Keamanan Penurunan Berat Badan secara Drastis

Oleh dr. Maria Rossyani

Menurunkan berat badan, terutama pada penderita obesitas dengan Indeks Massa Tubuh atau IMT lebih dari 30 kg/m2, dapat menurunkan resiko penyakit kardiometabolik. Hal yang masih menjadi perdebatan adalah metode penurunan badan yang lebih baik, penurunan badan jangka panjang secara perlahan atau penurunan drastis jangka pendek.

Depositphotos_73483963_m-2015_compressed.jpg

Penurunan Berat Badan Secara Drastis

Pertama-tama, dapat ditinjau alasan penurunan berat badan secara umum: penurunan berat badan secara permanen. Suatu penelitian membandingkan dua modalitas diet yang berbeda yaitu dengan diet sangat rendah kalori selama 3 bulan (450-800 kalori per hari) atau dengan diet memotong asupan kalori sebanyak 500 kalori selama 9 bulan. Mereka menemukan bahwa pada akhir penelitian, jumlah penurunan berat badan tidak jauh berbeda pada kedua grup, sebanyak 14 kg. Lebih dari itu, setelah mendapat program diet rumatan untuk mempertahankan berat badan selama 144 minggu, terdapat kenaikan berat badan pada kedua kelompok yang tidak jauh berbeda yaitu 10 kg, dengan total penurunan berat badan permanen sebanyak 4 kg.

Melihat hasil dari penelitian di atas, terlihat metode penurunan berat badan secara drastis memiliki tingkat efektivitas yang serupa dengan penurunan perlahan. Lebih dari itu, program diet 3 bulan juga lebih mudah diikuti dan jumlah pasien yang bertahan mengikuti program diet 3 bulan lebih tinggi dibandingkan dengan program diet 9 bulan.[1]

Tinjauan Fisiologis Penurunan Berat Badan

Pada penurunan berat badan, terdapat fase di mana konsumsi energi akan berkurang secara signifikan. Fase ini nantinya akan menstimulasi tubuh untuk menciptakan kondisi defisit energi yang akan berimbas pada penurunan berat badan. Penurunan berat badan ini terjadi karena terdapat respons hormon dari dalam tubuh, seperti penurunan hormon tiroid, leptin, insulin, dan testosteron serta meningkatkan hormon grelin dan kortisol. Kortisol sendiri merupakan hormon stres yang juga berfungsi sebagai penanda penghancuran protein (dalam kasus ini, penghancuran protein dalam otot) yang ditemukan meningkat pada fase penurunan berat badan. Perubahan hormon ini tidak hanya terjadi pada fase penurunan berat badan, tetapi akan bertahan, bahkan setelah fase penurunan berat badan aktif telah selesai.[2]

Efek Samping Penurunan Berat Badan Secara Drastis Terhadap Organ Tubuh

Efek samping utama dari penurunan berat badan secara drastis adalah perubahan fisiologis atau fungsi tubuh yang terlalu drastis, sehingga dapat menimbulkan penyakit. Pada kasus penurunan berat badan yang drastis, salah satu efek samping yang paling dikhawatirkan adalah munculnya masalah pada sistem empedu, yang biasanya muncul sebagai keluhan nyeri perut. Keluhan sistem empedu, terutama munculnya batu empedu, ditimbulkan karena efek dari berkurangnya motilitas dari kantong empedu, sehingga cairan empedu yang dihasilkan tidak dikeluarkan dan mengendap dalam kantong empedu sehingga meningkatkan resiko batu empedu.[3]

Tidak hanya pada empedu, jantung juga salah satu organ yang secara langsung terpengaruh. Penurunan berat badan yang signifikan, terutama yang berasal dari perubahan pola makan, tidak hanya bisa menurunkan berat badan, namun juga bisa menurunkan kadar vitamin dan mineral yang bisa menimbulkan efek samping yang berbahaya. Penelitian lain menunjukkan bahwa terdapat perubahan dalam sistem listrik jantung yang muncul setelah penurunan berat badan sebanyak kurang lebih 13,4%. Perubahan yang terjadi antara lain perlambatan dalam sistem listrik jantung.[4]

Sementara itu, pada tulang, terjadi penurunan kadar kepadatan tulang pada pasien yang mengalami penurunan berat badan. Namun, efek ini bisa ditanggulangi dengan mengonsumsi suplementasi kalsium dan olahraga yang rutin. Sayangnya efek penurunan kepadatan tulang ini tetap bertahan pada wanita yang sudah mengalami menopause.[5]

Efek Samping Penurunan Berat Badan Secara Drastis Terhadap Psikologi

Selain organ-organ tubuh, efek penurunan badan yang drastis juga mempengaruhi psikologis dan performa secara keseluruhan. Beberapa literatur yang telah ada meneliti subpopulasi atlet yang sering kali harus menurunkan atau menaikkan berat badan secara drastis terkait performa di cabang olahraga masing-masing. Secara umum, penelitian pada kelompok atlet yang telah ada dibagi menjadi dua kelompok besar; pada atlet dengan olahraga bela diri dan olahraga lainnya. Penelitian pada petinju dan atlet mixed martial art menunjukkan efek negatif dari penurunan badan secara drastis. Penelitian pada atlet mixed martial art yang melakukan program penurunan berat badan secara drastis menemukan peningkatan hormon stress berupa kortisol dan meningkatkan kadar SGOT, LDH dan CK, di mana ketiganya merupakan zat-zat yang diproduksi sebagai penanda kerusakan otot.[6,7]

Selain dari kerusakan otot dan peningkatan hormon stres, penurunan berat badan secara signifikan dalam waktu singkat juga mempengaruhi mood dan performa – keduanya mengalami penurunan yang signifikan – seperti yang dilaporkan pada petinju. Kedua penelitian tersebut menggunakan perubahan berat badan yang lebih signifikan, yaitu penurunan berat badan lebih besar dari 10% dalam durasi 1 minggu atau kurang.

Pada populasi non atlet, komplikasi medis dari penurunan berat badan secara drastis adalah bradikardia, hipotensi hingga masalah elektrolit seperti penurunan kadar kalium dan fosfat. Walau demikian, perlu diingat bahwa kebanyakan subyek penelitian merupakan pasien obesitas.[1,8]

Kesimpulan

Penurunan berat badan bukanlah hanya sekedar penurunan angka, namun diharapkan juga menurunkan risiko penyakit secara keseluruhan dan meningkatkan kualitas hidup. Dengan demikian, sebaiknya penurunan berat badan dilakukan secara hati-hati dengan penurunan secara perlahan dalam jangka panjang dibandingkan penurunan secara drastis.

Referensi