Mobilisasi Dini pada Pasien di Unit Perawatan Intensif

Oleh dr. Josephine Darmawan

Mobilisasi dini pada pasien di unit perawatan intensif / intensive care unit (ICU) merupakan salah satu intervensi yang diyakini dapat memperpendek masa rawat dan juga memperbaiki mobilitas pasien pasca rawat.[1,2] Pasien yang menjalani perawatan di ICU umumnya merupakan pasien-pasien kritis yang memerlukan waktu perawatan lebih lama daripada pasien di ruang rawat biasa. Hal ini membuat pasien ICU lebih rentan mengalami efek samping seperti kelemahan otot karena perawatan di ICU / ICU-acquired weakness, hingga disabilitas pasca perawatan.[3-5] Terapi fisik dini pada pasien-pasien di ICU dinilai dapat mengurangi durasi rawat dan mengatasi efek samping tersebut.[1,2] Durasi rawat yang lebih pendek dan juga efek samping yang lebih minimal akan mengurangi beban biaya medis yang dibutuhkan.[6,7] Oleh karena itu, mobilisasi dini penting untuk dilakukan. Akan tetapi, hingga saat ini protokol mengenai terapi fisik dan mobilisasi dini pada pasien di ICU belum jelas dan sering kali menghadapi berbagai kendala.

Efek Tirah Baring di Unit Rawat Intensif

Unit Perawatan Intensif merupakan bagian dari rumah sakit yang memfasilitasi layanan kesehatan bagi pasien kritis. Pasien di ICU umumnya merupakan pasien pasca pembedahan, pasien dengan gangguan jantung, gangguan neurologis, gagal ginjal, sepsis, dan gagal napas. Pasien-pasien ini umumnya mendapatkan obat-obatan untuk mencegah infeksi, bantuan napas, tirah baring total, dan terapi sesuai penyakit masing-masing. Meskipun dengan terapi yang adekuat, pasien-pasien di ICU sering kali membutuhkan waktu rawat lebih lama dan tingkat mortalitas yang lebih tinggi.[5,8,9] Salah satu penelitian di salah satu Rumah Sakit di Indonesia menunjukkan bahwa rata-rata masa rawat di ICU adalah 14x24 jam dengan waktu rawat tersingkat 4 hari dan terpanjang hingga 90 hari.[10] Selama masa rawat ini, pasien mengalami risiko untuk mengalami berbagai efek samping dari perawatan intensif, baik dari penyakit yang dialami, terapi yang diberikan, dan tirah baring yang lama. Pasien juga rentan mengalami kelemahan dan penurunan fungsi aktifitas pasca perawatan.[3-5]

Tirah baring merupakan tindakan yang umum dilakukan di ICU. Tirah baring total dalam waktu panjang dapat membuat pasien mengalami penurunan kondisi secara medis dan atrofi otot. Tirah baring juga merupakan salah satu faktor risiko terjadi infeksi, nyeri pinggang kronis/low back pain, kontraktur, ulkus dekubitus, serta pembekuan darah.[5,6,11] Salah satu penelitian menyatakan bahwa setelah 2 minggu imobilisasi, dapat terjadi kehilangan masa otot sebanyak 5%-9% dan penurunan kekuatan otot hingga 20%-27%. Pada pasien yang menjalani tirah baring total, penurunan masa otot dan kelemahan otot dapat terjadi lebih cepat. Pasien juga dapat mengalami intoleransi ortostatik bahkan dalam waktu 24 jam setelah tirah baring. Pada pemeriksaan biopsi otot juga ditemukan inflamasi, nekrosis, dan fiber otot berganti menjadi jaringan lemak. [5,12] Pasien juga dapat mengalami kelemahan otot diafragma, penurunan fungsi aktifitas, hingga penurunan kognitif pasca rawat.[3,4]

ICU

Studi Terkait Mobilisasi dini Pasien Unit Perawatan Intensif

Studi tentang mobilisasi dini pada pasien-pasien di unit perawatan intensif cukup banyak dilakukan. Salah satu studi uji acak terkontrol/randomized controlled trial dari Lancet pada 200 pasien di unit perawatan intensif bedah/surgical intensive care unit (SICU) melaporkan bahwa pasien yang mendapatkan mobilisasi dini memiliki rata-rata masa rawat 3 hari lebih singkat dan fungsi aktifitas fisik yang lebih baik di akhir masa rawat (P=0.005). Namun demikian, dilaporkan adanya insidensi adverse event yang lebih banyak pada pasien yang mendapat intervensi mobilisasi dini, berupa hipotensi, pusing, dispnea, takipnea, dan palpitasi. Perlu dicatat bahwa tidak ditemukan adverse event serius pada studi ini. Selain itu, tidak ditemukan adanya kejadian pasien jatuh atau peralatan medis yang terlepas.[1,2]

Randomized controlled trial lainnya yang dilakukan di dua rumah sakit pendidikan juga menunjukkan hasil serupa, dimana ditemukan bahwa mobilisasi dini dapat meningkatkan prognosis pasien dan menurunkan sekuele yang dialami pasien di akhir masa rawat. Namun, studi ini melaporkan adanya 1 adverse event serius yang ditemukan selama masa studi, yaitu desaturasi oksigen. [15] Studi lainnya juga menunjukkan hasil serupa, dimana dilaporkan bahwa mobilisasi dini dapat mengurangi durasi delirium selama 2 hari, mengurangi risiko readmisi ke ICU, menurunkan infeksi, dan perbaikan aktifitas fisik yang lebih baik.[5,12,13] Studi yang ada menunjukkan bahwa mobilisasi dini dapat sangat bermanfaat dan aman untuk dilakukan pada pasien yang sudah cukup stabil.

