Peran Dokter dalam Membantu Pasien Berhenti Merokok

Oleh :
dr. Reren Ramanda

Peran dokter dalam membantu pasien berhenti merokok merupakan faktor krusial. Hal ini karena merokok merupakan salah satu faktor risiko penting penyebab penyakit maupun meningkatkan risiko komplikasi penyakit.

Di Indonesia, menurut data Litbangkes tahun 2015, ada 230.000 kematian yang berhubungan dengan konsumsi produk tembakau tiap tahun dan diprediksi lebih dari 97 juta penduduk Indonesia terpapar asap rokok berdasarkan data RISKESDAS tahun 2013.[1,2]

shutterstock_1667625784

Sebagai faktor risiko penting terjadinya Penyakit Tidak Menular (PTM), seperti kanker paru, maka akan sangat mudah menemukan pasien perokok dalam praktik dokter sehari-hari. Disinilah dokter memegang peran penting dalam usaha membantu pasien untuk berhenti merokok. Upaya menurunkan jumlah perokok dengan sendirinya dapat menurunkan angka paparan asap rokok di lingkungan sekitar, sehingga terjadi peningkatan kesehatan komunitas secara general di lingkungan pasien berada.[3]

Kebanyakan perokok (tobacco use disorder) akan memilih berhenti merokok dengan sendirinya, baik karena penyakit yang dideritanya atau bukan dalam masa hidup mereka. Namun, penelitian-penelitian yang ada menunjukkan hasil bahwa edukasi dan dukungan dari seorang dokter, walaupun dengan durasi singkat, memiliki peran dalam mempercepat seorang perokok untuk berhenti merokok.[3,4]

Peran Dokter dan Komponen Penunjangnya

Peran seorang dokter selain mengobati pasien, juga memberikan nasehat yang bermanfaat bagi kesehatan pasien. Peran sebagai penasehat Kesehatan bagi pasien ini dapat diterapkan dengan memberikan nasehat dan motivasi berhenti merokok pada pasien.[5,6]

Studi menunjukkan bahwa dokter berperan penting dalam proses pasien berhenti merokok. Sebuah studi meta-analisis terhadap 34 studi yang melibatkan lebih dari 27.000 perokok, memberikan kesimpulan bahwa motivasi dan dukungan dari seorang dokter dapat meningkatkan kemungkinan untuk berhasilnya seseorang berhenti merokok dalam 12 bulan kedepan.[3,4]

Dukungan Dokter dan Perilaku Positif

Nasehat dan dukungan dari dokter dinilai lebih dapat diterima dan memberi pengaruh positif bagi pasien untuk membuat keputusan berhenti merokok serta menjalani proses berhenti merokok, dengan probabilitas hingga 66% lebih tinggi dari pasien yang tidak menerima motivasi dari dokter mereka. [3,7,8]

Peran dokter dalam membantu seseorang berhenti merokok, selain memberikan nasehat, juga memberikan solusi permasalahan terutama pada pasien yang telah mencoba sendiri untuk berhenti merokok namun gagal, atau pasien yang mencoba berhenti merokok namun tidak mampu menghadapi nicotine withdrawal symptoms dan memerlukan bantuan dokter untuk mengurangi keluhan yang dirasakan.[3,7,8]

Hal-hal dapat diupayakan dokter untuk melakukan perubahan dan membudayakan kebiasaan bebas tembakau dan asap rokok, dengan cara:

  • Membudayakan kebiasaan bebas tembakau dan asap rokok dalam praktik sehari-hari. Peran ini dapat diterapkan secara sederhana dalam setting praktik dokter di klinik, Puskesmas atau Rumah sakit tempat dokter bekerja[8]
  • Tidak menyediakan majalah atau surat kabar yang berisi iklan rokok di ruang tunggu pasien[8]
  • Menjalankan peraturan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di klinik dan tempat praktik sehari-hari, memasang poster edukasi bahaya rokok serta memberikan pelatihan mengenai bantuan berhenti merokok untuk para staf kerja di lingkungan praktik dokter[8]
  • Menjadi role model bebas rokok di lingkungan praktik, selain mengurangi kemungkinan perokok pasif di tempat praktik, kebudayaan bebas rokok ini juga dapat diadopsi pasien dan keluarga untuk diterapkan dalam lingkup rumah tangga, lingkungan sekitar dan tempat kerja yang bebas asap rokok[2]

