Lebih Tingginya Angka Ventilator-Associated Pneumonia pada Pasien COVID-19

Oleh :
dr.Krisandryka

Angka kejadian ventilator-associated pneumonia atau VAP dilaporkan lebih tinggi pada populasi pasien COVID-19 daripada populasi pasien yang tidak mengalami COVID-19. Mayoritas pasien COVID-19 mengalami manifestasi klinis yang ringan. Akan tetapi, sebagian pasien mengalami COVID-19 berderajat berat dan membutuhkan ventilasi mekanik di ICU. Penggunaan ventilasi mekanik ini dikaitkan dengan risiko pneumonia.

Kemenkes ft Alodokter Alomedika 650x250

Risiko ventilator-associated pneumonia (VAP) meningkat seiring dengan peningkatan durasi ventilasi mekanik dan durasi perawatan di ICU. Selain itu, risiko VAP juga meningkat pada pneumonia viral. Faktor lain yang memengaruhi munculnya VAP pada acute respiratory distress syndrome (ARDS) adalah disregulasi sistem imun paru dan kolonisasi orofaring.[1,2]

Kejadian Ventilator-Associated Pneumonia pada Pasien COVID-19

Suatu studi multisenter di Eropa yang melibatkan 568 kasus COVID-19 melaporkan bahwa insiden VAP dan ventilator-acquired tracheobronchitis lebih tinggi pada pasien COVID-19 daripada masyarakat umum dan pasien influenza yang mendapat ventilasi mekanik. Studi juga melaporkan bahwa mayoritas bakteri penyebab VAP adalah bakteri gram-negatif, seperti Pseudomonas aeruginosa, Enterobacter, dan Klebsiella.[1]

Lebih Tingginya Angka Ventilator-Associated Pneumonia pada Pasien COVID-19-min

Studi oleh Vacheron, et al. pada 1.879 pasien membandingkan insiden VAP, ekologi mikrobiologis, dan pola resistensi pada grup pasien COVID-19 dan grup pasien tanpa COVID-19. Hasil menunjukkan bahwa insiden VAP 66% lebih tinggi pada grup pasien COVID-19. Insiden di grup COVID-19 adalah 25,5 per 1.000 hari ventilasi, sedangkan insiden di grup non-COVID-19 adalah 15,4 per 1.000 hari ventilasi.[1]

Pada kedua grup tersebut (COVID-19 maupun non-COVID-19), etiologi VAP didominasi oleh Enterobacter dan bakteri gram-negatif. Namun, VAP akibat methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA) lebih jarang dijumpai pada grup pasien COVID-19. Pola resistensi tampak hampir sama antara kedua kelompok.[1]

Dua studi kohort dari negara berbeda juga menunjukkan lebih tingginya insiden VAP pada pasien COVID-19 daripada pasien non-COVID-19. Insiden VAP pada pasien yang mengalami COVID-19 adalah 28 kasus per 1.000 hari ventilasi di Inggris dan 26 kasus per 1.000 hari ventilasi di Italia.[3,4]

Pada puncaknya, pandemi COVID-19 pernah menyebabkan mayoritas ICU di seluruh dunia terisi penuh, sehingga turut meningkatkan risiko infeksi nosokomial seperti VAP. Keterbatasan tenaga kesehatan dibandingkan jumlah pasien dan tingginya kebutuhan alat pelindung diri (APD) yang terbatas di banyak rumah sakit dapat mengakibatkan pengendalian infeksi yang kurang optimal dan meningkatkan risiko VAP.[5]

Mortalitas Akibat Ventilator-Associated Pneumonia pada Pasien COVID-19

Studi Vacheron, et al. meneliti mortalitas akibat VAP pada pasien COVID-19 dengan membandingkan tiga kelompok, yaitu: 64.816 pasien dalam kelompok kontrol (pasien pra-pandemi), 1.687 pasien dalam kelompok COVID-19, dan 7.442 pasien kelompok non-COVID-19 yang berada di ICU saat pandemi berlangsung.[6]

Hasilnya, selain insiden VAP tertinggi yang didapatkan pada kelompok COVID-19, mortalitas tertinggi dalam 90 hari pertama juga didapatkan pada kelompok tersebut. Mortalitas kelompok COVID-19 adalah 8,13%, sedangkan mortalitas kelompok kontrol adalah 3,15% dan kelompok non-COVID-19 adalah 2,91%.[6]

Studi lain oleh Nseir, et al. meneliti VAP pada 1.576 pasien, yang terdiri dari 568 pasien dengan pneumonia COVID-19, 482 pasien dengan pneumonia influenza, dan 526 pasien tanpa bukti infeksi virus saat masuk ICU. Hasil menunjukkan bahwa VAP dihubungkan dengan mortalitas 28 hari pertama yang lebih tinggi secara signifikan pada kelompok COVID-19 daripada dua kelompok lainnya.[7]

Upaya untuk Menurunkan Risiko Ventilator-Associated Pneumonia

Sebelum pandemi COVID-19, berbagai upaya telah dilakukan untuk menurunkan risiko VAP, seperti meminimalkan paparan ventilasi mekanik, merawat kebersihan mulut yang baik, melakukan suction subglottis, menjaga posisi optimal (posisi kepala tempat tidur 30–45 derajat), mendorong mobilisasi dini, dan memastikan kebutuhan tenaga medis tercukupi.[8,9]

Menurut WHO, ada beberapa upaya pencegahan VAP pada pasien COVID-19, yakni:

  • Preferensi untuk melakukan intubasi oral daripada nasal
  • Sistem suctioning tertutup, pengeringan dan pembuangan endapan pada tubing

  • Pasien diposisikan semi-recumbent (kepala ditinggikan 30–45 derajat)
  • Penggunaan sirkuit ventilator baru untuk setiap pasien. Setelah itu, sirkuit pada pasien tersebut diganti hanya jika rusak atau kotor. Penggantian yang terlalu sering bisa meningkatkan risiko VAP
  • Penggantian heat moisture exchanger ketika kotor atau setiap 5–7 hari[9]

Beberapa studi juga mengusulkan cara-cara lain untuk mencegah VAP pada pasien COVID-19. Szarpak, et al. mengusulkan penggunaan suction above cuff endotracheal tube (SACETT) untuk mengurangi risiko akumulasi bakteri di tube yang dapat pindah ke bronkus.[2]

Studi oleh Luque-Paz, et al. juga menilai efek selective digestive decontamination (SDD) terhadap pencegahan VAP pada pasien COVID-19. Hasil menunjukkan ada penurunan signifikan angka kejadian VAP dengan dilakukannya SDD. Namun, uji klinis acak lebih lanjut masih diperlukan untuk menilai efektivitas SDD dengan lebih baik.[10]

Kesimpulan

Sebagian pasien COVID-19 yang berderajat berat memerlukan perawatan di ICU dan ventilasi mekanik. Ventilasi mekanik telah diketahui berkaitan dengan risiko terjadinya pneumonia. Namun, risiko ini dilaporkan lebih tinggi pada pasien COVID-19 daripada pasien non-COVID-19. Ventilator-associated pneumonia (VAP) pada pasien COVID-19 juga berkaitan dengan risiko kematian yang lebih tinggi.

Beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko VAP pada pasien COVID-19 adalah perawatan kebersihan mulut dan perangkat ventilator dengan baik, serta memposisikan pasien semi-recumbent. Beberapa studi juga mengusulkan digunakannya SACETT dan dilakukannya SDD pada pasien COVID-19 yang mendapat ventilasi mekanik, tetapi hal tersebut masih membutuhkan studi lebih lanjut.

Referensi