhadap produk tembakau
    • Merasa lebih lapar dari biasanya[2]

Berbagai cara untuk berhenti merokok:

1. Terapi Perilaku

Terapi perilaku berhenti merokok dapat diberikan oleh seorang dokter lewat konseling. Salah satu strategi konseling yang dapat digunakan adalah 5A:[3]

  • Ask

    • Menanyakan informasi status riwayat merokok pada pasien, seperti: Sudah berapa lama merokok? Apa yang mendasari waktu merokok pertama kali? Berapa batang rokok dalam sehari? Rokok apa yang digunakan? Apakah ada jenis tobacco lain yang digunakan? Apakah ada kondisi kesehatan tertentu yang diderita? Dengan mengetahui informasi ini akan membantu dokter dalam menentukan saran (advice) yang sesuai untuk pasien.

  • Advice

    • Saran yang diberikan oleh dokter terhadap pasien merokok harus jelas (mengapa pasien ini harus berhenti merokok), alasan yang kuat dan sesuai dengan keadaan masing-masing pasien. Misalnya:
    • Menurut saya berhenti merokok sangat penting untuk Anda karena Anda memiliki asma, kekambuhan asma sangat dipengaruhi oleh kebiasaan merokok Anda.
    • Pada pertemuan selanjutnya saya ingin membahas mengenai hal ini lebih dalam.
    • Saran singkat seperti di atas memiliki pengaruh yang signifikan terhadap keinginan pasien untuk berhenti merokok. (Relative risk=1.66) [4]

  • Assess

    • Menilai motivasi pasien untuk berhenti merokok dan kendala yang dihadapi untuk berhenti serta menilai level depedensi nikotin pasien saat ini. Pertanyaan yang dapat diajukan seperti:

      • Sudah pernahkah mencoba untuk berhenti merokok?
      • Apa motivasi yang melandasinya?
      • Bagaimana metode yang dilakukan untuk berhenti?
      • Apakah Anda mau mencoba untuk berhenti merokok sekarang?
      • Berapa jam setelah bangun tidur biasanya Anda menghisap rokok?
      • Motivasi pasien untuk berhenti merokok harus dinilai setiap pertemuan konseling.

  • Assist

    • Memberikan arahan bagi pasien 3 metode untuk berhenti merokok: berhenti seketika, penundaan, dan pengurangan.
    • Berhenti seketika adalah cara yang paling berhasil.
    • Penundaan adalah menunda saat menghisap rokok, pertama 2 jam setiap hari dari sebelumnya dan kemudian ditingkatkan lamanya.
    • Pengurangan adalah mengurangi jumlah rokok yang dihisap setiap harinya secara bertahap.  [5]

Berikut saran yang dianjurkan oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia untuk berhenti merokok: [5]

  • Publikasikan keputusan anda untuk berhenti merokok
  • Tetapkan target waktu (biasanya 2-3 minggu)
  • Buat jadwal yang tidak terlalu kertat dan tidak terlalu pendek
  • Mulai dengan cara yang mudah: rekamlah dalam kondisi apa anda lebih sering merokok (bosan, cemas, kesepian. Saat menonton, bermain kartu, minum kopi, dll). Beri nilai 0 sampai 5, dengan kriteria 0 adalah seperti kereta api dan 5 hanya jika diperlukan. Cari saat dimana anda merokok seperti kereta api dan buatlah upaya untuk mulai berhenti merokok secar abertahap.
  • Hindari kebiasaan yang membuat merokok misalnya kopi, alcohol, acara malam. Jika tidak bisa melawan godaan, cobalah konsumsi roduk susu, buah-buahan, dan sayuran lebih banyak, survei mengatakan makanan tersebut akan memberikan cita rasa yang kurang enak dalam merokok.

Selain itu juga, tanyakan kegelisahan atau perasaan yang mengganggu pasien seperti ketakutan akan gejala withdrawal, takut tidak bisa mengatasi godaan, atau kenaikan berat badan. Pada pasien yang mengalami gejala withdrawal nikotin dapat diberikan terapi Nicotinic Receptor Agonist yaitu Vareniklin. Perokok yang berhenti merokok juga sangat beresiko menderita episode depresi apalagi jika sebelumnya ada riwayat depresi. Dokter harus memantau perubahan mood yang terjadi. Terapi farmakologik bupropion dapat diberikan pada pasien dengan resiko episode depresi relapse akibat berhenti merokok.

  • Arrange

Rencanakan kontrol selanjutnya untuk membicarakan kemajuan dan masalah yang dihadapi. Dokter sebaiknya memberikan selamat pada setiap pertemuan untuk memotivasi pasien terus abstinens. Dokter juga sebaiknya mencatat nomor pasien agar dapat berkomunikasi untuk memantau gejala/kendala yang dialami pasien.

2. Terapi Farmakologi (Nicotine Replacement Therapy)

Tujuan dari terapi NRT ini adalah untuk mengurangi keinginan nikotin dan gejala withdrawal nikotin.[6] Cochrane review dari 132 trials menyimpulkan bahwa NRT meningkatkan keberhasilan stop merokok hingga 50-70%. [7] Jenis NRT yang terdapat di Indonesia:

  • Vareniklin

    • Dosis: dikonsumsi bersama makanan. Medikasi dimulai 1 minggu sebelum hari konseling target berhenti merokok. 0.5 mg 1 kali sehari selama 3 hari, 0.5 mg 2 kali sehari selama 4 hari, stop merokok di hari konseling. Seterusnya 1 mg 2 kali sehari selama 11 minggu. Medikasi tidak perlu diturunkan dosisnya untuk dihentikan.
    • Efek samping: mual, muntah, gangguan tidur (insomnia, mimpi aneh), konstipasi, flatulens
    • Peringatan: Apabila ada gejala mood depresif, agitasi, keinginan bunuh diri segera minta pasien untuk hubungi dokter

