Droperidol Sebagai Penanganan Agitasi atau Agresi pada Psikosis

Oleh :
dr. Irwan Supriyanto PhD SpKJ

Potensi droperidol sebagai penanganan agitasi sudah pernah dilakukan sebelumnya. Namun, karena adanya laporan komplikasi kardiovaskular, penggunaannya ditinggalkan. Namun, penelitian terkini melihat kembali potensi droperidol sebagai sedasi.

Agitasi atau agresi sering terjadi pasien dengan psikosis dan seringkali membahayakan bagi orang lain. Sebagian besar pasien bisa diatasi dengan de-eskalasi verbal atau obat oral. Pasien-pasien yang gagal ditangani dengan de-eskalasi verbal atau obat oral, seringkali membutuhkan restrain fisik atau obat secara parenteral. Modalitas farmakoterapi yang digunakan untuk penanganan agitasi atau agresi pada pasien dengan psikosis adalah dengan injeksi antipsikotik atau benzodiazepine sebagai metode rapid tranquilization.[1,2]

shutterstock_1404732635-min

Droperidol adalah antipsikotik tipikal golongan butyrophenon. Droperidol diindikasikan untuk sedasi pada pasien psikosis yang mengalami agitasi atau agresi. Droperidol dilaporkan bekerja dengan onset cepat, durasi cukup lama, dan efek samping yang lebih sedikit. Namun obat ini mendapatkan black box warning  dari FDA karena diperkirakan mempunyai efek samping torsades de pointes akibat pemanjangan QT interval, dan berbagai efek samping kardiovaskular [3,4]

Akan tetapi karena efektivitasnya, obat ini banyak direkomendasikan untuk menangani agitasi atau agresi pada pasien dengan psikosis.[2] Droperidol masih belum tersedia di Indonesia.

Penggunaan Droperidol Dalam Mengatasi Agitasi atau Agresi

Droperidol merupakan obat yang efektif digunakan dalam menangani agitasi atau agresi pada pasien dengan psikosis. Penelitian menunjukkan bahwa droperidol mampu meredakan agitasi atau agresi dalam 30 menit dan penggunaan droperidol menurunkan kebutuhan untuk menggunakan obat tambahan lainnya.[1]

Pada berbagai rentang dosis, droperidol mempunyai efek yang berbeda:

  • 0,25 - 1,5 mg (dosis rendah): efek antiemetic
  • 5 – 20 mg: Efek sedasi
  • 10 – 200 mg/jam: efek anestesi[5]

Droperidol dengan cepat diabsorbsi setelah pemberian intramuskular dengan dosis 5-10 mg. Onset efek droperidol muncul dalam 3-10 menit setelah injeksi, meskipun puncak aksinya baru muncul setelah 30 menit. Durasi sedasi dan penenang mencapai 2-4 jam. Foo et al. bahkan melaporkan bahwa durasi sedasi droperidol mencapai 6 jam. Meskipun gangguan kewaspadaan yang timbul bisa bertahan sampai 12 jam.[1,5]

Efek Samping Droperidol Sebagai Terapi pada Psikosis

Dalam mengatasi agitasi atau agresi pada psikosis, droperidol dapat  digunakan secara monoterapi maupun kombinasi dengan golongan benzodiazepine seperti midazolam atau lorazepam. Namun, penggunaan kombinasi dengan benzodiazepine dapat meningkatkan risiko depresi nafas.[6]

Metode penggunaan yang direkomendasikan saat ini adalah dengan injeksi intramuskular. Penggunaan dengan injeksi intravena meningkatkan risiko efek samping pemanjangan interval QT, sindrom ekstrapiramidal, dan hipotensi.[6]

Efek samping droperidol yang sering dilaporkan adalah hipotensi, takikardia, gelisah, hiperaktivitas, disforia, dan sindrom ekstrapiramidal. Penggunaan droperidol sangat jarang menimbulkan efek samping serius seperti sindrom neuroleptik maligna. Efek samping kardiovaskular yang sering timbul akibat pemberian droperidol adalah hipotensi, sehingga disarankan dilakukan monitoring tekanan darah selama pemberian droperidol.[1,2]

