Anjuran Antibiotik untuk ISK pada Populasi Geriatri

Oleh :
dr. Immanuel Natanael Tarigan

Infeksi saluran kemih (ISK) merupakan salah satu penyakit yang paling banyak diderita oleh pupulasi geriatri. Penggunaan antibiotik pada penatalaksanaan ISK pada populasi ini memerlukan pendekatan yang berbeda.

Infeksi saluran kemih (ISK) merupakan infeksi bakteri terbanyak yang dialami oleh populasi geriatri. Diperkirakan 20% wanita dan 10% pria berusia di atas 65 mengalami bakteriuria, dibandingkan usia muda hanya 5% pada perempuan dan kurang dari 0,1% pada pria. Kejadian ISK ini sangat dipengaruhi oleh tempat tinggal dan mobilitas penderitanya.[1]

urine sample

ISK pada geriatri menjadi permasalahan penting untuk dipahami dokter adalah karena prevalensinya yang meningkat, juga tantangan dalam pengobatannya. ISK pada populasi geriatri memiliki patogenesis yang berbeda dibanding ISK pada orang dewasa muda. Pertimbangan lain yang harus dipikirkan oleh dokter adalah berbagai kondisi dan komorbid yang mungkin dialami oleh geriatri. Polifarmasi adalah masalah lain yang harus menjadi perhatian dokter saat memberikan tata laksana.

Definisi Dan Faktor Predisposisi

Infeksi saluran kemih (ISK) pada geriatri didefenisikan sebagai infeksi pada saluran kemih mulai dari glomerulus hingga meatus uretra eksterna yang bermanifestasi klinis dan dibuktikan dengan didapatkannya mikroorganisme penyebab infeksi urin.[1,2]

Diagnosis ISK dapat ditegakkan pada kasus asimptomatik bila ditemukan mikroorganisme > 105 CFU (colony forming unit)/mL pada dua kali pemeriksaan urin berturut-turut. Bila pada pasien ditemukan gejala pielonefritis atau demam atau gejala genitourinaria lainnya harus ditemukan > 104 CFU/mL pada pemeriksaan kultur, atau > 103 CFU/mL pada pemeriksaan kultur bila disertai dengan gejala ISK bagian bawah.[2]

Secara histologi, populasi geriatri memiliki kerentanan yang lebih tinggi mengalami ISK. Populasi geriatri mengalami perubahan imunitas seluler, perubahan tahanan pada kandung kemih akibat uropati obstruktif, disfungsi kandung kemih, peningkatan kerentanan infeksi bakteri pada sel uroepitel, peningkatan kontaminasi akibat inkontinensia urin atau fekal, serta penurunan komponen antibaterial. Beberapa faktor risiko meningkatnya ISK pada geriatri adalah status imunitas dan diabetes. Perempuan biasanya memiliki risiko yang lebih tinggi. Faktor risiko lain yang meningkatan infeksi saluran kemih adalah status gizi kurang, gangguaan kognisi seperti demensia, depresi, dan gangguan mood. Pada kasus ISK berulang, batu saluran kemih merupakan faktor risiko yang harus dipertimbangkan.[2]

Strategi Penanganan ISK pada Geriatri

Penanganan infeksi saluran kemih (ISK) pada geriatri dapat dilakukan dengan pendekatan non farmakologis dan farmakologis. Etiologi penyebab harus mendapat penatalaksanaan. Evaluasi terhadap inkontinensia urin harus dilakukan. Pasien juga harus dipastikan mendapat nutrisi yang adekuat. Bila pasien dirawat inap, harus dilakukan program aktivitas sehingga pasien tidak imobiliasi dalam jangka panjang.

Penggunaan antibiotik pada ISK geriatri disesuaikan dengan etilogi penyebabnya. Bila ada hasil kultur, maka antibiotik definitif diberikan sesuai dengan hasil kultur. Bila tidak dilakukan kultur, pilihan antibiotik disesuaikan dengan pola kuman setempat.

Gambaran bakteri etiologi penyebab ISK berbeda pada pasien tua dan muda. Pada populasi geriatri E. coli merupakan salah satu etiologi terbanyak. Bakteri E. coli merupakan etiologi 90% pasien ISK geriatri pada rawat jalan dan 45% pasien ISK geriatri pada rawat inap. Selain itu, bakteri gram negatif juga bisa menyebabkan ISK pada geriatri, seperti Proteus, Klebsiella, Enterobacter, Serratia, Pseudomonas spp. dan Enterococci. Staphylococcus saprophyticus walaupun lebih jarang.[1]

Penatalaksanaan ISK tanpa komplikasi pada orang geriatri sama dengan modalitas terapi pada perempuan muda. Menurut The International Clinical Practice Guidelines oleh Infectious Disease Society of America and the European Society for Microbiology and Infectious Diseases tahun 2010, pilihan antibiotik utama untuk mengatasi ISK geriatri adalah nitrofurantoin 100 mg, 2 kali sehari selama 5 hari. Pilihan terapi lain adalah trimetropim-sulfametoksasol 160/800 mg, 2 kali sehari selama 3 hari. Angka resistensi bakteri E. coli terhadap nitrofurantoin cukup kecil. Nitrofurantoin dikontraindikasikan pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal.[3,4]