Kendala dalam Menerapkan Mobilisasi dini Pasien di Unit Perawatan Intensif

Studi menunjukkan bahwa mobilisasi dini memberikan manfaat yang sangat baik bagi pasien. Namun demikian, menerapkan mobilisasi dini pada pasien di ICU sering kali mengalami hambatan. Kendala yang paling umum ditemukan adalah kondisi pasien yang tidak memungkinkan untuk mobilisasi, seperti adanya nyeri hebat, kelelahan, penurunan kesadaran, oversedasi, atau terpasang alat medis yang invasif. Melakukan mobilisasi dini juga sangat bergantung pada keterampilan petugas kesehatan yang ada di ICU, fisioterapis, dan ketersediaan alat yang mendukung mobilisasi di ICU. Penerapan protokol mobilisasi dini yang berhasil membutuhkan perawat khusus untuk memonitor mobilisasi pasien, fisioterapis, tempat tidur pasien yang dapat disesuaikan/adjustable bed, alat portable untuk memindahkan pasien/portable sling, serta alat-alat fisioterapi lain yang dilengkapi alat bantu napas serta resusitasi. Sering kali institusi kesehatan tidak memberikan fasilitas yang mendukung untuk melakukan mobilisasi di ICU, baik dari alat ataupun tenaga fisioterapis.[3,7,11,12]

Rekomendasi Mobilisasi dan Aktivitas Fisik Pasien Unit Perawatan Intensif

Mobilisasi dini merupakan intervensi yang dapat memperbaiki prognosis pasien-pasien di ICU. Mobilisasi dini umumnya mulai dilakukan pada hari ke-2 hingga ke-5 perawatan di ICU. Hasil lebih baik ditemukan apabila mobilisasi dimulai dalam 72 jam pertama setelah pemasangan ventilator. Mobilisasi dapat dilakukan secara aktif maupun pasif dan dapat dilakukan pada pasien-pasien meskipun terpasang alat medis seperti selang nasogastrik, infus intravena, ventilator, ataupun trakeostomi. Upaya mobilisasi yang dapat dilakukan antara lain adalah duduk di samping tempat tidur pasien, berjalan ke kursi, berdiri di samping tempat tidur, menggerakkan ekstremitas secara aktif di tempat tidur, serta miring ke kiri atau kanan. Beberapa metode mobilisasi yang lebih canggih seperti latihan fisik dengan alat fisioterapi, hidroterapi, atau sepeda statis/in-bed cycling juga dapat dilakukan. Latihan mobilisasi sebanyak 2 sesi selama 6 menit per hari menunjukkan hasil yang cukup memuaskan. Latihan mobilisasi sebaiknya dilakukan dengan hati-hati dan diterapkan pada pasien yang sudah cukup stabil secara klinis. [5,7,12,14] Studi lebih lanjut dan pedoman praktik terkait mobilisasi di ICU masih perlu dikembangkan.

KESIMPULAN

Perawatan di unit perawatan intensif sering kali menimbulkan berbagai efek samping pada pasien, terutama karena durasi rawat dan tirah baring yang lama. Imobilisasi dapat menyebabkan pasien mengalami kelemahan dan atrofi otot, ulkus dekubitus, trombosis, hingga gangguan fungsi dan kongnitif pasca rawat. Latihan mobilisasi dini yang mulai dilakukan pada hari rawat ke-2 hingga ke-5 akan membantu mengurangi efek samping yang terjadi, mengurangi durasi rawat, serta menekan biaya medis. Keberhasilan penerapan mobilisasi dini sangat bergantung dari kondisi pasien serta fasilitas dari institusi kesehatan dalam menyediakan alat, protokol, dan tenaga kesehatan yang mendukung. Meskipun sangat bermanfaat dan umumnya memerlukan biaya yang cukup rendah, mobilisasi dini pada pasien ICU memiliki beberapa kendala, terutama adalah keterampilan tenaga medis dan ketersediaan fisioterapis ICU. Mobilisasi dini juga dapat menimbulkan beberapa adverse event, tetapi intervensi ini aman bila dilakukan secara hati-hati pada pasien ICU yang sudah cukup stabil. Studi lebih lanjut dan pembuatan protokol tentang mobilisasi dini pada pasien-pasien unit perawatan intensif masih diperlukan, terutama di Indonesia.

Referensi