Salah satu efek samping yang dikhawatirkan akibat penggunaan droperidol adalah timbulnya aritmia. Namun, sebuah review oleh Khokhar dan Rathbone melaporkan tidak ada bukti yang kuat untuk membuktikan bahwa droperidol menimbulkan aritmia dan penekanan jalan nafas yang lebih besar dibandingkan plasebo.[1]

Perbandingan Droperidol dengan Obat Lainnya

Penelitian menunjukkan bahwa droperidol lebih baik bila dibandingkan dengan haloperidol dalam menimbulkan efek penenang dalam 30 menit dan kebutuhan obat tambahan dalam 60 menit lebih sedikit dibandingkan haloperidol. Namun tidak ada perbedaan efikasi di antara droperidol dan haloperidol. Efektivitas droperidol dan haloperidol setara dalam mengendalikan agitasi atau agresi.[1,2]

Dilaporkan pula bahwa droperidol tidak menimbulkan efek samping kardiovaskular lebih banyak bila dibandingkan haloperidol. Droperidol mempunyai onset yang lebih cepat pada pemberian intramuskular, eliminasi dari tubuh lebih cepat, dan efek samping yang lebih sedikit dibandingkan haloperidol.[1,3]

Bila dibandingkan dengan obat antipsikotik atipikal olanzapine, efek penenang di antara droperidol dan olanzapine tidak berbeda bermakna. Bahkan dilaporkan bahwa droperidol lebih baik dalam kebutuhan obat tambahan setelah 60 menit bila dibandingkan dengan olanzapine. Droperidol lebih sedikit membutuhkan tambahan obat dalam 60 menit bila dibandingkan olanzapine. Dilaporkan pula bahwa tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa droperidol lebih banyak menimbulkan efek samping kardiorespiratori dibandingkan olanzapine.[1]

Obat lain yang bisa digunakan untuk menangani agitasi atau agresi pada pasien dengan psikosis adalah golongan benzodiazepine, seperti diazepam dan midazolam. Efek penenang droperidol onsetnya lebih lambat bila dibandingkan dengan midazolam. Efek samping antara droperidol dan midazolam tidak berbeda signifikan, namun pada mereka yang mendapatkan midazolam berisiko untuk membutuhkan maneuver bantuan jalan nafas.[1]

Kesimpulan

Agitasi atau agresi pada pasien psikosis  adalah kondisi gawat darurat yang membutuhkan penanganan cepat. Lini pertama manajemen adalah dengan de-eskalasi verbal atau obat oral. Bila metode ini gagal, seringkali pasien akan membutuhkan restrain fisik atau rapid tranquilization. Obat yang sering digunakan untuk rapid tranquilization adalah antipsikotik tipikal, antipsikotik atipikal, dan benzodiazepine.

Metode pemberian untuk rapid tranquilization yang direkomendasikan adalah menggunakan injeksi intramuskular. Akan tetapi, pemberian secara intravena meningkatkan risiko timbulnya efek samping.  Kombinasi antipsikotik dengan benzodiazepine meningkatkan risiko terjadinya depresi nafas.

Droperidol adalah antipsikotik tipikal golongan butyrophenon yang direkomendasikan untuk rapid tranquilization. Penggunaan droperidol dilaporkan mempunyai onset yang lebih cepat, kebutuhan sedasi tambahan yang minimal, waktu eliminasi yang lebih cepat, dan efek samping yang lebih sedikit dibandingkan haloperidol.

Droperidol mendapatkan black box warning dari FDA karena kekhawatiran akan efek samping kardiovaskular obat ini. Namun sebuah review oleh Khokhar dan Rathbone menunjukkan bahwa efek samping kardiovaskular droperidol tidak berbeda dengan antipsikotik lainnya.

Referensi