Cara Menyampaikan Kabar Buruk pada Pasien

Oleh :
dr. Josephine Darmawan

Menyampaikan kabar buruk atau breaking bad news masih menjadi tantangan dan beban tersendiri dalam praktik kedokteran. Dokter harus mempertimbangkan banyak faktor dalam menyampaikan kabar buruk. Cara, waktu, tempat, situasi, bahasa, pengetahuan, strategi, serta sikap dokter saat menyampaikan kabar buruk sangat menentukan respons dan dampak psikologis pasien maupun keluarga.

Tidak jarang, breaking bad news menjadi dilema yang dapat berujung konflik dalam praktik sehari-hari. Hal ini sering kali membuat dokter menunda, bahkan menghindar untuk menyampaikan kabar buruk.[1-3]

Depositphotos_157096654_m-2015_compressed

Menyampaikan Kabar Buruk

Keterampilan dalam menyampaikan kabar buruk telah diperhatikan sejak masa lampau. Hippocrates menyatakan bahwa dokter perlu sangat berhati-hati dalam menyampaikan kabar buruk karena dapat berdampak pada kondisi kesehatan pasien. Hal serupa juga diungkapkan oleh American Medical Association. Akan tetapi, dalam beberapa tahun terakhir, terjadi perubahan praktik kedokteran dari kedokteran paternalistik (doctor-centered) menjadi terpusat pada otonomi pasien, begitu juga dengan penyampaian berita buruk.[1-4]

Jika seorang dokter tidak terlatih dengan baik, breaking bad news dapat berdampak negatif terhadap pasien, keluarga, dan bagi dokter itu sendiri. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa 91% pasien setuju bahwa menyampaikan kabar buruk merupakan keterampilan yang sangat penting, tetapi hanya sekitar 40% dokter yang merasa memerlukan pelatihan untuk dapat menyampaikan kabar buruk secara efektif.[1-4]

Panduan atau pelatihan breaking bad news yang baik akan mencakup pendekatan yang berpusat pada pasien atau patient-centered, termasuk keluarga pasien. Pendekatan ini telah terbukti menghasilkan kepuasan pasien dan membuat dokter dianggap berempati, meluangkan waktu, memberikan dukungan, dan tidak dominan.[1-4]

Sebuah studi meneliti 270 pasien dengan berbagai jenis kanker dan stadium yang berbeda. Sebanyak 115 pasien menderita kanker stadium awal, sedangkan 115 sisanya berada dalam stadium lanjut. Hasil studi menunjukkan bahwa faktor yang sering dipertimbangkan pasien dalam menerima kabar buruk adalah kompetensi klinis dokter, komunikasi yang berpusat pada pasien atau patient-centered, informasi yang jelas dan langsung, serta menanyakan preferensi informasi kepada pasien.[2]

Menyampaikan kabar buruk tanpa mempertimbangkan preferensi pasien dapat dikaitkan dengan tekanan psikologis yang lebih tinggi pada pasien.[2]

Cara Menyampaikan Kabar Buruk

Untuk membantu dokter memberikan kabar buruk, dibuat beberapa protokol, seperti protokol SPIKES dan ABCDE. Protokol ini membahas mengenai pendekatan cara-cara yang baik dalam menyampaikan kabar buruk. Komponen protocol SPIKES adalah sebagai berikut:

Setting Up

Dokter perlu menyesuaikan kondisi dan situasi untuk menyampaikan kabar buruk, seperti ruangan tertutup, tempat duduk, dan waktu khusus.

Patient Perception

Dokter harus menggali terlebih dahulu apa yang pasien ketahui mengenai kondisi yang dialaminya

Invitation

Dokter harus menginformasikan bahwa ia memiliki kabar buruk dan mendapatkan persetujuan verbal pasien sebelum menyampaikan kabar buruk tersebut;

Knowledge

Dokter harus memiliki pengetahuan yang cukup akan kondisi pasien dan memberikan informasi kepada pasien tentang kondisinya dengan jelas, tanpa penggunaan jargon.

Emotions

Dokter harus mengerti dan berempati terhadap dampak emosional yang disebabkan kepada pasien.

