Menghadapi Kekerasan di Tempat Kerja

Oleh dr. Hunied Kautsar

Profesi dokter menuntut interaksi dengan orang dari beragam kalangan termasuk pasien agresif, keluarga pasien yang kecewa bahkan polisi yang dapat berujung dengan tindak kekerasan di lingkungan kerja. Seorang dokter harus membekali diri dengan pengetahuan dan keahlian yang cukup dalam menghadapi tindak kekerasan. Agresi yang dilakukan oleh beragam kalangan tidak selalu berujung pada tindakan kekerasan fisik, namun dapat juga berupa kata-kata kasar, intimidasi dan ancaman.

Depositphotos_128687300_m-2015_compressed

Penyebab Agresi dan Tindak Kekerasan di Lingkungan Kerja

Penyebab agresi dan tindak kekerasan dari pasien secara garis besar terdiri atas:

  1. Gangguan jiwa

    • Episode manik yang akut dari pasien yang menderita bipolar.
    • Pasien dengan diagnosis skizofrenia yang mengalami halusinasi seperti halusinasi auditorik yang menyuruh pasien tersebut menyakiti orang di sekitarnya. [1]

  2. Sindrom otak organik

    • Pasien menjadi agresif karena fungsi otak yang terganggu akibat adanya penyakit, trauma di kepala atau gangguan metabolisme. Gejala yang ditunjukkan biasanya berupa disorientasi, tingkat kesadaran yang fluktuatif dan tanda vital yang abnormal. Biasanya lebih banyak terjadi di pasien geriatri.
    • Gangguan yang terjadi di otak contohnya demensia.
    • Gangguan metabolisme yang dapat menimbulkan agresi contohnya diabetes melitus, dehidrasi, gangguan pada hati atau ginjal, dan elektrolit yang tidak seimbang. [1]

  3. Penyalahgunaan obat-obatan dan alkohol

    • Pasien dengan intoksikasi alkohol.
    • Pasien dengan alcohol withdrawal syndrome.
    • Pasien yang mengkonsumsi kokain, ganja, atau penyalahgunaan obat-obatan sedatif.
    • Pasien dengan polifarmasi atau overdosis (umumnya ditemukan pada pasien geriatri).

  4. Gangguan kepribadian

    • Pasien dengan tipe kepribadian narsisistik atau antisosial
    • Pasien remaja yang histeris
    • Pasien paranoid yang merasa terancam
    • Pasien depresi

Memahami Pemicu dari Munculnya Agresi atau Tindak Kekerasan Dari Pasien atau Keluarga Pasien

  • Di balik kemarahan pasien atau keluarga pasien sesungguhnya mereka merasa tersakiti (behind all anger is hurt). [2] Oleh karena itu dalam menangani pasien atau keluarga pasien yang sedang marah atau bertindak agresif sebaiknya dokter tetap tenang dan tidak merespon kemarahan pasien atau keluarga pasien dan menanyakan apa yang membuat pasien atau keluarga pasien tersebut marah. Tunjukkan bahwa dokter peduli dan mau membantu.
  • Pasien menjadi agresif dapat dipicu oleh permintaan pasien yang tidak terpenuhi. Contohnya pasien yang sedang mengalami withdrawal akibat penyalahgunaan obat-obatan datang ke klinik atau UGD meminta obat-obatan tersebut dan permintaannya tidak dipenuhi oleh dokter di klinik atau UGD. [3]
  • Antrian yang panjang, waktu tunggu yang lama dan suasana rumah sakit yang ramai dapat juga memicu agresi dari pasien atau keluarga pasien.
  • Pasien meninggal juga dapat menjadi pemicu agresi dari keluarga pasien. Keluarga pasien yang masih dalam keadaan shock terkadang tidak dapat mengontrol emosi dan menyalurkan rasa sedih dalam bentuk agresi terhadap dokter atau tenaga medis lainnya.
  • Keluarga pasien yang belum dapat menerima bahwa anggota keluarganya meninggal terkadang menyalurkan emosi dengan menyalahkan pihak rumah sakit dan merasa bahwa pihak rumah sakit tidak memberikan penanganan yang maksimal bagi anggota keluarganya.

