Penggunaan Antibiotik Fluoroquinolone dan Risiko Penyakit Katup Jantung

Oleh :
dr.Farhanah Meutia, SpJP (K),FIHA

Fluoroquinolone seperti ciprofloxacin dan levofloxacin telah dihubungkan dengan berbagai efek samping serius, termasuk risiko penyakit katup jantung seperti regurgitasi katup. Efek samping ini menimbulkan potensi risiko yang lebih besar dibandingkan manfaat bagi pasien dengan sinusitis akut, bronkitis akut, dan infeksi saluran kemih tanpa komplikasi ketika tersedia pilihan terapi lain.

Contoh obat dari golongan fluoroquinolone adalah ciprofloxacin, ofloxacin, norfloxacin, lomefloxacin, levofloxacin, dan moxifloxacin. Fluoroquinolone adalah golongan antibiotik dengan efikasi antibakterial yang tinggi karena didukung oleh beberapa efek farmakokinetik yang menguntungkan, seperti bioavailabilitas melalui jalur saluran pencernaan yang baik, volume distribusi tinggi, dan kemampuan antimikrobanya berspektrum luas. Meski demikian, golongan obat ini telah dikaitkan dengan berbagai efek samping serius, yang mencakup hipoglikemia berat dan efek samping terkait kolagen seperti ruptur tendon, ablatio retinaaneurisma dan diseksi aorta (AA/AD), serta regurgitasi katup jantung.[1-3]

Penggunaan Antibiotik Fluoroquinolone dan Risiko Penyakit Katup Jantung-min

Fluoroquinolone dan Gangguan Jaringan Kolagen

Mekanisme yang menyebabkan timbulnya gangguan jaringan kolagen pada penggunaan fluoroquinolone masih belum diketahui pasti. Studi in vitro menunjukkan bahwa fluoroquinolone dapat menyebabkan penurunan ekspresi protein matriks ekstraselular (ECM), peningkatan regulasi ekspresi matrix metalloproteinase (MMP), dan penghambatan proliferasi sel tendon. Hipotesis yang banyak didukung adalah bahwa gangguan jaringan kolagen yang diinduksi fluoroquinolone disebabkan oleh peningkatan ekspresi MMP yang mengakibatkan kerusakan pada fibril kolagen yang terdapat di tendon Achilles, aorta, dan katup jantung.

Dalam sebuah penelitian in vitro, dilakukan penilaian kapasitas disregulasi ekspresi ECM pada sel miofibroblas aorta manusia yang mengandung ciprofloxacinPara peneliti menemukan bahwa paparan fluoroquinolone mengakibatkan penurunan ekspresi tissue inhibitors of matrix metalloproteinase (TIMP), peningkatan rasio MMP/TIMP, serta pelemahan ekspresi kolagen-1. Temuan ini menunjukkan bahwa paparan fluoroquinolone menginduksi disregulasi human aortic myofibroblast-mediated ECM melalui peningkatan degradasi kolagen dan mengganggu deposit kolagen.[3-5]

Fluoroquinolone dan Peningkatan Risiko Penyakit Katup Jantung

Sebuah studi kasus kontrol di Amerika Serikat, menganalisis 9.053.240 laporan data FDA sejak tahun 2004 hingga 2018 terkait terapi fluoroquinolone oral (ciprofloxacin, levofloxacin, moxifloxacin, gemifloxacin, gatifloxacin, lomefloxacin, dan norfloxacin) dengan laporan riwayat kejadian aortic valve replacement, aortic valve repair, inkompetensi katup aortapenyakit katup aorta, mitral valve replacement, mitral valve repair, penyakit katup mitralinkompetensi katup mitral, dan prolaps katup mitral. Kriteria eksklusi yang digunakan adalah adanya riwayat demam reumatik ataupun penyakit jantung rematik, gangguan katup trikuspid, stenosis mitral, strep throat, miokarditis,  dan endokarditis. Dari data tersebut didapatkan 2 kelompok, yaitu yang mendapat fluoroquinolone dengan kejadian valvulopathy (n=12.502) dan kelompok kontrol yang mendapat fluoroquinolone namun tanpa kejadian valvulopathy (n=125.020).

