Menyampaikan Kabar Buruk Kepada Keluarga Pasien

Oleh dr. Hunied Kautsar

Menyampaikan kabar buruk kepada keluarga pasien adalah salah satu tugas dokter yang sangat penting namun dirasa cukup membebani. Dibutuhkan keahlian khusus untuk menyampaikan berita buruk kepada keluarga pasien. Berdasarkan riset yang diadakan oleh Barnett (2002) tentang persepsi pasien terhadap dokter dalam penyampaian berita buruk, dokter bedah mendapat predikat kurang membantu (less helpful) jika dibandingkan dengan dokter umum yang mendapat predikat paling membantu (most helpful). Kebanyakan dokter mengandalkan pengalaman pribadi mereka dalam menyampaikan berita buruk karena kurangnya pelatihan selama masa perkuliahan mengenai hal ini. [1]

Secara umum, kematian seorang pasien dapat dikategorikan menjadi dua, yakni kematian yang sudah diduga dan kematian yang tidak terduga. Pada kasus yang pertama, keluarga pasien sudah mengetahui riwayat penyakit pasien dan kematian merupakan suatu hal yang sudah dapat diperkirakan sehingga keluarga pasien biasanya lebih bisa menerima. Namun pada kasus kematian yang tidak terduga, keluarga pasien cenderung akan memberikan reaksi yang lebih emosional. [2]

Sumber: Openi, 2009 Sumber: Openi, 2009

 

Di bawah ini adalah tahapan yang dapat dijadikan panduan untuk menyampaikan kabar buruk kepada keluarga pasien berdasarkan literatur [3]

Kontak Pertama Dengan Keluarga

  • Kontak pertama dengan keluarga sebaiknya dilakukan secara langsung, namun jika anggota keluarga tidak berada di rumah sakit, kontak dapat dilakukan melalui telepon dengan meminta keluarga datang ke rumah sakit segera.
  • Jika pasien sudah meninggal, hindari menyampaikan kabar tersebut melalui telepon kecuali keluarga pasien tinggal di tempat yang sangat jauh.
  • Jika harus melalui telepon, pastikan ada yang mendampingi penerima kabar ketika kabar buruk disampaikan.

Menerima Keluarga di ICU

  • Dokter yang menangani pasien dapat didampingi oleh seorang perawat untuk menerima keluarga di ICU.
  • Perkenalkan diri dan kenali keluarga pasien
  • Ajak keluarga pasien ke ruangan yang lebih tenang, hindari menyampaikan kabar buruk di koridor rumah sakit
  • Kabar buruk lebih baik disampaikan kepada anggota keluarga pasien yang sudah mengetahui riwayat penyakit pasien (jika memungkinkan)

Penyampaian kabar buruk dapat dibedakan sesuai dengan keadaan pasien saat itu,baik dalam kondisi sudah meninggal atau masih hidup dan dalam tahap resusitasi.

Pasien Masih Hidup dan Dalam Tahap Resusitasi

  • Tujuan dari tahap ini adalah mempersiapkan keluarga pasien untuk menghadapi kemungkinan terburuk yakni kematian
  • Ketahui keadaan pasien sebelumnya dan jelaskan kemungkinan yang menyebabkan penurunan keadaan pasien
  • Bangun rapport yang baik dengan keluarga pasien dengan memberikan kesempatan bertanya dan memberikan jawaban yang lengkap
  • Salah satu anggota keluarga yang sudah mengetahui riwayat penyakit pasien dapat diajak untuk melihat tindakan resusitasi. Berikan penjelasan mengenai tindakan resusitasi dan tanda-tanda kehidupan seperti nafas spontan, detak jantung yang terlihat pada monitor, atau pergerakan anggota tubuh. Anggota keluarga yang melihat langsung tindakan resusitasi dapat meyakinkan keluarganya bahwa segala tindakan sudah diupayakan. [4]

  • Setelah itu anggota keluarga tersebut diajak kembali ke ruang diskusi untuk dijelaskan mengenai prognosis dari pasien dan kemungkinan untuk bertahan hidup
  • Kesempatan diberikan kepada pembimbing spiritual dari pasien untuk menyampaikan doa terakhir jika diminta oleh keluarga pasien.
  • Perkembangan dari tindakan resusitasi diberikan secara berkala kepada keluarga pasien.