Di Indonesia, trimetropim-sulfametoksasol menjadi pilihan untuk penanganan ISK pada geriatri. Pilihan antibiotik lainnya adalah golongan beta laktam dan sefalosporin, tetapi sudah ditemukan kecenderungan resistensi untuk kedua golongan anti bakteri ini. Antibiotik golongan lain yang cocok untuk pasien geriatri adalah kuinolon, tetapi belakangan ini dilaporkan bahwa golongan ini memiliki angka resistensi yang cukup tinggi.[2,5] Menurut panduan, pemberian fosfomisin 3 gram dosis tunggal dapat diberikan sebagai alternatif, walaupun efikasinya lebih rendah dibanding regimen lainnya.[6]

Tidak direkomendasikan untuk memberikan antibiotik sebagai penatalaksanaan bakteruria asimptomatik dengan atau tanpa piuria pada populasi geriatri. Panduan juga tidak merekomendasikan untuk melakukan pemeriksaan rutin bakteriuria pada populasi risiko tinggi. Penatalaksanaan bakteruria asimtpomatik hanya dianjurkan pada pada pria geriatri yang akan menjalani reseksi prostat trans uretra (TURP) dan prosedur urologi lain yang dapat menyebabkan perdarahan mukosa.[5]

Lama Pemberian dan Faktor yang Mempengaruhi Terapi

Pemberian antibiotik pada pasien geriatri disesuaikan dengan kondisi pasien. Hal-hal yang perlu dipertimbangkan oleh dokter dalam menentukan lama pemberian obat adalah komorbiditas, polifarmasi, penurunan fungsi ginjal, dan fungsi hati. Pasien lansia biasanya mengonsumsi obat-obatan untuk penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes mellitus, atau antikoagulan. Sangat penting bagi dokter untuk meneliti kemungkinan interaksi obat saat menatalaksana ISK pada populasi ini. Pemberian obat juga harus memperhitungkan kelarutan obat, perubahan komposisi tubuh pada geriatri, kadar albumin, dan toleransi obat.

Sebuah review yang dilakukan terhadap 15 penelitian mengenai penggunaan antibiotik pada pasien geriatri dengan infeksi saluran kemih (ISK). Sebanyak 7 dari 15 penelitian ini membandingkan antibiotik yang sama dengan durasi penggunaan yang berbeda. Pada hasil review ditemukan bahwa terdapat peningkatan kejadian ISK persisten, dibuktikan dengan kultur urin 2 minggu pasca terapi, pada pasien geriatri yang mendapat terapi dosis tunggal dibandingkan terapi jangka pendek. Evaluasi jangka panjang menemukan risiko kejadian ISK persisten sama pada kedua kelompok.  Penelitian juga menemukan bahwa tidak terdapat perbedaan angka kejadian kegagalan klinis pada penggunaan terapi tunggal dibandingkan penderita yang mendapatkan terapi jangka pendek. Juga tidak ditemukan perbedaan yang signifikan tingkat infeksi ulang ataupun kepuasan pasien. [1]

Pada review ini juga ditemukan bahwa pemberian antibiotik jangka panjang secara signifikan menurunkan kejadian ISK persisten 2 minggu pasca terapi, tetapi tidak pada follow up yang lebih panjang. Penelitian juga menemukan bahwa tidak ada perbedaan efek samping pengobatan pada kedua jenis terapi. Namun, pasien lebih merasa puas pada penggobatan dosis tunggal dibandingkan pengobatan jangka panjang. Terdapat perbedaan secara statistik yang bermakna pada variabel ini.[1]

Panduan The International Clinical Practice Guidelines oleh Infectious Disease Society of America and the European Society for Microbiology and Infectious Diseases tahun 2010 menyebutkan bahwa pemberian antibiotik yang dianjurkan adalah 3-5 hari.[5] Di Indonesia antibiotik umumnya diberikan selama 7 hari. Pada kasus yang berat atau dengan penyulit, antibiotik diberikan hingga 14 hari. [2]

Kesimpulan

Pendekatan penatalaksanaan infeksi saluran kemih (ISK) pada populasi geriatri berbeda dengan kelompok usia lainnya. Hal yang perlu dipertimbangkan dalam penatalaksanaan adalah komorbiditas, polifarmasi, penurunan fungsi ginjal, dan fungsi hati.

Penanganan ISK yang direkomendasikan adalah menggunakan trimetropim-sulfametoksasol 160/800 mg 2 kali sehari selama 3 hari, atau nitrofurantoin 100 mg 2 kali sehari selama 5 hari. Alternatif lainnya adalah golongan beta laktam dan sefalosporin.

Tidak dianjurkan memberikan terapi antibiotik pada pasien dengan bakteriuria asimptomatis. Penelitian menemukan bahwa penggunaan obat dosis tunggal memang lebih memberikan kepuasan pada pasien, namun memiliki angka ISK persisten yang lebih tinggi.

Referensi