Penggunaan pada Kehamilan dan Ibu Menyusui Pyridoxine
Penggunaan pyridoxine atau vitamin B6 pada ibu hamil dianggap aman dan justru direkomendasikan untuk memenuhi kebutuhan gizi harian yang meningkat selama kehamilan. Pada ibu menyusui, pyridoxine diketahui dikeluarkan ke ASI.[7]
Penggunaan pada Kehamilan
Pyridoxine masuk dalam Kategori A oleh FDA. Hal ini berarti bahwa studi terkontrol pada wanita hamil tidak menunjukkan adanya risiko terhadap janin, dan kecil kemungkinannya untuk membahayakan janin.[7]
Pyridoxine umumnya dianggap aman digunakan selama kehamilan bila diberikan sesuai dosis yang direkomendasikan. Vitamin ini berperan penting dalam metabolisme protein, sintesis neurotransmiter, pembentukan hemoglobin, serta mendukung pertumbuhan dan perkembangan janin.
Selain untuk memenuhi kebutuhan nutrisi ibu hamil, pyridoxine sering digunakan dalam penatalaksanaan mual dan muntah pada kehamilan, baik sebagai terapi tunggal maupun dikombinasikan dengan doxylamine.[12,15]
Penggunaan pada Ibu Menyusui
Pyridoxine merupakan nutrien esensial yang secara alami terdapat dalam ASI dan umumnya dianggap aman digunakan pada ibu menyusui bila diberikan dalam dosis yang direkomendasikan. Kadar vitamin B6 dalam ASI meningkat seiring peningkatan asupan ibu, sehingga suplementasi maternal dapat membantu memenuhi kebutuhan vitamin B6 bayi yang mendapat ASI eksklusif.
Kebutuhan minimal ibu menyusui sekitar 2 mg/hari, sedangkan suplementasi 7,5–20 mg per hari untuk pencegahan atau terapi defisiensi vitamin B6 dinilai dapat memberikan kadar vitamin B6 ASI yang memadai tanpa menimbulkan risiko bermakna bagi bayi.
Berbagai penelitian pada ibu menyusui yang mendapat suplementasi 2,5–27 mg per hari menunjukkan pertumbuhan bayi, baik berat badan maupun panjang badan, tetap normal dan tidak berbeda secara klinis dibandingkan kelompok kontrol. Efek samping pada bayi yang disusui juga sangat jarang dilaporkan.
Pada sisi lain, penggunaan dosis sangat tinggi pyridoxine tidak direkomendasikan secara rutin selama menyusui karena data keamanannya terbatas dan pada beberapa penelitian lama dosis sangat tinggi tersebut digunakan untuk menekan produksi ASI. Namun, efek penekanan laktasi oleh pyridoxine tidak konsisten dan tidak seefektif obat dopaminergik seperti cabergoline.[1]
Direvisi oleh: dr. Bedry Qintha