Strategy

Dokter harus memberikan kesimpulan dan mengkonfirmasi kembali pemahaman pasien serta mendiskusikan langkah selanjutnya yang akan diambil bersama pasien.

Strategi lain adalah model ABCDE Rabow McPhee yang kurang lebih menggambarkan hal sama, dengan komponen berikut:

  • A-Advanced preparation atau persiapan yang matang: alokasi waktu, siap secara emosional sebelum pertemuan, tinjau data klinis yang relevan)
  • B-Build a therapeutic environment atau bangun lingkungan terapeutik: identifikasi preferensi pasien terkait cara breaking bad news

  • C-Communicate well atau berkomunikasi dengan baik: nilai pemahaman pasien tentang kondisinya, sampaikan kabar dengan kecepatan penerimaan pasien, hindari jargon medis, berikan waktu pada pasien untuk terdiam atau menangis, dan jawab pertanyaan pasien
  • D-Deal with patient and family atau menangani reaksi pasien dan keluarga: nilai dan tanggapi reaksi emosional pasien serta berempati terhadapnya
  • E-Encourage and validate emotions atau mendorong dan memvalidasi emosi: menawarkan harapan yang realistis berdasarkan tujuan pasien[1,2,4]

Dampak Menunda Menyampaikan Kabar Buruk

Waktu untuk menyampaikan kabar yang berkaitan dengan harapan hidup pasien sangat bervariasi. Dokter sering kali menunda untuk menyampaikannya, bahkan hingga satu bulan sampai satu minggu sebelum kematian pasien. Padahal, gantinya terapi kuratif atau intervensi yang bertujuan memperpanjang hidup, pasien dan dokter seharusnya lebih fokus mendiskusikan terapi paliatif untuk meningkatkan kualitas akhir hidup pasien.[3]

Di samping itu, dokter juga mengalami stres yang meningkat pada fase sebelum penyampaian kabar buruk. Menunda breaking bad news dapat menempatkan dokter pada peningkatan stres yang lebih lama. Temuan ini menunjukkan bahwa dokter harus belajar agar dapat menyampaikan kabar buruk dengan baik tanpa menundanya.[3]

Dokter-dokter di negara maju saat ini semakin jarang menunda memberikan informasi medis kepada pasiennya. Hal ini didasarkan pada konsep bahwa tanggung jawab utama seorang dokter adalah kepada pasiennya, sehingga segala keputusan medis yang dokter ambil harus berdasarkan pada kepentingan pasien.

Baik atas permintaan keluarga ataupun keputusan dokter sendiri, menunda pemberitahuan informasi medis dapat menghalangi pasien dalam pengambilan keputusan untuk menentukan tindakan yang ingin diambil. Penundaan ini dapat menempatkan pasien pada risiko yang lebih tinggi, seperti peningkatan biaya medis, dampak emosional yang lebih berat, serta pemburukan kondisi medis sewaktu yang tidak terduga.

Konsil Kedokteran Inggris atau General Medical Council United Kingdom (GMC UK) menekankan bahwa pasien harus senantiasa diberikan informasi medis dan segala perubahan terkait. Pasien memiliki hak untuk mengetahui kondisi medisnya dan turut serta dalam menentukan langkah selanjutnya, selama pasien tersebut kompeten secara medis.[2,5-8]

Kendala dalam Menyampaikan Kabar Buruk

Banyak hal yang dapat menghalangi atau menunda dokter memberitakan kabar buruk kepada pasiennya, baik dari sisi dokter maupun dari pihak pasien. Faktor-faktor yang sering menjadi penyebab menunda menyampaikan kabar buruk adalah:

Faktor Dokter

Menyampaikan kabar buruk mengharuskan dokter memiliki beberapa keterampilan. Beberapa kendala pada sisi dokter sering kali ditemui, seperti:

  • Kurangnya latihan menyampaikan kabar buruk
  • Keterampilan komunikasi yang kurang baik
  • Keterbatasan bahasa dan kurangnya waktu yang diluangkan dokter
  • Beban psikologis dokter: kelelahan, masalah pribadi, atau khawatir akan reaksi yang ditunjukkan pasien maupun keluarga
  • Human error: tidak familiar dengan keadaan pasien, jam kerja terlalu panjang sehingga kurang fokus

