Pemberian Dexamethasone untuk Mempercepat Waktu Pemulihan Anak dengan Pneumonia Komuniti

Oleh :
dr. Hunied Kautsar

Community-acquired pneumonia (CAP) adalah infeksi serius yang banyak menyerang anak-anak sehingga obat yang bisa mempercepat penyembuhannya menjadi penting, salah satu yang sedang diteliti saat ini adalah dexamethasone.

Pada CAP, bakteri atau virus yang masuk ke dalam ruang alveolar akan menimbulkan respon inflamasi yang kompleks. Adanya migrasi netrofil dan makrofag ke dalam alveolus yang terinfeksi, fagositosis terhadap bakteri patogen dan dilepaskannya sitokin proinflamasi adalah tanda-tanda fase akut dari host yang terinfeksi. Proses inflamasi ini terjadi secara alami dan menguntungkan pasien jika dapat dilokalisasi. Inflamasi yang berlebihan dapat memperburuk keadaan pasien dan berujung pada rusaknya lung parenchyma, bahkan di beberapa kasus yang parah dapat menyebabkan gagal napas dan syok sepsis.[1]

Depositphotos_164072492_m-2015_compressed

Kortikosteroid Sebagai Adjunctive Therapy Pada Pasien Anak dengan CAP

  • Kortikosteroid adalah anti inflamasi yang paling poten. Kortikosteroid dapat mengontrol jumlah sitokin sehingga inflamasi yang terjadi tidak berlebihan.
  • Beragam uji acak terkendali diadakan untuk membuktikan manfaat kortikosteroid sistemik sebagai adjunctive therapy pada pasien anak yang mengalami CAP.
  • Kortikosteroid sebagai adjunctive therapy pada pasien anak yang mengalami CAP juga sudah diterapkan di beragam rumah sakit, namun jenis kortikosteroid yang dipakai sangat bervariasi.
  • Kortikosteroid yang dipakai dalam uji acak terkendali maupun terapi di rumah sakit meliputi dexamethasone, methyl-prednisolone, hydrocortisone, prednisolone dan prednison[2]
  • Hasil studi kohort retrospektif terhadap 38 rumah sakit anak di Amerika pada tahun 2011, penggunaan kortikosteroid, salah satunya dexamethasone, pada anak-anak yang menjalani rawat inap akibat CAP menunjukkan bahwa secara umum durasi rawat inap bagi anak-anak yang mendapat kortikostreoid lebih pendek jika dibandingkan dengan anak-anak yang hanya mendapatkan antibiotik. [2]
  • Namun durasi rawat inap yang lebih pendek hanya terlihat dari pasien anak-anak dengan CAP yang mendapatkan terapi concomitant β-agonist, yang dalam penelitian tersebut diasosiasikan dengan adanya gejala acute wheezing. [2]
  • Pada pasien anak dengan CAP tanpa gejala acute wheezing, penambahan kortikosteroid menunjukkan durasi rawat inap yang lebih lama dan kemungkinan yang lebih besar untuk dirawat inap kembali di kemudian hari.[2]
  • Tagarro (2017) mengadakan uji acak terkendali yang melibatkan beberapa rumah sakit pendidikan di Spanyol untuk melihat manfaat dari dexamethasone sebagai adjunctive therapy bagi anak-anak dengan diagnosis CAP yang disertai efusi pleura.[3]
  • Penelitian ini melibatkan 60 anak dengan rentang usia 1 bulan hingga 14 tahun dan memakan waktu selama 55 bulan. [3]
  • Dari penelitian ini ditemukan bahwa anak-anak yang mendapatkan dexamethasone (sebagai adjunctive therapy) secara intravena dengan dosis 0,25mg/kg-bb setiap 6 jam selama 48 jam memiliki durasi time-to-recovery yang lebih pendek secara signifikan jika dibandingkan dengan kelompok kontrol. [3]
  • Median dari time-to-recovery kelompok yang memperoleh dexamethasone adalah 109 jam, sedangkan kelompok kontrol adalah 177 jam.
  • Untuk mencapai recovery dalam penelitian ini, ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi yakni SpO2 >92%, suhu tubuh <37°C, hilangnya gangguan pernafasan, oral intake, resolving pneumonia (kriteria ini tidak dielaborasi lebih lanjut), dan tidak ada lagi prosedur invasif.
  • Pada penelitian ini, time-to-recovery tidak diasosiasikan dengan durasi rawat inap karena menurut peneliti, durasi rawat inap dipengaruhi oleh beragam faktor lain.
  • Untuk mendapatkan hasil yang maksimal dari pemberian dexamethasone sebagai adjunctive therapy pada anak-anak dengan CAP, dexamethasone diberikan sedini mungkin, dalam penelitian yang diadakan oleh Tagarro (2017), dexamethasone diberikan dalam rentang 12 jam setelah diagnosis.[3]
  • Penambahan dexamethasone dinilai tidak efektif bagi anak-anak yang menderita CAP dengan efusi pleura yang parah (cairan pleura yang sudah terinfeksi atau mengental).[3]
  • Uji acak terkendali yang dilakukan di India oleh Iqbali (2017) melibatkan 100 anak usia 1-14 tahun dengan diagnosis CAP yang terbagi atas 2 kelompok yakni kelompok perlakuan yang mendapatkan dexamethasone sebagai adjunctive therapy dan kelompok kontrol yang hanya mendapatkan antibiotik. [4]
  • Berbeda dengan penelitian sebelumnya[3], penelitian yang diadakan oleh Iqbali memakai dosis dexamethasone sebesar 0,3mg/kk-bb selama 4 hari.[4]
  • Hasil dari penelitian ini menyatakan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara kelompok yang menerima dexamethasone sebagai adjunctive therapy dengan kelompok kontrol dalam durasi rawat inap [4].
  • Dibutuhkan penelitian lebih lanjut dengan jumlah sampel yang lebih banyak untuk membuktikan manfaat dexamethasone dan kortikosteroid lainnya sebagai adjunctive therapy dalam perawatan CAP pada anak.
  • Dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk menemukan dosis dexamethasone atau kortikosteroid lain yang tepat untuk digunakan sebagai adjunctive therapy dalam perawatan CAP pada anak.

Safety of Corticosteroids as Adjunctive Therapy for Patients with CAP

  • Studi meta analisis terhadap 10 uji acak terkendali yang mencakup 1780 kasus CAP pada pasien dewasa menyatakan bahwa kortikosteroid sebagai adjunctive therapy pada perawatan pasien CAP secara garis besar tidak meningkatkan resiko komplikasi yang serius.[5]
  • Studi meta analisis lain terhadap 8 uji acak terkendali yang melibatkan 528 pasien dewasa dengan severe CAP menyatakan bahwa pemberian kortikosteroid sebagai adjunctive therapy dinilai aman dan bermanfaat bagi pasien dewasa dengan severe CAP.[6]
  • Dibutuhkan studi lebih lanjut mengenai keamanan dari kortikosteroid sebagai adjunctive therapy dalam penanganan kasus CAP pada anak-anak karena uji acak terkendali yang sudah diadakan memiliki sampel yang terlalu kecil untuk dapat menilai tingkat keamanan maupun melihat efek samping dari pemberian kortikosteroid sebagai adjunctive therapy.[3]

Referensi