Masuk atau Daftar

Alo! Masuk dan jelajahi informasi kesehatan terkini dan terlengkap sesuai kebutuhanmu di sini!
atau dengan
Facebook
Masuk dengan Email
Masukkan Kode Verifikasi
Masukkan kode verifikasi yang telah dikirimkan melalui SMS ke nomor
Kami telah mengirim kode verifikasi. Masukkan kode tersebut untuk verifikasi
Kami telah mengirim ulang kode verifikasi. Masukkan kode tersebut untuk verifikasi
Terjadi kendala saat memproses permintaan Anda. Silakan coba kembali beberapa saat lagi.
Selanjutnya

Tidak mendapatkan kode? Kirim ulang atau Ubah Nomor Ponsel

Mohon Tunggu dalam Detik untuk kirim ulang

Apakah Anda memiliki STR?
Alo, sebelum melanjutkan proses registrasi, silakan identifikasi akun Anda.
Ya, Daftar Sebagai Dokter
Belum punya STR? Daftar Sebagai Mahasiswa

Nomor Ponsel Sudah Terdaftar

Nomor yang Anda masukkan sudah terdaftar. Silakan masuk menggunakan nomor [[phoneNumber]]

Masuk dengan Email

Silakan masukkan email Anda untuk akses Alomedika.
Lupa kata sandi ?

Masuk dengan Email

Silakan masukkan nomor ponsel Anda untuk akses Alomedika.

Masuk dengan Facebook

Silakan masukkan nomor ponsel Anda untuk verifikasi akun Alomedika.

AI DAN SKP KHUSUS UNTUK DOKTER

Logout
Masuk
Download Aplikasi
  • Alomedika AI New
  • CME
  • Webinar
  • E-Course
  • Diskusi Dokter
  • Penyakit & Obat
    Penyakit A-Z Obat A-Z Tindakan Medis A-Z
Indikasi Sirkumsisi general_alomedika 2026-09-17T10:32:53+07:00 2026-09-17T10:32:53+07:00
Sirkumsisi
  • Pendahuluan
  • Indikasi
  • Kontraindikasi
  • Teknik
  • Komplikasi
  • Edukasi Pasien
  • Pedoman Klinis

Indikasi Sirkumsisi

Oleh :
dr. Pika Novriani Lubis
Share To Social Media:

Indikasi sirkumsisi dapat berupa indikasi medis maupun nonmedis. Indikasi medis yang paling sering meliputi fimosis patologis, parafimosis, balanitis atau balanopostitis rekuren, serta balanitis xerotica obliterans (BXO). Selain itu, sirkumsisi juga dapat dipertimbangkan pada anak dengan risiko tinggi infeksi saluran kemih tertentu. Di luar indikasi medis, sirkumsisi banyak dilakukan karena alasan agama, budaya, atau sosial.[1-4]

Fimosis dan Parafimosis

Fimosis adalah kondisi ketika preputium tidak dapat diretraksi melewati glans penis. Pada bayi dan anak kecil, sebagian besar kasus merupakan fimosis fisiologis akibat adhesi normal antara preputium dan glans, sehingga umumnya tidak memerlukan tindakan maupun retraksi paksa. Sirkumsisi diindikasikan pada fimosis patologis, yaitu bila terdapat jaringan parut, infeksi berulang, gangguan berkemih, atau balanitis xerotica obliterans.[1,2]

Parafimosis adalah keadaan ketika preputium yang telah diretraksi tidak dapat dikembalikan ke posisi semula sehingga menyebabkan edema dan dapat mengganggu aliran darah ke glans penis. Kondisi ini merupakan kegawatdaruratan urologi yang memerlukan reduksi manual segera. Setelah kondisi akut teratasi, sirkumsisi elektif dianjurkan untuk mencegah kekambuhan.[1,2]

Balanitis, Balanopostitis, dan Balanitis Xerotica Obliterans

Balanitis adalah peradangan pada glans penis, sedangkan posthitis merupakan peradangan preputium. Bila keduanya terjadi bersamaan disebut balanopostitis. Sebagian besar kasus ditangani secara konservatif dengan memperbaiki higiene, disertai terapi topikal atau antibiotik bila terdapat infeksi. Namun, balanopostitis yang berulang merupakan salah satu indikasi sirkumsisi.[1,2]