Komponen Pendukung Selain Dokter

Selain peran dokter, dukungan pasangan dan keluarga dekat juga terbukti memiliki peran yang penting dalam upaya pasien berhenti merokok serta mempertahankan kondisi bebas rokok pada pasien yang telah berhasil berhenti merokok.[7,9]

Sehingga hal ini menekankan pada dokter bahwa selain kepada pasien, dokter juga perlu memberikan nasehat kepada pasangan atau keluarga terdekat mengenai pentingnya dukungan mereka bagi suksesnya proses berhenti merokok pasien. Dukungan moral dan  motivasi dari keluarga amat dibutuhkan oleh pasien. [7,9]

Panduan Praktis untuk Identifikasi Pasien Merokok

Panduan praktik klinik yang dikeluarkan oleh The U.S. Public Health Service (USPHS) merekomendasikan praktik klinik yang ada dapat melakukan identifikasi dan konseling bagi pasien perokok agar dapat berhenti merokok. Paradigma yang ditekankan adalah identifikasi serta nasihat bagi para pasien untuk berhenti merokok.[8]

Panduan identifikasi pasien perokok yang dianjurkan adalah dengan metode ‘five A’ dan ‘five R’ Metode ini terdiri dari :

  • Ask: Setiap pasien yang datang berkunjung pada dokter harus ditanyakan statusnya apakah perokok, bekas perokok atau bukan perokok.

  • Advice: Bila ditemukan pasien perokok, dokter memberikan nasihat dan dukungan berhenti merokok pada pasien.

  • Assess: Dilakukan penggalian lebih dalam tentang status pasien, bila pasien ingin berhenti merokok, apa saja kendala yang dihadapi dan bila pasien merupakan bekas perokok, apa saja kesulitan yang dihadapi untuk tetap bebas rokok

  • Assist: Dokter menawarkan bantuan kepada pasien mengenai masalah yang dihadapinya.

  • Arrange: Dokter melakukan perencanaan kontrol ulang bagi pasien.[2,8]

Bila ditemukan pasien yang belum siap untuk menghentikan kebiasaan merokok mereka saat ini, dapat dilakukan Tindakan pendekatan dengan metode ‘five R’, yaitu :

  • Relevance: Dokter dapat memberikan informasi kepada pasien mengenai relevansi berhenti merokok terhadap kondisi pasien

  • Risks: Dokter menekankan pada risiko yang dapat dialami pasien mengenai bahaya rokok

  • Rewards: Dokter memberikan gambaran informasi yang relevan mengenai manfaat yang dapat diperoleh pasien dengan berhenti merokok

  • Roadblocks: Dokter meminta pasien untuk mengidentifikasi kesulitan yang dihadapi dalam berhenti merokok, kemudian dokter memberikan solusi untuk mengatasi kesulitan tersebut

  • Repetition: Dokter selalu melakukan pemeriksaan kesiapan pasien untuk berhenti merokok, bila pasien belum siap, selalu menganjurkan dan memotivasi pasien untuk berhenti merokok pada pertemuan berikutnya[2]

Namun, berdasarkan studi meta-analisis yang dilakukan oleh Bartsch et al metode five A belum diterapkan secara optimal dalam praktik kedokteran primer. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Ask hanya diterapkan oleh 65% dokter, Advice 63%, Assess 36%, Assist 44% dan hanya 22% dokter menerapkan Arrange.[10]

Guna membantu proses berhenti merokok, dokter juga dapat menyarankan terapi medikamentosa dan terapi perilaku (cognitive behavioral therapy) untuk meningkatkan kemungkinan berhasilnya pasien berhenti merokok. Pesan teks dengan unsur terapi perilaku pun dapat membantu pasien untuk berhenti merokok. Selain pesan teks, aplikasi berhenti merokok juga dapat dijadikan salah satu modalitas untuk membantu pasien berhenti merokok.