Strategi Dalam Menangani Pasien atau Keluarga Pasien yang Agresif

Pencegahan

  • Berikan tanda pada status pasien jika pasien sudah menunjukkan agresi ketika memasuki klinik atau ketika berbicara dengan resepsionis. Beritahu rekan sejawat atau tenaga medis lainnya mengenai pasien tersebut .
  • Mengatur jadwal pasien yang sudah memiliki riwayat bersifat agresif atau melakukan tindak kekerasan untuk dilayani di akhir jam operasional agar tidak membahayakan pasien lain.
  • Tidak menaruh benda tajam seperti gunting di meja dokter, semua alat dan botol kaca disimpan di dalam lemari yang terkunci, dan tidak menyimpan benda-benda di dalam kantong sneli yang dapat dijadikan senjata oleh pasien untuk menyakiti dokter atau dirinya sendiri seperti dasi atau stetoskop (dapat digunakan untuk mencekik leher). [4]
  • Dalam menghadapi pasien agresif, jaga jarak aman minimal 2 kali panjang tangan dan tidak melayani pasien sendirian di ruangan tertutup.
  • Tidak bekerja sendirian terutama jika mendapat giliran jaga di klinik 24 jam.
  • Menempatkan petugas keamanan di pintu klinik atau rumah sakit dan memiliki alur kerja sama yang jelas ketika pasien atau keluarga pasien menjadi agresif atau melakukan tindak kekerasan.

Pendekatan Verbal

  • Dokter atau tenaga medis lain yang berhadapan dengan pasien atau keluarga pasien yang agresif harus tetap tenang dan tidak menunjukkan bahwa dokter merasa terintimidasi.
  • Lakukan pendekatan verbal dengan metode de-escalating. Penjelasan lebih lanjut mengenai metode de-escalating dapat dibaca dalam artikel "Tips Untuk Menenangkan Pasien Gelisah".
  • Jangan pernah lari atau melawan pasien atau keluarga pasien yang melakukan tindak kekerasan fisik jika tidak yakin akan berhasil. [4]

Menawarkan Obat Penenang

  • Bagi pasien yang mengalami gangguan jiwa dan memiliki riwayat bersifat agresif dapat ditawarkan untuk mengkonsumsi obat penenang seperti benzodiazepin, terutama bagi pasien psikosis, mania atau delirium. [4]
  • Benzodiazepin juga dapat digunakan bagi pasien agresif yang disebabkan oleh alcohol withdrawal. [4]

Penggunaan Restraint

  • Jika metode de-escalating tidak berhasil dan pasien tidak dapat dipersuasi untuk mengkonsumsi obat penenang maka terdapat resiko berlanjut ke tindak kekerasan fisik.
  • Jika ada yang mencekik anda rapatkan dagu ke arah dada untuk melindungi karotid anda. [5]
  • Jika ada yang menggigit tangan anda, jangan menarik tangan anda karena akan menyebabkan luka robek. Dorong badan anda ke arah pelaku kemudian pencet hidung pelaku, pada akhirnya pelaku akan terpaksa membuka mulutnya dan melepaskan gigitannya.
  • Jika ada yang menodongkan senjata maka usahakan untuk tidak menunjukkan rasa takut dan turuti permintaan pelaku.
  • Penggunaan restraint harus dilakukan oleh 5 orang, satu orang per ekstremitas dan satu orang untuk menahan kepala.
  • Jika pasien seorang wanita maka salah satu tenaga medis yang melakukan pemasangan restraint harus wanita. [5]
  • Pemasangan restraint dalam posisi pasien telentang atau menghadap samping untuk mencegah aspirasi.
  • Jika dibutuhkan strap tambahan maka dipasang di bagian pelvis atau lutut, tidak boleh dipasang di bagian dada karena dapat mengganggu pernafasan. [5]

Injeksi Obat Penenang dan Pemantauan Tanda Vital

  • Setelah restraint terpasang dengan aman, pasien dapat diberikan injeksi obat penenang. Daftar obat dapat dilihat pada tabel 1.

