Multivitamin Prenatal dan Risiko Emesis Gravidarum

Oleh :
dr. Gisheila Ruth Anggitha

Pengaruh suplemen multivitamin prenatal pada keluhan mual dan muntah dalam kehamilan masih menjadi kontroversi. Sebaiknya tetap edukasi ibu untuk mengonsumsi multivitamin sejak awal merencanakan kehamilan dan hindari multivitamin yang mengandung zat besi jika pasien mengalami emesis gravidarum yang cukup berat.

Mual dan muntah selama masa kehamilan, atau emesis gravidarum, merupakan kondisi umum dengan prevalensi mual terjadi pada 50-80% dan muntah terjadi pada sekitar 50% ibu hamil. Emesis gravidarum disebabkan oleh berbagai faktor, seperti perubahan hormonal, adaptasi tubuh ibu, dan predisposisi psikologis. Penatalaksanaan emesis gravidarum dapat dimulai dengan pencegahan. Terdapat studi yang mengatakan bahwa penggunaan suplemen multivitamin pada masa fertilisasi dapat menurunkan risiko emesis gravidarum, namun studi lain mengatakan bahwa penggunaan suplemen multivitamin justru dapat meningkatkan beratnya emesis gravidarum hingga menjadi hiperemesis gravidarum. Belum terdapat bukti klinis mengenai hubungan antara penggunaan suplemen multivitamin prenatal dan kejadian emesis gravidarum.[1]

Depositphotos_19222187_m-2015_compressed

Suplemen Multivitamin Prenatal

Penggunaan suplemen multivitamin-mineral disarankan sebelum dan selama kehamilan agar kebutuhan akan nutrisi, terutama mikronutrien, tercukupi dalam tubuh ibu selama hamil. Beberapa mineral yang dibutuhkan saat hamil adalah asam folat, zat besi, vitamin D, dan berbagai vitamin B. Asam folat sangat dibutuhkan untuk menurunkan risiko defek tuba neural (spina bifida). Pengunaan suplemen multivitamin dalam masa kehamilan juga dihubungankan dengan penurunan berbagai risiko malformasi kongenital. Selama kehamilan berlangsung, kebutuhan nutrisi ibu dan kebutuhan nutrisi dari fetus pun akan meningkat. Hal ini dapat menyebabkan kekurangan vitamin dan mineral yang mungkin tidak cukup jika hanya didapatkan dari makanan. Oleh karena itu, suplemen multivitamin-mineral sebaiknya diberikan kepada ibu selama hamil.[4]

Multivitamin prenatal mengandung vitamin B6, atau dikenal sebagai piridoksin, yang dapat membantu meringankan keluhan mual dan muntah selama kehamilan. Beberapa studi menyatakan bahwa vitamin B6 dapat membantu mengatasi keluhan mual dan muntah derajat ringan. Namun, sebagian besar multivitamin prenatal juga mengandung zat besi dengan dosis tinggi (60 mg besi elemental) dan tersedia dalam ukuran tablet besar. Beberapa ibu hamil dapat mengeluhkan terjadinya gangguan gastrointestinal, perburukan morning sickness, dan konstipasi. Beberapa wanita hamil juga dapat mengalami refluks asam, heartburn, dan irritable bowel syndrome. Adanya efek samping ini dapat menghambat ibu hamil untuk melanjutkan multivitamin prenatal yang sebenarnya dibutuhkan oleh tubuh. Sebaiknya ganti konsumsi multivitamin menjadi multivitamin yang tidak mengandung zat besi dan berikan suplementasi zat besi terpisah dengan dosis mingguan.[1,4,5]  

Bukti Klinis Hubungan antara Multivitamin Prenatal dengan Risiko Emesis Gravidarum

Bukti klinis mengenai hubungan multivitamin dengan risiko emesis gravidarum masih kontroversial.