Balanitis xerotica obliterans (BXO), yang merupakan bentuk lichen sclerosus pada penis, dapat menyebabkan jaringan parut progresif hingga fimosis patologis. Pada kondisi ini, sirkumsisi merupakan terapi definitif yang direkomendasikan.[1,2]

Pencegahan Infeksi Saluran Kemih

Sirkumsisi tidak direkomendasikan sebagai tindakan rutin untuk mencegah infeksi saluran kemih (ISK) pada bayi laki-laki sehat karena risiko absolut ISK relatif rendah. Namun, tindakan ini dapat dipertimbangkan pada anak dengan risiko tinggi, misalnya kelainan saluran kemih seperti refluks vesikoureter atau kelainan kongenital tertentu yang meningkatkan risiko ISK berulang.[1,2]

Menurunkan Risiko Infeksi Menular Seksual

Sirkumsisi terbukti menurunkan risiko penularan HIV pada laki-laki heteroseksual di daerah dengan prevalensi HIV tinggi. Selain itu, sirkumsisi juga dikaitkan dengan penurunan risiko beberapa infeksi menular seksual, seperti infeksi HPV, sifilis, dan chancroid. Meskipun demikian, sirkumsisi tidak menggantikan upaya pencegahan lain, seperti hubungan seksual yang aman dan vaksinasi HPV.[4-7]

 

 

Direvisi oleh: dr. Hudiyati Agustini

Referensi

1. Ikatan Ahli Urologi Indonesia. Panduan Tata Laksana Urologi Pediatrik di Indonesia. Edisi IV. Jakarta: Ikatan Ahli Urologi Indonesia; 2022. (Ikatan Ahli Urologi Indonesia)
2. European Association of Urology. EAU Guidelines on Paediatric Urology. 2025 Edition. Arnhem, The Netherlands: European Association of Urology; 2025.
3. American Academy of Pediatrics Task Force on Circumcision. Male circumcision. Pediatrics. 2012;130(3):e756-e785. doi:10.1542/peds.2012-1990.
4. World Health Organization, Joint United Nations Programme on HIV/AIDS. Manual for Male Circumcision Under Local Anaesthesia. Geneva: World Health Organization; 2009.
5. Workowski KA, Bachmann LH, Chan PA, Johnston CM, Muzny CA, Park I, et al. Sexually transmitted infections treatment guidelines, 2021. MMWR Recomm Rep. 2021;70(4):1-187.
6. Centers for Disease Control and Prevention. HIV Risk Reduction Tool. Updated 2024.
7. Centers for Disease Control and Prevention. Human Papillomavirus (HPV): Clinical Information. Updated 2024.

Pendahuluan Sirkumsisi
Kontraindikasi Sirkumsisi

Artikel Terkait

  • Anestesi Umum vs Anestesi Lokal untuk Sirkumsisi Anak
    Anestesi Umum vs Anestesi Lokal untuk Sirkumsisi Anak
Diskusi Terkait
Anonymous
Dibalas 13 Juli 2026, 09:42
Post sirkumsisi cauterisasi bengkak, apakah normal?
Oleh: Anonymous
1 Balasan
Alo dokter, izin bertanya. Pasien anak 9 tahun konsul post sirkumsisi H6 dengan bengkak di area jam 10-14. Apa normal TS? Mohon arahannya.
Anonymous
Dibalas 03 Maret 2026, 20:27
Fimosis pada bayi perlu dilakukan sirkumsisi?
Oleh: Anonymous
3 Balasan
Alo dokter,saya ingin menanyakan mengenai fimosis pada bayi. Apakah kondisi fimosis bayi ,selama tidak menimbulkan tanda infeksi,belum perlu dilakukan...
dr.Mesias
Dibuat 16 Oktober 2025, 14:52
Kasus jarang, preputium menutup gland penis. kasus apa ini?
Oleh: dr.Mesias
0 Balasan
Alo dokter, hari ini ketemu pasien dengan preputium menutup total gland penis . Apakah ts ada yg tahu kondisi demikian disebut apa?

Lebih Lanjut

Download Aplikasi Alomedika & Ikuti CME Online-nya!
Kumpulkan poin SKP sebanyak-banyaknya!

  • Tentang Kami
  • Advertise with us
  • Syarat dan Ketentuan
  • Privasi
  • Kontak Kami

© 2024 Alomedika.com All Rights Reserved.