Tabel 1. Injeksi obat penenang dengan jeda 20-30 menit antar injeksi hingga tercapai efek yang diinginkan atau sampai dosis maksimum [4]

Kelompok Pasien Injeksi Pertama Injeksi Kedua Dosis Maksimum Dalam 24 Jam
Pasien dewasa dengan fisik yang sehat termasuk pasien yang sudah mengkonsumsi obat-obatan antipsikotik Lorazepam 2 mg diulang, kemudian coba diganti dengan haloperidol 5 mg* Lorazepam 4 mgHaloperidol 12 mg**
Alcohol withdrawal Lorazepam 2 mg diulang Lorazepam 8 mg
Pasien geriatri atau pasien dengan penyakit pernafasan Haloperidol 2,5 mg Lorazepam 0,5 - 1 mg Haloperidol 10 mgLorazepam 4 mg
Pasien dengan Demensia Lewy body, Pasien dengan Parkinson Lorazepam 0,5-1 mg diulang Lorazepam 4 mg
Pasien dengan delirium Haloperidol 2,5 mg diulang Haloperidol 12 mg**

* Panduan NICE merekomendasikan haloperidol yang dicampur dengan promethazine intramuskular 25-50 mg, dosis maksimal 100 mg dalam 24, namun bukti pendukung dari rekomendasi ini cukup lemah dan injeksinya menyakitkan.

** The Summary of Product Characteristic merekomendasikan dosis maksimum haloperidol 18 mg/hari sedangkan The British National Formulary merekomendasikan 12 mg/hari. [4]

 

  • Pemantauan tanda vital pada pasien perlu dilakukan secara berkala. Siapkan flumazenil jika terjadi depresi pernafasan akibat injeksi benzodiazepin dan procyclidine (di Indonesia lebih umum digunakan trihexyphenidyl) untuk mengatasi distonia akut akibat injeksi haloperidol. [4]
  • Jika pasien atau keluarga pasien melakukan tindak kekerasan terhadap dokter atau tenaga medis lain, sebelum melaporkan kepada pihak yang berwajib (polisi), dokter memiliki kewajiban untuk mencari tahu dan mengobati penyebab dari tindak kekerasan yang dilakukan oleh pasien atau keluarga pasien. Pasien atau keluarga pasien sudah harus dalam keadaan stabil sebelum menjalani proses hukum.

Strategi dalam Menangani Intimidasi dari Pihak Berwajib

  • Ada kalanya pasien yang datang ke klinik atau UGD adalah tersangka tindak kriminal sehingga penanganannya melibatkan pihak berwajib (polisi).
  • Terkadang polisi memaksa pihak rumah sakit untuk membuka data rekam medis dari pasien atau meminta dilakukan pemeriksaan darah pasien jika pasien diduga melakukan penyalahgunaan alkohol atau obat-obatan.
  • Dokter sebaiknya tetap bersikap tenang, tidak menunjukkan bahwa dokter merasa terintimidasi dan dengan tegas menjelaskan kepada polisi prosedur yang berlaku dan Kode Etik Kedokteran yang harus ditaati.
  • Berdasarkan Kode Etik Kedokteran Indonesia dan Permenkes 269/2008, seorang dokter wajib menjaga kerahasiaan rekam medis pasien. [6,7]
  • Informasi tentang identitas, diagnosis, riwayat penyakit, riwayat pemeriksaan dan riwayat pengobatan pasien hanya dapat dibuka dalam hal memenuhi permintaan aparatur penegak hukum dalam rangka penegakkan hukum atas perintah pengadilan (sesuai dengan Pasal 10 ayat (2) Permenkes 269/2008). [7]
  • Pihak yang berwajib harus dapat menunjukkan surat perintah dari pengadilan sebelum dokter dapat secara legal memperlihatkan data rekam medis pasien

Referensi