Studi yang Menunjukkan Peningkatan Risiko Emesis Gravidarum pada Penggunaan Multivitamin

Sebuah Randomised Controlled Trial (RCT) dilakukan oleh Gill, et al. menilai efek dari pemberhentian penggunaan multivitamin prenatal yang mengandung besi dalam menurunkan risiko mual dan muntah dalam kehamilan. Didapatkan bahwa 63 dari 97 pasien mengalami penurunan kejadian mual dan muntah selama kehamilan setelah pemberhentian vitamin prenatal yang mengandung besi. Didapatkan hasil yang signifikan pada penurunan skor Pregnancy unique quantification of emesis and nausea (PUQE) serta skor Well-being yang lebih tinggi pada grup yang berhenti minum vitamin. RCT ini menyimpulkan bahwa pada trimester pertama sebaiknya suplementasi multivitamin yang mengandung besi dihindari untuk mengurangi risiko mual dan muntah dalam kehamilan, namun tetap dilakukan pemantauan agar jangan sampai ibu hamil mengalami defisiensi besi.[6]

RCT lain yang dilakukan oleh Nguyen, et al. meneliti tentang perbandingan antara kepatuhan pasien serta efek samping pada ibu hamil yang mendapatkan multivitamin prenatal. Kriteria inklusi pada studi ini adalah ibu hamil yang telah berhenti konsumsi atau tidak minum multivitamin akibat efek samping yang dirasakan (mual, muntah, diare, heart burn, konstipasi). Terdapat 67% ibu hamil yang tidak melanjutkan konsumsi suplemen multivitamin pada kehamilan dengan alasan mual dan muntah selama kehamilan (78%), ukuran tablet yang besar atau sulit untuk ditelan (32%), dan gangguan gastrointestinal lainnya (32%).[4]

Studi yang Menunjukkan Tidak Adanya Hubungan antara Multivitamin dan Emesis Gravidarum

Berbeda dengan RCT sebelumnya, pada RCT ini didapatkan bahwa tidak ada perbedaan yang bermakna antara efek samping yang dilaporkan dari grup multivitamin berisi besi 60 mg dengan grup multivitamin besi 35 mg. RCT ini menyimpulkan bahwa multivitamin prenatal dengan dosis besi yang lebih rendah ternyata tidak juga dapat meningkatkan kepatuhan pasien dan tidak menurunkan angka kejadian mual dan muntah dalam kehamilan. Toleransi multivitamin tidak hanya bergantung pada suplemen tersebut, namun dari kemampuan ibu hamil dalam menatalaksanan dan menyikapi keluhan mual dan muntah selama kehamilan. RCT ini juga menyarankan adanya penggunaan ukuran tablet multivitamin yang lebih kecil sebagai salah satu upaya peningkatan kepatuhan ibu hamil.[4]

Studi yang Menunjukkan Efek Protektif Multivitamin terhadap Emesis Gravidarum

Sebuah studi observasional dilakukan oleh Kallen, et al. untuk menilai hubungan antara penggunaan vitamin dengan kejadian mual dan muntah dalam kehamilan. Studi ini mendapatkan hasil yang berbeda dengan RCT sebelumnya. Didapatkan bahwa penggunaan vitamin yang dimulai sebelum kehamilan dan dilanjutkan selama masa kehamilan dapat memberikan efek protektif. Namun, pada wanita yang menggunakan vitamin hanya sebelum masa kehamilan dan tidak dilanjutkan selama kehamilan, penggunaan vitamin justru meningkatkan risiko terjadinya mual dan muntah pada kehamilan.[6]

Grup yang menggunakan vitamin selama kehamilan awal memiliki risiko 0,72 kali mengalami mual dan muntah selama kehamilan. Pada grup yang hanya menggunakan vitamin sebelum kehamilan namun tidak dilanjutkan selama masa kehamilan didapatkan memiliki risiko 2,33 kali mengalami mual dan muntah selama kehamilan. Namun, mekanisme pasti penggunaan vitamin dalam menurunkan angka mual dan muntah belum dapat dijelaskan.[7]

Kesimpulan

Hubungan antara penggunaan multivitamin prenatal sebelum dan selama masa kehamilan dengan risiko mual dan muntah dalam kehamilan masih menjadi kontroversi. Berdasarkan pertimbangan manfaat dan risiko, penggunaan multivitamin sebaiknya tetap dikonsumsi oleh ibu hamil mengingat adanya peningkatan kebutuhan nutrisi, khususnya mikronutrien bagi ibu maupun janin. Penggunaan multivitamin prenatal bisa diberikan dengan sediaan tablet yang kecil, dengan kandungan zat besi yang lebih rendah atau tanpa kandungan zat besi, dan mengandung vitamin B6 untuk mengurangi risiko mual dan muntah dalam kehamilan. Selain itu, perlu peran serta dokter dan keluarga dalam mendukung dan membantu ibu menyikapi keluhan mual dan muntah dalam kehamilan dari sisi psikologis.

Referensi