Berdasarkan periode waktu, kelompok yang diteliti dibagi menjadi tiga, yaitu kelompok current exposure yang mendapat terapi fluoroquinolone saat penelitian dilakukan atau dalam kurun waktu 30 hari terakhir sebelumnya; kelompok recent exposure yang mendapat terapi fluoroquinolone dalam kurun waktu 31-60 hari sebelumnya; serta kelompok past exposure yang mendapat terapi fluoroquinolone dalam kurun waktu 61 hingga 365 hari sebelumnya.

Hasil studi ini menunjukkan bahwa risiko current exposure fluoroquinolone dibandingkan amoxicillin 2,4 kali lebih tinggi, dan dibandingkan azithromycin adalah 1,75 kali lebih tinggi. Sementara itu, risiko recent exposure fluoroquinolone dibandingkan amoxicillin adalah 1,47 kali, sedangkan untuk past exposure adalah 1,06 kali. Hal ini menunjukkan bahwa risiko kejadian regurgitasi katup aorta dan mitral meningkat pada kelompok current exposure diikuti oleh kelompok recent exposure. Namun, hubungan sebab akibat yang jelas masih belum dapat ditentukan, sehingga diperlukan studi lebih lanjut.[2]

Hasil ini berbeda dengan sebuah studi kasus-kontrol lain di Denmark. Studi ini melibatkan 38.370 kasus regurgitasi katup jantung dan 1.115.100 kontrol. Studi oleh strange et al ini tidak menemukan signifikansi dan hubungan kausal antara paparan fluoroquinolone terhadap peningkatan risiko regurgitas katup aorta ataupun mitral dibandingkan pengguna penicillin V (HR 1,02).[6]

Rekomendasi Penggunaan Fluoroquinolone di Berbagai Negara

Penggunaan fluoroquinolone di berbagai negara, mendapat pengawasan ketat dari badan pengawasan obat dan makanan setempat. Di Inggris, melalui The Medicines and Healthcare Products Regulatory Agency (MHRA), fluoroquinolone tidak boleh digunakan untuk infeksi yang tidak parah atau bisa swasirna, kondisi nonbakteri, atau infeksi ringan hingga sedang kecuali antibiotik lain yang umumnya direkomendasikan dianggap tidak tepat. Hal ini terutama berlaku bagi pasien risiko tinggi, misalnya mereka dengan kelainan katup jantung kongenital, gangguan jaringan ikat (seperti sindrom Marfan), dan pasien dengan faktor risiko kelainan katup (seperti rheumatoid arthritis atau hipertensi).[7]

Di Amerika Serikat, FDA juga telah mengeluarkan peringatan mengenai efek kardiovaskular fluoroquinolone, baik kepada pasien maupun tenaga kesehatan. FDA juga meminta pasien untuk melaporkan gejala dan keluhan yang dialami saat menggunakan fluoroquinolone.[8]

Di Indonesia, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyetujui peredaran produk obat golongan fluoroquinolone, yaitu ciprofloxacin, levofloxacin, moxifloxacin, norfloxacin dan ofloxacin. Pada label beberapa produk obat fluoroquinolone yang terdaftar, sebagian telah mencantumkan informasi terkait risiko efek samping tendinitis dan ruptur tendon. Meski demikian, belum ada peringatan terkait risiko efek kardiovaskular, termasuk penyakit katup jantung.[9]

Kesimpulan

Fluoroquinolone adalah antibiotik yang sering digunakan di praktik, antara lain untuk sinusitis, bronkitis akut, dan infeksi saluran kemih tanpa komplikasi. Meski demikian, golongan obat ini telah dikaitkan dengan efek samping serius kardiovaskular, termasuk penyakit katup jantung. Sebuah studi kasus-kontrol di Amerika Serikat menunjukkan potensi penggunaan fluoroquinolone dalam meningkatkan risiko penyakit katup jantung, namun studi lain di Denmark menemukan hasil sebaliknya. Masih diperlukan studi lebih lanjut untuk menentukan hubungan yang pasti antara terapi fluoroquinolone dengan risiko penyakit katup jantung. Sementara itu, penggunaan fluoroquinolone pada pasien haruslah mempertimbangkan manfaat dan potensi risiko, serta dengan pengawasan terhadap berbagai potensi efek samping kardiovaskular serius.

Referensi