Komplikasi Sirkumsisi
Angka kejadian komplikasi sirkumsisi rendah bila dilakukan oleh tenaga medis yang terlatih. Komplikasi yang terjadi dapat berupa komplikasi ringan yang dapat ditangani secara konservatif hingga komplikasi berat yang memerlukan tindakan bedah lanjutan.[1-3,8]
Komplikasi akibat Anestesi
Komplikasi akibat anestesi lokal jarang terjadi, tetapi tetap perlu diwaspadai. Beberapa komplikasi yang dapat timbul meliputi:
- Methemoglobinemia, terutama pada penggunaan anestesi topikal tertentu
- Ruam atau reaksi alergi lokal
- Reaksi hipersensitivitas berat, seperti angioedema dan anafilaksis
- Toksisitas anestesi lokal akibat penyuntikan intravaskular yang tidak disengaja[1-4]
Komplikasi Dini
Komplikasi dini umumnya terjadi dalam beberapa hari pertama setelah tindakan dan sebagian besar dapat ditangani secara konservatif.
Perdarahan
Perdarahan merupakan komplikasi yang paling sering dijumpai setelah sirkumsisi. Sebagian besar kasus bersifat ringan dan dapat diatasi dengan penekanan langsung atau hemostasis yang adekuat. Perdarahan yang menetap perlu menimbulkan kecurigaan terhadap adanya gangguan koagulasi yang sebelumnya belum terdiagnosis.[1-3,8]
Infeksi
Infeksi luka operasi umumnya bersifat ringan dan dapat ditangani dengan perawatan luka yang baik disertai antibiotik topikal atau antibiotik oral bila diperlukan. Risiko infeksi dapat diminimalkan melalui teknik aseptik yang baik selama tindakan.[1-3]
Nyeri
Nyeri pascaoperasi umumnya ringan hingga sedang dan dapat dikontrol dengan analgesik, seperti paracetamol atau ibuprofen, sesuai usia dan kondisi pasien.[1-3]
Retensi Urin
Retensi urin dapat terjadi akibat nyeri, edema, atau balutan yang terlalu ketat. Kondisi ini biasanya membaik setelah penyebabnya diatasi.[1,2]
Komplikasi Jangka Panjang
Komplikasi jangka panjang umumnya berhubungan dengan penyembuhan luka atau teknik operasi. Komplikasi jangka panjang di antaranya:
- Stenosis meatus uretra (meatal stenosis) yang paling sering dilaporkan
- Adhesi penis (penile adhesion) dan skin bridge
- Sisa preputium berlebihan (redundant foreskin) atau hasil kosmetik yang kurang memuaskan
- Chordee akibat eksisi preputium yang berlebihan
- Fistula uretrokutaneus atau hipospadia iatrogenik
- Torsio penis
-
Fimosis sekunder, terutama pada pasien dengan buried penis atau penile web
- Nekrosis glans hingga amputasi glans penis (sangat jarang)[1-3,8]
Komplikasi berat, termasuk kematian, sangat jarang terjadi dan umumnya berkaitan dengan perdarahan masif, infeksi berat, atau komplikasi anestesi. Dengan seleksi pasien yang tepat, teknik operasi yang baik, serta perawatan pascaoperasi yang adekuat, sebagian besar komplikasi dapat dicegah.[1-4,8]
Direvisi oleh: dr. Hudiyati Agustini