Menginformasikan Kematian Kepada Keluarga Pasien

  • Jika tindakan resusitasi tidak berhasil maka sampaikan berita kematian kepada anggota keluarga yang sudah mengetahui riwayat penyakit pasien.
  • Berita kematian disampaikan dengan menyebutkan nama pasien dan menggunakan kata-kata yang sederhana dan jelas yakni meninggal, hindari penggunaan kata seperti "tidak bersama kita lagi, pergi"
  • Untuk membantu keluarga pasien memahami berita kematian, dapat dikaitkan dengan keadaan pasien sebelum masuk ICU seperti "Aldo mengalami kecelakaan, terluka parah dan tidak sadarkan diri ketika ditemukan di tempat kejadian, terlepas dari usaha yang dilakukan oleh tim dokter, Aldo meninggal dunia"

Memberikan Kesempatan Kepada Keluarga Pasien Untuk Berduka

  • Memberikan kesempatan kepada keluarga pasien untuk menyalurkan reaksi terhadap berita kematian
  • Jika keluarga pasien terbuka untuk berbicara tentang penyakit pasien, jelaskan usaha yang sudah dilakukan untuk menyelamatkan pasien
  • Berdiam sejenak bersama keluarga pasien dan melakukan gestur yang menunjukkan empati
  • Memberikan apresiasi terhadap usaha keluarga pasien dalam mencari pengobatan dapat meringankan keluarga pasien yang mungkin merasa bersalah
  • Dalam kasus pasien yang meninggal setelah mengalami koma, dapat dijelaskan bahwa pasien meninggal dalam keadaan damai dan tidak merasakan sakit
  • Jika keluarga pasien adalah keluarga yang religius maka dapat disampaikan bahwa seluruh tim dokter telah berusaha maksimal namun Tuhan yang menentukan
  • Jika keluarga pasien belum bisa menerima dan menyalahkan pihak rumah sakit, tetap tenang dan tidak langsung merespon karena pada umumnya keluarga pasien akan meminta maaf ketika mereka sudah bisa mengendalikan emosi

Mempersiapkan Pihak Keluarga untuk Melihat Tubuh Pasien yang Sudah Meninggal

  • Sebelum pihak keluarga melihat tubuh pasien yang sudah meninggal, pastikan pasien terlihat rapi
  • Bersihkan wajah dan tubuh pasien dari darah atau cairan tubuh lainnya
  • Lepaskan alat bantu kehidupan seperti endotracheal tube, ventilator, cardiac monitor.

  • Sebaiknya keluarga pasien yang masih sangat emosional tidak diperkenankan melihat tubuh pasien langsung di ICU karena resiko keluarga pasien akan pingsan di ICU atau mengganggu ketenangan pasien lainnya.

Pasien Sudah Meninggal sebelum Pihak Keluarga Tiba di ICU

  • Dokter yang menangani pasien dapat didampingi oleh seorang perawat untuk menerima keluarga di ICU.
  • Perkenalkan diri dan kenali keluarga pasien
  • Ajak keluarga pasien ke ruangan yang lebih tenang, hindari menyampaikan kabar kematian di koridor rumah sakit
  • Kabar kematian lebih baik disampaikan kepada anggota keluarga pasien yang sudah mengetahui riwayat penyakit pasien (jika memungkinkan)
  • Kabar kematian disampaikan dengan menyebutkan nama pasien dan menggunakan kata-kata yang sederhana dan jelas yakni meninggal, hindari penggunaan kata seperti "tidak bersama kita lagi, pergi"
  • Memberikan kesempatan kepada pihak keluarga untuk menyalurkan reaksi terhadap berita kematian seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya
  • Mempersiapkan dan memberikan kesempatan kepada pihak keluarga untuk melihat tubuh pasien yang sudah meninggal

Membantu Pihak Keluarga untuk Mengurus Prosedur Formal

  • Staff dari rumah sakit dapat membantu pihak keluarga mengurus prosedur untuk mendapatkan sertifikat kematian
  • Jika harus dilakukan autopsi, dokter bertanggung jawab untuk menjelaskan prosedur kepada pihak keluarga
  • Memastikan prosedur yang tanpa hambatan ketika menyerahkan tubuh pasien yang sudah meninggal dan barang pribadi pasien kepada pihak keluarga

Kesimpulan

Menyampaikan kabar buruk kepada keluarga pasien harus dilakukan secara lugas namun disertai dengan empati. Menunjukkan empati kepada keluarga pasien di saat mereka membutuhkan dapat mempererat hubungan dokter-pasien dan juga melindungi pihak dokter dan rumah sakit dari konflik yang mungkin tercipta karena kematian pasien tersebut.

Terkadang dokter merasa terbeban untuk menyampaikan kabar buruk kepada keluarga pasien namun dokter bukanlah penyebab duka yang dialami keluarga pasien. Sebaliknya, dokter berperan besar untuk membuat kondisi duka tersebut menjadi sedikit lebih baik melalui empati dan cara penyampaian kabar buruk yang baik. Ingatlah kutipan bijak dari Hippocrates tentang peran dokter, “to cure sometimes, to relieve often, to comfort always”.

Referensi