Penggunaan Antibiotik Profilaksis Pada Anak dengan Infeksi Saluran Kemih Berulang

Oleh dr. Yelvi Levani

Pemberian antibiotik profilaksis pada anak dengan infeksi saluran kemih (ISK) berulang masih menjadi perdebatan. Infeksi saluran kemih merupakan salah satu infeksi yang sering terjadi pada anak-anak. ISK terjadi pada 8% anak perempuan dan 2% anak laki-laki dengan tingkat rekurensi 10% sampai 30% dalam rentang usia 7 tahun pertama. [1]  Sekitar satu dari tiga anak-anak yang didiagnosis ISK memiliki refluks vesiko ureter (RVU). RVU dapat terjadi unilateral maupun bilateral dan memiliki derajat ringan (I) sampai berat (IV), insidensi RVU pada populasi umum berkisar 1-3%.[2] Adanya RVU dan ISK berulang diketahui berkaitan dengan peningkatan risiko terbentuknya jaringan parut ginjal.[3]

Faktor Risiko Terjadinya Infeksi Saluran Kemih Berulang Pada Anak

Sebuah studi kohort yang dilakukan pada tahun 2007 mengidentifikasi faktor risiko terjadinya infeksi saluran kemih (ISK) berulang pada anak. Studi ini melaporkan bahwa etnis Kaukasia, usia 3-5 tahun, dan RVU derajat berat akan meningkatkan risiko terjadinya ISK berulang.[4] Selain daripada itu, di antara anak laki-laki yang menderita ISK, dilaporkan bahwa 19% akan mengalami ISK berulang apabila tidak disirkumsisi dibandingkan 0% apabila disirkumsisi.[5]

child pill

Pro Kontra Pemberian Antibiotik Profilaksis Pada Anak Dengan Infeksi Saluran Kemih Berulang

Pemberian antibiotik profilaksis pada anak dengan infeksi saluran kemih berulang (ISK) masih menjadi perdebatan. Pemberian antibiotik profilaksis dosis rendah dalam jangka panjang secara tradisional diyakini dapat mencegah terjadinya ISK berulang serta komplikasi jangka panjang pada anak dan neonatus.[6] Tetapi efektivitas antibiotik profilaksis tersebut masih dipertanyakan mengingat studi yang ada masih menggunakan jumlah sampel sedikit. Selain itu penggunaan antibiotik profilaksis jangka panjang dapat meningkatkan terjadinya risiko resistensi bakteri akibat ketidakpatuhan konsumsi antibiotik, serta meningkatkan risiko efek samping reaksi obat antibiotik baik ringan maupun berat.

Sebuah studi dilakukan di Australia untuk mengetahui efektivitas antibiotik profilaksis pada ISK. Studi tersebut melibatkan 576 pasien anak, 64% diantaranya adalah anak perempuan, 42% diketahui mengalami RVU dan 71% dilibatkan saat didiagnosis ISK pertama kali. Pasien dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok yang mendapatkan antibiotik (2 mg trimetoprim dan 10 mg sulfametoksazol/kgBB) dan kelompok plasebo selama 12 bulan. Selama studi ISK terjadi pada 36 dari 288 pasien (13%) di kelompok yang mendapatkan antibiotik profilaksis trimetoprim-sulfametoksazol dan 55 dari 288 pasien (19%) di kelompok plasebo. Pada kelompok antibiotik, terdapat penurunan risiko menderita ISK berulang bila dibandingkan dengan kelompok plasebo. [7]

Metaanalisis terhadap enam studi yang melibatkan pasien dengan usia < 24 bulan tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan antara kelompok pasien yang mendapatkan antibiotik profilaksis dibandingkan kelompok plasebo, baik pada pasien tanpa RVU maupun pasien dengan RVU derajat I - IV.[8] Studi metaanalisis lain dilakukan terhadap tujuh randomized controlled trial (RCT) dengan total 1427 pasien dibawah usia 18 tahun menunjukkan bahwa pemberian antibiotik profilaksis tidak memberikan perbedaan yang signifikan dalam mencegah parut ginjal. [9]