Relaps adalah kondisi yang wajar, pasien harus mendapat penekanan bahwa berhenti merokok adalah suatu proses, dan terjadinya relaps bukan berarti pasien tersebut telah gagal dalam usahanya untuk berhenti merokok.[8,11]

Metode Alat Bantu Berhenti Merokok

American Academy of Family Physicians (AAFP) telah mengeluarkan alat bantu/toolkit bagi pasien untuk memudahkan pasien berhenti merokok.Yaitu Tobacco and Nicotine Cessation Toolkit. Toolkit ini membagi proses berhenti merokok menjadi langkah-langkah yang mudah untuk diterapkan serta mencakup peningkatan motivasi pasien secara pribadi.[7]

Toolkit ini juga memberikan informasi mengenai apa saja yang dibutuhkan serta masalah yang mungkin akan pasien hadapi dalam proses berhenti merokok. Seluruh hal ini dijelaskan dalam lima Langkah sederhana pada toolkit tersebut.[7]

Metode lainnya yang telah dilakukan untuk membantu pasien berhenti merokok adalah metode insentif. Hasil studi yang dilakukan oleh Fanshawe et al. menunjukkan bahwa bukti keberhasilan metode ini dinilai sangat rendah, namun belum dapat ditarik kesimpulan mengenai efektif atau tidaknya metode ini karena penelitian metode komparatif yang baik mengenai metode ini masih sangat sedikit.[12,13]

Persentase berhasilnya pasien berhenti merokok secara umum bervariasi, bila tanpa intervensi persentase keberhasilan adalah 5% hingga 11%; bila pasien diberikan terapi perilaku, persentase keberhasilan meningkat hingga 19% sampai 21%. Bila terapi yang diberikan adalah kombinasi farmakoterapi dan terapi perilaku, persentase keberhasilan menjadi 21 hingga 27%.[11]

Peran Negara Indonesia dalam Menurunkan Angka Ketergantungan Nikotin

Negara Indonesia sebagai Pemerintahan yang sah dan berperan dalam pembuatan kebijakan, telah mengeluarkan Undang-undang untuk menekan angka ketergantungan nikotin dan perokok pasif akibat paparan asap rokok di Indonesia. Contohnya adalah peraturan tentang kawasan tanpa rokok (KTR), yang tertuang dalam pasal 115 Undang-undang Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan.[14]

Tempat yang diatur dalam pasal ini termasuk dalam KTR antara lain

  • Fasilitas pelayanan kesehatan;
  • Tempat proses belajar mengajar;
  • Tempat anak bermain;
  • Tempat ibadah;
  • Angkutan umum;
  • Tempat kerja; dan
  • Tempat umum dan tempat lain yang ditetapkan[14]

Yang selanjutnya penetapannya untuk setiap daerah dilakukan oleh masing-masing Kepala daerah melalui Peraturan Daerah.[14]

Lebih jauh lagi, peran Pemerintah dalam menurunkan konsumsi tembakau dijabarkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan Yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan. Peraturan ini mengatur segala sesuatu tentang aturan dan pengawasan peredaran produk tembakau di Indonesia.[15]

Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan juga menyediakan layanan berhenti merokok dan konsultasi dokter melalui Quit-Line 0-800-177-6565 bagi pasien yang membutuhkan layanan konsultasi dokter untuk berhenti merokok. [16]

Kesimpulan

Merokok merupakan faktor risiko penyakit yang bisa diubah. Dokter berperan dalam mengidentifikasi perokok diantara pasien yang berobat dalam praktik sehari-hari.

Nasehat yang diberikan oleh dokter, walaupun amat singkat, berdasarkan penelitian sangat berpengaruh dalam mempercepat proses pasien berhenti merokok.Peran dokter juga dapat dilakukan setiap pasien melakukan konsultasi secara tatap muka walaupun secara online.

Faktor dukungan dan nasehat dokter ditambah dukungan dari keluarga dekat serta pasangan akan mempercepat keberhasilan pasien berhenti merokok. Pemerintah telah menetapkan Undang-undang dan Peraturan pemerintah untuk menekan angka konsumsi tembakau di Indonesia. Beberapa upaya telah dilakukan dengan membentuk konsultasi dokter melalui Quit-line.

 

Penulis pertama: dr. Tanessa Audrey Wihardji

Referensi