Indikasi Sirkumsisi
Indikasi sirkumsisi dapat berupa indikasi medis maupun nonmedis. Indikasi medis yang paling sering meliputi fimosis patologis, parafimosis, balanitis atau balanopostitis rekuren, serta balanitis xerotica obliterans (BXO). Selain itu, sirkumsisi juga dapat dipertimbangkan pada anak dengan risiko tinggi infeksi saluran kemih tertentu. Di luar indikasi medis, sirkumsisi banyak dilakukan karena alasan agama, budaya, atau sosial.[1-4]
Fimosis dan Parafimosis
Fimosis adalah kondisi ketika preputium tidak dapat diretraksi melewati glans penis. Pada bayi dan anak kecil, sebagian besar kasus merupakan fimosis fisiologis akibat adhesi normal antara preputium dan glans, sehingga umumnya tidak memerlukan tindakan maupun retraksi paksa. Sirkumsisi diindikasikan pada fimosis patologis, yaitu bila terdapat jaringan parut, infeksi berulang, gangguan berkemih, atau balanitis xerotica obliterans.[1,2]
Parafimosis adalah keadaan ketika preputium yang telah diretraksi tidak dapat dikembalikan ke posisi semula sehingga menyebabkan edema dan dapat mengganggu aliran darah ke glans penis. Kondisi ini merupakan kegawatdaruratan urologi yang memerlukan reduksi manual segera. Setelah kondisi akut teratasi, sirkumsisi elektif dianjurkan untuk mencegah kekambuhan.[1,2]
Balanitis, Balanopostitis, dan Balanitis Xerotica Obliterans
Balanitis adalah peradangan pada glans penis, sedangkan posthitis merupakan peradangan preputium. Bila keduanya terjadi bersamaan disebut balanopostitis. Sebagian besar kasus ditangani secara konservatif dengan memperbaiki higiene, disertai terapi topikal atau antibiotik bila terdapat infeksi. Namun, balanopostitis yang berulang merupakan salah satu indikasi sirkumsisi.[1,2]
Balanitis xerotica obliterans (BXO), yang merupakan bentuk lichen sclerosus pada penis, dapat menyebabkan jaringan parut progresif hingga fimosis patologis. Pada kondisi ini, sirkumsisi merupakan terapi definitif yang direkomendasikan.[1,2]
Pencegahan Infeksi Saluran Kemih
Sirkumsisi tidak direkomendasikan sebagai tindakan rutin untuk mencegah infeksi saluran kemih (ISK) pada bayi laki-laki sehat karena risiko absolut ISK relatif rendah. Namun, tindakan ini dapat dipertimbangkan pada anak dengan risiko tinggi, misalnya kelainan saluran kemih seperti refluks vesikoureter atau kelainan kongenital tertentu yang meningkatkan risiko ISK berulang.[1,2]
Menurunkan Risiko Infeksi Menular Seksual
Sirkumsisi terbukti menurunkan risiko penularan HIV pada laki-laki heteroseksual di daerah dengan prevalensi HIV tinggi. Selain itu, sirkumsisi juga dikaitkan dengan penurunan risiko beberapa infeksi menular seksual, seperti infeksi HPV, sifilis, dan chancroid. Meskipun demikian, sirkumsisi tidak menggantikan upaya pencegahan lain, seperti hubungan seksual yang aman dan vaksinasi HPV.[4-7]
Direvisi oleh: dr. Hudiyati Agustini