Studi RCT lain yang melibatkan anak-anak usia 1 bulan- 3 tahun dengan RVU derajat ringan menunjukkan bahwa penggunaan antibiotik profilaksis tidak menurunkan insidensi ISK berulang. Walaupun demikian, perlu dicatat bahwa studi ini memiliki kekurangan yaitu tidak mengawasi kepatuhan konsumsi antibiotik subjek studi sehingga masih mungkin terdapat bias. [10] Namun, hasil studi ini sejalan dengan studi RCT lain yang melaporkan bahwa dapat terjadi resolusi spontan pada RVU derajat I (37,5%), derajat II (12,5%) dan derajat III (10,3%), sehingga profilaksis antibiotik mungkin tidak diperlukan.[11]

Pedoman National Institute for Health and Clinical Excellence (NICE) terbaru pada tahun 2017 merekomendasikan pemberian antibiotik profilaksis tidak diberikan secara rutin pada bayi dan anak yang menderita ISK pertama kali. Pemberian antibiotik profilaksis dipertimbangkan pada bayi dan anak dengan infeksi berulang. Bakteriuria pada bayi dan anak-anak yang tanpa gejala tidak disarankan untuk diberikan antibiotik profilaksis[12] Walaupun begitu, belum diketahui berapa lama waktu pemberian antibiotik profilaksis yang optimal. Pemberian antibiotik profilaksis bisa diberikan selama 3 - 4 bulan, tetapi bila kasus yang dihadapi termasuk ISK yang kompleks (adanya refluks dan obstruksi) maka pemberian antibiotik dapat diberikan lebih lama.[5]

Pemberian Profilaksis Pada Anak Dengan Infeksi Saluran Kemih Berdasarkan Konsensus IDAI

Berdasarkan konsensus yang dibuat oleh unit kelompok kerja nefrologi ikatan dokter anak Indonesia (IDAI) pada tahun 2011,  kebijakan pemberian antibiotik profilaksis pada infeksi saluran kemih anak diantaranya:

  • Antibiotik profilaksis tidak rutin diberikan pada anak dengan infeksi saluran kemih pertama kali
  • Antibiotik profilaksis tidak terindikasi pada infeksi saluran kemih demam yang tidak disertai dengan RVU atau hanya RVU derajat I dan II
  • Antibiotik profilaksis diberikan pada anak risiko tinggi seperti RVU derajat III-IV, uropati obstrukstif, dan berbagai kondisi risiko tinggi lainnya
  • Antibiotik profilaksis diberikan pada pielonefritis akut setelah pengobatan selesai
  • Antibiotik profilakasis dipertimbangkan pada infeksi saluran kemih berulang atau pada neonatus
  • Jika bayi dan anak yang mendapat antibiotik profilaksis mengalami reinfeksi, maka infeksi diterapi dengan antibiotik yang berbeda dan tidak menaikkan dosis antibiotik profilaksis tersebut [13]

Obat Antibiotik Yang Dapat Digunakan Untuk Profilaksis Infeksi Saluran Kemih Berulang

Antibiotik yang dapat digunakan untuk profilaksis diantaranya:

  • Trimetoprim : 1-2 mg/kgBB/hari

  • Sulfametoksazol : 5-10 mg/kgBB/hari

  • Sulfisoksazol : 5-10 mg/kgBB/hari

  • Cefalexin : 10-15 mg/kgBB/hari

  • Nitrofurantoin : 1 mg/kgBB/hari

  • Asam Nalidiksat : 15-20 mg/kgBB/hari

  • Cefaclor : 15-17 mg/kgBB/hari

  • Cefixime : 1-2 mg/kgBB/hari

  • Cefadroxil : 3-5 mg/kgBB/hari

  • Ciprofloxacin : 1 mg/kgBB/hari [13]

Kesimpulan

Infeksi saluran kemih (ISK) merupakan kasus yang sering dijumpai pada anak. ISK yang rekuren dapat merupakan penanda kelainan ginjal dan saluran kemih seperti refluks vesiko ureter (RVU) dan dapat memberikan komplikasi jangka panjang seperti hipertensi, parut ginjal dan gagal ginjal kronik. Pemberian antibiotik profilaksis untuk mencegah ISK pada anak masih menjadi perdebatan. Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan antibiotik profilaksis tidak memberikan keluaran yang berbeda bermakna dibandingkan plasebo pada penatalaksanaan ISK berulang pada anak. Antibiotik profilaksis dapat dipertimbangkan untuk diberikan pada anak dengan risiko tinggi.

Referensi