Formulasi Pyridoxine
Formulasi pyridoxine atau vitamin B6 dapat berupa sediaan oral dan injeksi. Penyimpanan sediaan oral dianjurkan dalam suhu 15–30°C, sedangkan sediaan injeksi dianjurkan disimpan dalam suhu 20–25°C.[5,7]
Bentuk Sediaan
Di Indonesia, pyridoxine tersedia dalam bentuk tablet 10 mg dan 25 mg, serta bentuk injeksi 50 mg/ml. Sediaan sirup, dan injeksi biasanya berupa kombinasi sebagai multivitamin, atau dengan obat lainnya, seperti isoniazid.[5,8]
Cara Penggunaan
Sediaan oral pyridoxine merupakan rute pemberian yang paling umum digunakan karena obat ini memiliki absorpsi yang baik melalui saluran cerna, terutama di jejunum. Pemberian oral digunakan untuk profilaksis maupun terapi defisiensi vitamin B6, termasuk pencegahan neuropati perifer pada pasien yang menjalani terapi isoniazid.
Tablet atau kapsul pyridoxine dapat diberikan dengan atau tanpa makanan sesuai kebutuhan pasien. Rute oral dipilih pada sebagian besar kasus karena mudah digunakan, aman, dan efektif dalam mempertahankan kadar vitamin B6 yang adekuat dalam tubuh.
Sediaan injeksi digunakan apabila pemberian oral tidak memungkinkan, misalnya pada pasien dengan gangguan absorpsi, muntah berat, penurunan kesadaran, atau kondisi klinis lain yang menghambat penggunaan rute oral.
Pyridoxine injeksi dapat diberikan melalui injeksi intramuskular (IM), intravena (IV), atau subkutan (SC). Pemilihan rute IM, IV, atau SC bergantung pada tingkat urgensi terapi, kondisi vena pasien, serta pertimbangan klinis lain.[1,7]
Cara Penyimpanan
Sediaan pyridoxine tablet harus disimpan dalam kemasan yang kedap udara, pada tempat yang kering dan sejuk, dengan suhu berkisar 15-30°C. Temperatur tidak boleh melebihi 40°C. Obat jangan dibekukan, jangan disimpan dalam kamar mandi, dan terlindung dari cahaya.
Sediaan pyridoxine injeksi dianjurkan untuk disimpan dalam rentang suhu 20–25°C. Terlindung dari paparan cahaya.[7]
Kombinasi dengan Obat Lain
Umumnya, suplemen pyridoxine dikombinasikan dengan vitamin B lainnya menjadi vitamin B kompleks. Selain itu, pyridoxine juga sering dikombinasikan dengan vitamin dan mineral lain sebagai pelengkap nutrisi bagi seseorang yang tidak dapat memenuhi kebutuhan vitamin ini melalui diet harian.
Lebih lanjut, suplementasi pyridoxine 25-50 mg/hari dengan obat antituberkulosis, isoniazid (INH), diberikan untuk mencegah perkembangan neuropati perifer.[1-3]
Direvisi oleh: dr. Bedry Qintha