  • Kurang empati atau empati berlebih

Faktor Pasien dan Keluarga

Sering kali, beberapa faktor dari sisi pasien atau keluarga menjadi kendala bagi dokter untuk menyampaikan kabar buruk, diantaranya adalah:

  • Keinginan keluarga pasien karena khawatir pasien akan tertekan secara psikologis
  • Perbedaan kepentingan dan kebutuhan antara pasien dan keluarga
  • Kemungkinan reaksi pasien atau keluarga yang dapat berdampak buruk bagi kesehatan pasien
  • Latar belakang agama, suku, budaya, dan pendidikan[1-3,4,5]

Waktu yang Tepat untuk Menyampaikan Kabar Buruk

Keputusan dokter dalam kasus di atas dapat dipahami. Dokter menginginkan pasien dapat menjalani saat yang menyenangkan bersama keluarganya dan menunggu saat yang lebih tepat untuk menyampaikan berita tersebut. Waktu yang tepat memang merupakan komponen yang penting dalam penyampaian kabar buruk.

Pasien menginginkan agar dokter dapat mengalokasikan waktunya untuk menyampaikan tentang kondisi kesehatannya. Selain itu, situasi dan kondisi juga harus mendukung. Akan tetapi, hal ini tidak menjadikan penyampaian informasi medis dapat ditunda. Dokter harus memahami bahwa tidak ada waktu yang benar-benar tepat untuk menyampaikan kabar buruk. Menunda menyampaikan kabar buruk pada pasien terminal sering kali tidak bermanfaat bahkan memperburuk kualitas hidup pasien.

Keluarga pasien maupun dokter tidak seharusnya menentukan apakah pasien siap secara mental dalam menerima berita buruk. Pasien yang sudah sejak lama mengalami kondisi tertentu sering kali lebih siap secara mental dibandingkan keluarga maupun dokter dalam menghadapi kondisi yang diderita.[6,7]

Pertimbangan dalam Menyampaikan Kabar Buruk

Menyampaikan kabar buruk pada pasien akan terus menjadi isu dalam praktik dan etika kedokteran. Keputusan dokter untuk menunda menyampaikan informasi medis dalam keadaan tertentu tidak dapat sepenuhnya disalahkan. Di sisi lain, menyampaikan kabar buruk medis secepatnya dalam segala situasi tanpa mempertimbangkan keadaan pasien juga tidak dapat sepenuhnya dibenarkan.

Setiap dokter dapat memiliki pandangan serta teknik yang berbeda dalam mengambil keputusan mengenai penyampaian informasi medis kepada pasien. Beberapa hal yang harus dipertimbangkan adalah waktu dan teknik penyampaian.[6-8]

Kesimpulan

Menyampaikan kabar buruk masih menjadi tantangan dalam praktik sehari-hari. Ketidaksiapan dokter akan respons pasien, kurangnya waktu yang diluangkan, serta keterampilan komunikasi yang kurang baik sering kali membuat breaking bad news tertunda. Tidak ada waktu yang benar-benar tepat. Namun, menunda menyampaikan kabar buruk sering kali tidak menghasilkan manfaat dan justru dapat berdampak negatif terhadap kualitas hidup pasien paliatif dan juga tekanan pada dokter.

Menunda menyampaikan kabar buruk juga dapat melanggar hak otonomi pasien untuk mengetahui segala informasi mengenai kondisinya. Pasien berhak untuk mengetahui kondisi medis yang dialami dan harus dilibatkan dalam pengambilan keputusan bersama akan langkah terapi yang akan diambil. Menyampaikan kabar buruk harus dilakukan dengan sebaik-baiknya dengan penuh empati, agar dukungan emosional dapat dirasakan pasien.

Keterampilan komunikasi yang baik, alokasi waktu, dan empati perlu ditingkatkan oleh dokter agar dapat menyampaikan kabar buruk dengan baik pada pasien dan keluarga.[2,5,8-10]

 

Direvisi oleh: dr. Ciho Olfriani, 2021

Referensi