Selain vareniklin, terdapat pula NRT lain yang tidak tersedia di Indonesia seperti:

  • Permen karet Nikotin

    • Dosis: tersedia dalam 2 sediaan, 2 mg (perokok £20 rokok/hari atau rokok pertama >30 menit) dan 4 mg (perokok >20 rokok/hari atau rokok pertama £ 30 menit). Dosis pertama adalah 1-2 permen setiap 1-2 jam, maksimal 10-12 permen/hari, kurangi secara bertahap.
    • Durasi pemakaian: ~12 minggu
    • Cara pemakaian: kunyah secara perlahan sampai terasa pedas/pahit seperti lada kemudian letakkan permen karet di antara pipi dan gusi selama ± 30 menit.
    • Efek samping: nyeri rahang, iritasi gaster

  • Koyo Nikotin:

    • Dosis: Koyo 24 jam (7 mg, 14 mg, 21 mg)

      • > 40 rokok/hari: 42 mg/hari

      • 21-39 rokok per hari: 28-35 mg/hari
      • 10-20 rokok per hari: 14-21 mg/hari
      • < 10 rokok per hari: 14 mg/hari

    • Setelah 4 minggu abstinens, turunkan dosis setiap 2 minggu sebanyak 7-14 mg sesuai toleransi.
    • Durasi: 8-12 minggu
    • Cara pemakaian: koyo digunakan pada bagian punggung atau lengan. Jangan menggunakan koyo ditempat yang sama setiap saat, untuk mengurangi iritasi kulit.
    • Efek samping: Iritasi kulit, alergi, gangguan tidur

  • Bupropion

    • Dosis: mulai terapi bupropion 1 minggu sebelum konseling hari target berhenti merokok. 150 mg 1 kali sehari selama 3 hari; 150 mg 2 kali sehari selama 4 hari; stop merokok saat hari konseling. Dapat dilanjutkan 150 mg 2 kali sehari selama 12 minggu. Medikasi tidak perlu diturunkan dosisnya untuk dihentikan.
    • Efek samping: Insomnia, mulut kering, nyeri kepala, sulit konsentrasi, gelisah
    • Peringatan: Apabila ada gejala mood depresif, agitasi, keinginan bunuh diri segera minta pasien untuk hubungi dokter

3. Terapi akupuntur

Terapi akupuntur sebagai salah satu metode berhenti merokok masih kontroversial. Meskipun sudah banyak studi yang membandingkan kefektifitasan dari akupuntur dibanding metode berhenti merokok yang lain, namun belum ada meta-analisis yang secara tegas menyatakan akupuntur lebih superior dari modalitas terapi berhenti merokok lainnya. Terapi akupuntur dikatakan dapat menurunkan gejala withdrawal nikotin, meredakan kegelisahan, dan membuat rasa rokok menjadi tidak enak. Apabila terapi akupuntur dikombinasikan dengan metode yang lain, didapatkan hasil yang cukup signifikan: keberhasilan terapi akupuntur dengan edukasi dibandingkan terapi akupuntur saja berturut-turut adalah 40% dan 10% [11]. Keberhasilan terapi akupuntur sangat bergantung dari motivasi berhenti merokok dari masing-masing individu.[8-10]

4. Hipnoterapi

Terapi hipnosis pada salah satu metoda berhenti merokok masih tergolong kontroversial. Beberapa studi menyatakan bahwa hipnosis dapat menekan keinginan (craving) untuk merokok dan hipnosis menunjukkan tingkat keberhasilan berhenti yang bermakna pada partisipan dengan gejala depresi sebelumnya. Namun studi lain mengatakan bahwa tidak ada pebedaan signifikan antara metoda hipnosis dibandingkan dengan terapi psikologikal, dan bahkan terapi konseling dikatakan masih lebih efektif daripada terapi hipnosis. Oleh karena perbedaan hasil dari berbagai literatur yang ada, terapi hipnosis masih kontroversial tingkat keberhasilannya. [13,14]

5. Layanan konseling bebas biaya

Sebuah terobosan dilakukan Kementrian Kesehatan dengan memberikan layanan berhenti merokok melalui telepon tidak berbayar. Bagi mereka yang berkeinginan menghentikan kebiasaan merokok namun karena alasan tertentu belum datang ke fasilitas kesehatan dapat mengakses layanan konseling berhenti merokok melalui saluran telepon bebas biaya yang dinamakan layanan Quit Line Berhenti Merokok 0-800-177-6565 pada hari Senin-Sabtu pukul 08.00 sampai dengan 16.00 WIB. Hasil evaluasi dari penelpon, yang berhasil berhenti merokok sekitar 30%, kemudian 68% masih dalam proses berupaya berhenti merokok dan sekitar 2% sudah berhenti tetapi kembali merokok.[15]

Metode-metode berhenti merokok yang dipaparkan di atas hanyalah sebagai jalan atau sarana untuk mencapai goal/tujuan lepas dari rokok atau depedensi nikotin. Namun tingkat keberhasilan setiap metode ini kembali lagi pada masing-masing individu karena fondasi paling utama berhenti merokok adalah motivasi yang kuat dari dalam diri pasien. Dengan motivasi yang kuat dan berasal dari diri pasien sendiri (bukan kemauan orang lain), pasien akan lebih bisa mengendalikan keinginan (craving) akan rokok dan bertahan untuk tidak kembali merokok setelah periode abstinens (relapse).

Referensi